Analogi Jiwa dan Raga..

“Sempurna apa yang Allah Ta’ala ciptakan. Senja yang merona, Gelap yang luar biasa dan diantara masa itu lazuardy mengembangkan sayapnya begitu sendu di dunia ku, Seorang Raga yang tanpa Jiwa! ”

Aku menatap ke depan kosong. Aku sakitkan hati ku. Aku buka lembaran kisah yang usang seperti hidup dalam bayangan. Dia tidak mengijinkan aku untuk mengucapkan kata ” Aku bahagia tanpa mu”

Berganti setiap yang hadir dalam lembaran kitab kehidupan ku, terlebih chapter “cinta”… banyak tokoh yang bergabung menjadi pemeran baru, dan beberapa mengundurkkan diri. Seorang aktor terbaik, kesayangan mengundurkan diri beberapa waktu dulu, dan dialah konseptor cerita besar dalam hidup ku menuju masa depan. Sayang, dia tersingkir di 1/3 perjalanan. Namun pun sungguh aku adalah wanita yang hidup dalam bayangannya!

Setiap kali aku merasa mampu melupakannya, maka semua kisah dia menyembur ke permukaan ingatan. Dia asik menggoda ku. Aku mencoba tak bergeming. Aku biarkan rinduku padanya sebagai kafarat!! Hati ku remuk, dan aku yang sengaja yang membuatnya! Batin ku sakit, aku jadikan penebus dosa dari kemasiatan yang aku lakukan dengannya!

Detail aku menyusuri bayangan rautnya. Semua terasa benar. Warna kulitnya, tekstur kulitnya, semua!!

Bukan mudah aku menjalani kisah berpuluh masa lamanya. Dalam lingkaran maksiat dan bisikan syetan kita bermasyuk. Mengenang hal ini bukanlah hal yang benar, tetapi melupakannya pun terlalu sulit saat ini. Semua orang akan mencela ku, Bahwa aku tidak bersyukur!! aku hanya bisa menyakiti diri ku sendiri. Inilah aku. Saat orang memuja kesempuraan ku di mata mereka, sebenarnya mereka menginginkan kemunafikan ku. Dan disaat Allah membuka Aib2 ku, mereka mengucapkan aku munafik, yang senyatanya itu adalah sebenarnya diri ku!! aku terlahir menjadi manusia yang tidak lagi bertopeng!!

Demikianlah aku, sebuah raga yang selalu merindukan jiwa di semua sudut pandang orang menilai diri ku!!
Bagi ku, ini adalah kisah analogi antara raga dan jiwa

Semestinya raga dan jiwa itu adalah kesatuan agar memaujud menjadi makhluk sempurna! Raga tanpa jiwa adalah mayat. Dan jiwa tanpa raga adalah ruh. Saling berkembara tanpa kesempurnaan yang lengkap.

Aku adalah raga baginya! dan dia adalah jiwa bagi ku…
Aku tanpanya, maka disebut mayat..
sedangkan dia tanpa aku adalah ruh!
kami terus saling merindukan. Kami terus berharap bisa bertemu pada masa yang tepat untuk meleburkan perpaduan hingga kami menjadi sempurna. Eliminasi antara yang fana dan yang Baqa~!

Kami seperti sepasang dari semulanya!
Banyak jiwa yang datang dan pergi namun aku hendak melewatkannya! Pun banyak raga yang menghiba jiwa, dia pun membuat keputusan “bukan engaku yang ku inginkan”..

Duhai jiwa, kita membiarkan banyak kebahagiaan terlewat dengan penantian kita yang sia-sia!

Wahai Tuhan, rasa ini besar, aku sempoyongan dalam gelisah! aku terkadang tidak kuasa menahannya.
Ya_Rabb, jika benar dia bukanlah jiwa yang layak untuk mengisi raga ku, maka hilangkanlah… Dan jika dia adalah jiw ayang layak menempati raga ku, kenapa kami begitu sulit untuk memawujud?! Engkau seperti menitipkan rasa benci pada kami..Pun Engkau suburkan rindu dimasa-masa yang lain.. Aku tidak bisa mencukupkan keyakinan bahwa disetiap hal ada hikmah…logika ku meminta kepastian yang kasat!!

Jiwa, cinta ku pun kebencian ku!
Aku merindukan mu, selayaknya dulu ketika suka itu menyubur laiknya jamus di musim penghujan! Setiap gerak mu abadi di kelopak mata ku yang terkatup rapat tak kuasa terbuka karena hasrat tak rela melenyapkan engkau di sisa kenangan terhidupkan pada sebuah raga tanpa nyawa!!

Aku menyadari setiap kejadian tidak ada yang luput dari penjagaan Allah, demikian pun perang diantara kita!!

Kita berperang!!

KIta, terlebih aku..sangat malas untuk mengakui bahwa akuu membutuhkan mu! aku merindukan mu! terlalu sulit mengubur semua yang tersisa! tengoklah hati ku, semua masih utuh diri mu yang terharapkan!!

Aku bisa menyembunyikan perasaan ku pada dunia, tapi aku tidak bisa menyembunyikan apa pun pada TUhan! Tuhan tau pengharapan ku! Tuhan atu ketidak berdayaan ku, sehingga aku tidak berani memasukan mu dalam maujud ku! jika saja aku mau mengakuinya beberapa waktu silam, dan sekarang…aku tak akan melepaskan mu meski hanya sekejap!!

Dan Tuhan, ku iman-i memiliki rencan terbaik…

Rapih. Aku menyusun cinta, mengurai nama mu pada setiap lembaran kisah terbaik! aku tidak mengukir nama siapa pun setelahmu! bukan saat ini…
Di setiap sudut yang pernah terlalui atau hal yang serupa..aku hidup dengan air mata tanpa makna!

Duhai jiwa,
Kebahagian mu adalah jalan lurus yang akan menghantarkan ku pada sunyi yang baik. Jika engkau menemukan raga yang pantas, jangan kabari aku, karena aku akan sedikit sakit. Cukup aku memiliki mu dalam kenangan beberapa masa silam saja!!

Raga yang mengembara tanpa jiwa. Penutup malam dari kesalahan yang membingungkan. Kau adalah dosa termanis bagi raga yang tak terjaga pandangannya.

Sebuah analogi untuk seorang (****) yang menjadi Ruh karena raga tak memberi kesan, meski raga menjadi mayat tanpa jiwa itu!!

Ketidakberdayaan dan kemunafikan adalah hijab kita!!

Yang selalu mengingat setiap sejarah kita dari hal terbaik sampai hal terburuk.
“Jika jodoh, itulah pernikahan kita. Dan setiap keterpisahan, selalu mengembalikan kita pada pertemuan. Semoga ini adalah jalan TUhan untuk menguji cinta kita” Demikian yang kau lirihkan sebelum perpisahan menjadi pilihan kita. (aku tau mungkin itu hanya kata pernghibur saja, toh kita telah menatap masa depan yang berbeda… dan itulah yang membuat sakit ini merajai kesenangan atas kepemilikian mu yang sesaat!!)

Namun begitu, aku tetap seorang raga yang merindukan mu sebagai jiwanya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s