Archives

Taman tanpa tanwil..

“Bawa pergi apa-apa yang bisa kau bawa, ambilah dari ku hal-hal yang telah kau renungkan, juga benar menurut mu” Mahatma Gandhi.

Aku bukan manusia sempurna yang bisa lepas dari kehinaan. Aku tau, selama perjalanan kita, engkau sering kecewa dan marah dengan semua sikap kekanak-kanakan ku. Aku tidak akan terus menerus meminta maaf, karena mungkin engkau pun bosan mendengarnya.

Sayang, kita belajar di masa yang sama. Dijaman yang sulit untuk sekedar dijalani dengan ilmu yang apa adanya.

Aku meluangkan waktu untuk merenungi hidup kita. Sudah dua tahun, atau sebenarnya hampir dua tahun, kita menikah. Bertengkar, berdamai, bukan hal yang luar biasa. Usia, itu yang orang tua kita bilang, ketika melihat wajah kita muram.

“Kalian masih sama-sama muda, usia kalian masih penuh emosi. Rumah tangga kalian pun baru seumur jagung. Jika ada masalah, jangan segera mengambil tindakan dengan emosi. Salah satu dari kalian harus mengalah. Menerima kenyataan bahwa satu diantara kalian pasti akan mengecewakan disuatu waktu tau bahkan melakukan kesalahan.. Bangunlah sakinah, mawadah dan warahmah itu dari sekarang.. meskipun tentu sulit..namun selama kalian berusaha, aku yakin kalian bisa!”

Keyakinan itu juga yang membuat ku bersedia memaafkan mu. Memeluk mu kembali ketika engkau dengan wajah sendu merayuku untuk menyudahi pertengkaran kita. Aku yakin, bahwa kita mampu mewujudkan sakinah, mawadah, warahmah dalam rumah tangga kita.

Kita memang hanya selisih beberapa bulan saja dalam usia. Anggaplah itu sama saja.. mungkin bukan hal yang aneh, jika tingkah laku kita pun masih serupa. Pemarah, pencemburu, egois.. ya, kadang menggelikan juga dengan itu.

Bahkan disaat marah pun kita terlihat seperti semuanya baik-baik saja. Engkau tidak pernah melepaskan pelukan mu, meskipun aku berusaha untuk menghindarinya karena sedang kesal. Aku akan terus menggerutu, menyebut mu sudah tidak sayang lagi pada ku. Dan engkau akan menjawabnya hanya dengan elusan dan kecupan di punggung ku yang melengkung tanda merajuk.

Saat bertengkar, saat aku benar-benar bisa merasakan bahwa cinta kita sangat berharga dan hangat. Kita menunda semua kesibukan kita untuk bertengkar. Saling menatap, berhadapan, bahkan meluangkan waktu sekedar makan bersama. Padahal sebiasanya, engkau selalu pulang larut, dan aku sudah cukup lelah mengurusi rumah dan menunggu. Mungkin bertengkar adalah jadwal dimana cinta kita bisa diungkapkan..

“Aku minta maaf sudah membiarkan mu beberapa waktu ini. Aku tidak tau bahwa engkau membutuhkan ku untuk membantu mu memperbaiki komputer, sayang.. sungguh.. aku minta maaf”

“Bukan hanya masalah komputer.. aku kesal karena engkau sudah benar-benar melupakan ku..”

Aku akan mengumpulkan tubuhku menjadi perempuan yang terlihat sepi dan menyedihkan. Lalu engkau mendekati ku dan merangkul ku, memindahkan tubuh ku ke pangkuan mu.

“Aku minta maaf.. Sungguh.. Aku mencintai mu.. jangan marahseperti ini.. ku mohon.. aku tidak bisa tenang dan memaafkan diri ku sendiri kalo engkau masih marah seperti ini.. maaf  aku?!” ..suara mu terdengar halus, kepalamu akan terkatuk di pundak ku..sangat dekat dan aku jelas mendengar nafas mu.

Aku masih menggulung bibir ku. Mata ku masih tidak mau mengenali tatapan penuh muslihat itu. Aku benci kamu, benci jika kamu merayu ku seperti ini.. karena aku pasti akan kalah dan memaafkan mu lagi..

“Okay?!.. maaf kan aku?!”

Engkau akan mulai mencecar bagian tubuh ku yang terdekat, sekedar menggelitik atau menciuminya. Aku melihat mata mu yang berpupil besar, jernih.

“Jangan seperti itu lagi.. janji?”

Meski itu semua percuma, aku ingin saja mengatakannya. Toh, biasanya perjanjian itu tidak berlaku lama. Lagi, kita akan sibuk dengan kesibukan kita masing-masing dan mulai saling menyakiti. Dengan berpura-pura sibuk, dengan bertingkah dingin.. kita layaknya pasangan suami istri yang tua.

Aku tau, usia pernikahan kita belum banyak membantu penyatuan dua manusia denan prinsip yang berbeda, dengan aktivitas yang berbeda untuk lebih memahami dan memaafkan keadaan masing-masing tanpa pertengkaran.

Namun aku yakin, kita bisa memperbaiki hubungan ini dengan seiring waktu dan rasa saling membutuhkan diantara kita. Termasuk itu cara tepat engkau belajar menambah kosakata baru untuk merayu ku ketika marah.

Sayang, Aku mencintai mu.. sangat mencintai mu.. dan aku percaya bahwa kita mampu memberi kesempatan pada pernikahan kita untuk tumbuh menjadi pernikahan yang bahagia penuh keberkahan.

