Budaya Visual terhadap perubahan pola pikir (II)

Bismillahi.

Kajian hari ke 2

ITB,

Tiga budaya yang berkembang di masyarakat dari semula.

  • Oral Culture
  • Writing Culture
  • Visual Culture

~~ Oral Culture~~

Ciri-ciri dari kebudayaan Oral adalah;

  1. Kebudayaan dengan pola pikir mnemonic yang dibangun oleh kesiagaan orang dalam segala perforance
  2. Kebudayaan yang mendorong kefasihan, kegetolan bicara, dan kafasitas memori
  3. Cenderung menggunakan konsep2 bersifat situasional dan kontekstual di dalam dunia kehidupan.
  4. Budaya “verb motor” yang di bangun oleh kekuatan lisan dan interaksi manusia. (Walter J. Ong. Oral and Literacy.Routlegde. 2004)

** Writing Culture**

Ciri-ciri dari kebudayaan Writing adalah;

  • Kebudayaan dengan model pikiran yang disimpan dalam teks tertulis (writen text)mengganti memori lisan.
  • Budaya cetak melahirkan pandangan orisinalitas dan kreatifitas.
  • Dengan mengisolasi pikiran pada bidang tulisan tercabut dari penutur menjadikan tuturan menjadi otonom.
  • Budaya tulis mendorong pemikiran kritis (critical thinking) wacana ilmiah dan kemajuan teknologi (progress of knowledge)
  • Dunia tulisan bisa melatih nalas seseorang.

Awalnya pengetahuan datang dari dialog kemudian untuk berkembang dilanjutkan dengan penulisan agar bisa dinikmati selamanya.

^^Visual Culture^^

Ciri-ciri dari kebudayaan Visual adalah;

  • Didalam budaya visual, informasi, makna dan kesenangan dicari melalui mediasi teknologi visual. Didalamnya dimungkinkan manupulasi visual (visual simulation).
  • Kekuatan bicara di gantikan kekuatan visual: retorika oral digantikan retorika visual (visual rhetoric); narasi tekstual diganti dengan nasari visual (visual narative)
  • Budaya visual cenderung mendorong pemikiran instans, terputus2, dan bertahan seketika (ephomeral)
  • Budaya visual mematikan kemampuan imajinasi (imagination), karena ketersediaan segera (instantareous) segala informasi visual. (Chris Jenks. Visual culture. Routledge.1998.)

Pengertian Imajinasi, Fantasi.

Imajinasi: membayangkan sesuatu yang pernah terjadi

Fantasi: membayangkan sesuatu yang jauh belum terjadi.

Sedangkan dunia visual mematok imajinasi kita terhadap sesuatu karena sudah ditampilkan sosoknya, sehingga apa yang kita dengar/ baca tidak lagi bisa kita reka menjadi imajinasi karena sudah ada standar gambar.

Digital Narative

  • narasi adalah kerja pikiran dalam menyusun urutan peristiwa (sequences), baik dalam kehidupan nyata maupun representasi
  • Setiap narasi didalamnya mengandung pikiran, logika, dan rasionalitas.
  • Narasi dalam abad visual dibangun melalui simulasi ultra visual-digital.
  • Argumentasi budaya visual bukanlah melalui proposisi dan silogisme–seperti budaya tulis–melalui penampilan, citra dan retorika visual,wajah menarik, etc . (Richard Coyne. Technoromanticism; Digital naraative, holism, and the romance of the real. The MIT press. 1999)

Secondary Orality

  1. Budaya visual (khususnya TV) mematikan budaya tulis dengan merayakan kelisanan kedua.
  2. Budaya visual menggungkan kelisanan dan visualisasi secara dangkal, permukaan. (Walter J Ong. Orality and Literacy. Routledge. 2002. Neil Postman.Amusing ourselves to death. Penguinn Book. 1985)
  3. TV sebagai media menyampaikan informasi, menyampakan kebenaran secara objektivitas, namun tidak mementingkan kualitas, tapi retorika  dan kontroversial.

Cara kerja kognitif visual culture:

  • Open Ended
  • Collaborative
  • Simplicity
  • Tolerant
  • Nomad
  • Sharing
  • Dissociative
  • Hermenatic field
  • Incremental

Simplicity:

  • Budaya Visual mengganti kompleksitas dengan simplisitas. Dengan cara merayakan segala yang lisan, cepat, musah dicerna.
  • Budaya visual meminggirkan yang abstrak, teoritis, filosofis, dan komplek dengan pemikiran menampilkan yang lebih kongkrit, visual, dan pragmatis
  • Menghindari relasi kausalitas atau logika historis, dan cenderung menampilkan logika citra.

Collective Mind:

  • Budaya jejaring: Sebuah sistem dimana orang-orang melakukan aktivitas secara kolektive dalam jejaring (jaringan).
  • Identitas seseorang dibangun berdasarkan keanggotaan didalam komunitas virtual.
  • Kekuatan pikiran adalah pada sifat kolektivitasnya melalui cara kerja brainstorming dan sharing ideas dalam komunitas virtual (contoh wikipedia). (Alexander Bard. Netocracy the new power elite and life after capitalism. 2002)

Dalam dunia visual, indivisualitas adalah hal pertama yang terancam.

Incremental Knowledge.

  • Meori elektronik memberi kita jarak kritis yang menjadikan kita sebagai subjek yang tidak lagi beradapan dengan dunia objektif.
  • Objek kita dibebaskan dari aneka tugas kognitif, seperti mengingat, menganalisis, mengolah, dan menyimpulkan. Kita tidak lagi seseorang pekerja tetapi pemproses informasi, seorang pemain informasi. Akibatnya kita akan terbiasa dengan pelupaan karena tugas mengingat sudah didelegasikan.
  • Dan visualitas menjadi bentuk kecenderungan baru, seolah dia adalah Tuhan baru bagi manusia.

Nomad Literacy:

  • Didalam budaya tulisan , pengetahuan dan pikiran dibua fixed dalam sebuah teks. Didalam budaya visual pengetahuan selalu bergerak, berpindah, bertransformasi, dan tidak pernah fixed
  • Teks budaya tulisan adalah teks yang cair, lentur, licin, dengan pintu masuk dan pintu keluar yang selalu berpindah. Istilahnya adalah “teks rizomatic” (Deleuzeu & Guattari.Nomadology; semiotext. 1986)

Rizhome methode

  • Principle of conect
  • Principle of ruptore
  • Principle of Multiplicity
  • Growth to All deriction
  • Multiple root
  • No central power

Dissoliation:

  • Dimensi oleh televisual, memori, kesadaran dan persepsi tercabut dari pengalaman; persepsi menjadi scanning, berpikir menjadi processing, dan ingatan menjadi retrieval.
  • Padangan menjadi terpisah dari pengalaman dan dunia memperlihatkan sebuah kualitas deteralisasi
  • Yang ada adalah proses disasosiasi yaitu proses pemisahan kognitif dari pengalaman.
  • Keterlibatan langsung (involvement) digantikan keterlibatan jarak jauh (tele-involvement) secara emotional.

Tamasya Hermaneutik:

  • Narasi visual bersifat baku yang mengundang hermaneuticalcircle, sebuah proses terbuka penafsiran situasi, teks, image, karya seni, narasi.
  • Pembacaan narasi visual digital adalah proses tamasya hermaneutik yang bersifat terbuka, cair, fleksibel, dan interminate.
  • Orang mendekati sebuah teks dari sisi pintu hermeneutik yang liar.

Ini adalah kajian yang cukup panjang. Jadi tidak semua informasi terserap. maaf jika banyak hal yang tidak diterangkan.

Semoga bermanfaat.

Salam. Nonk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s