Bawa pergi semua cinta ku dan apa-apa yang bisa kau bawa, hantarkan itu ke langit Tuhan  di dalam taman tanpa tanwilNya, lalu rawatlah agar berkembang di dekat sungai rindu para bidadari.. Ambilah dari ku hal-hal yang setelah kau renungkan, juga benar menurut mu.. karena aku bukanlah pengembara yang fasih dengan ilmu pengetahuan, aku hanya orang yang mencintai ilmu dengan segenap jiwanya.

Kekasih ku, Terimalah aku dengan kebenaran yang mampu kau cerna, dan maafkanlah aku dengan luasnya samudera kesabaranmu. Kita ikat kuat kitab takdir ini dengan do’a tulus, agar kisah cintanya menjadi sempurna tanpa ada bagian yang hilang atau terberai.

I love You..

 

With love,

Fathimah.

I miss my_umar..

Untuk kekasih yang malam-malam ku tergadaikan pada mu..

Wahai Umar, kemanakah risalah hati ini kan ku alamatkan?! Barisan kata lara yang ingin ku bagi, terbang membuih di udara gamang ku. Pelabuhan jiwa mu, masihkah hendak menyambut jangkar harap ku untuk tertambat disana. Menetap sebagai kekasih Umar seperti dulu kita berjumpa. Sebuah takdir yang diikat dengan do’a.

Umar, Aku menanggung rindu ini berseorang saja.. engkau ripuh dengan dunia mu. Melelapkan buaian rindu mu pada kertas-kertas yang berbaris, pada pena yang bagai lautan tak jua mengering untuk mu. Cahaya malam ini kusam sekali. Engkau tak datang ketika aku berduka. Meski ku rebahkan lelah di pangkuan bumi kepasrahaan. Kekuatan itu sama sekali tak membaik. Aku tetap tersesat. Aku merasakan nafas sunyi dalam kegembiraaan. Perih. Pedih, menanggung derita yang aku ceritakan pada mu, tapi engkau sama sekali tak memahaminya. Sungguh aku lah wanita yang tak tegar tanpa mu. Terlalu lama aku mencoba. Terlalau banyak yang ku damba. Yang tersisa hanyalah penat.

Lalu dada malam pun terasa sempit untuk ku jadikan tempat menuang luka. Menatap kembali suhuf Tuhan yang mulai keriting ujungnya. Mungkin karena aku sangat mencintai kitab itu. Sudah berapa lama aku senang sekali membaca “Ruh” itu dari kertas yang bersampul biru langit cerah. Sebenarnya sekarang sudah tidak cerah lagi.

Umar, Kenang aku dalam do’a mu, kekasih.. jika keterpisahan adalah yang terbaik bagi kita. Biarkan Fathimah ini setia, meski engkau tidak menyaksikannya. Aku bersaksi bahwa Tuhan memperhatikan ku. Siapa pun yang ingin menjauhkan mu dari ku. Dia akan akan menghadapi mayat ku. Dan siapa pun yang ingin meminang ku setelah mu, maka biarlah dia merasakan sakit seperti ku. Karena mata ini sudah buta semenjak engkau mengecupnya. Hanya ada diri mu dalam diri Fathimah.

Bagaimana berani seseorang berkata begini begitu tentang mu, sementara akulah yang paling mengenali mu. Dari jengkalan kulit sampai helaian rambut. Aku mengetahuinya. maka bagi mu, sebaik-baiknya kesetian itu adalah milik wanita ini. Ini adalah malam pada bulan kesekian dari mu. Aku terus menatap beberapa kali langit itu sabit, lalu bulat. Namun aku tidak kehabisan sabar untuk yakin, bahwa engkau pasti akan menemui ku kembali.

Duhai umar, Sebait kabar terakhir mu, sudah ku cukupkan sebagai keyakinan bahwa engkau setia. Menjadikan fathimah untuk alasan khalwat mu dengan Tuhan dipenuhi ketulusan untuk berharap. “Fathimah adalah untuk ku dan terbaik dari Mu bagi ku, Tuhan. Berkahilah kebersamaan dan cinta kami. Lindungi kami dari godaan Setan dan keburukannya. Amiin.”.

 

**Wanita yang dipenuhi rindu pada kekasihnya, Fathimah.

Happy Birth Day, Umar..

Hujan belum berhenti malam ini. Isya.

Teruntuk: Insan-san.

Bandung, 11 April 2011. *hitungan tanggal islam, bada maghrib itu sudah masuk tanggal baru.. 12 April 2011..

“Dia yang pertama, Dia yang terakhir , Dia yang lahir, Dia yang batin.. Allah Ta’ala yang dengan Rahman dan RahimnNya maka dunia ini dibuatNya seimbang”

Tidak ada seorang yang jatuh cinta, yang mencari penyatuan dalam kerinduannya, kecuali kekasihnya mencarinya. Cinta harus dialami, bukan dijelaskan, karena berada diluar deskripsi apa pun. Karena cinta, yang pahit menjadi manis; karena cinta, biji tembaga menjadi emas. Karena cinta noda menjadi hilang; karena cinta , rasa pahit menjadi obat. Karena cinta yang mati dibuat hidup; karena cinta, sang raja menjadi hamba. Cinta memiliki lima ratus sayap, dan setiap sayap mengembang dari atas langit hingga ke bawah bumi. Sehingga cinta itulah yang menghantarkan ku pada mu. Lalu cinta pula yang menghilangkan jarak dan ruang bagi ku untuk melunasi rindu.

Tabiat satu yang telah dipisahkan dalam dua kerangka raga, laki-laki dan perempuan, suatu ketika akan kembali melebur dalam moment terindah dari kehidupan.

^_^

Apa yang akan diceritakan oleh wanita ‘miskin’ ini tentang ‘tuan’ yang begitu dicintainya. Namun titah adalah kehendak ‘tuan’..maka dengan keterbatasan.. wanita ini pun menyebutkan bahwa.. lelaki ini adalah seseorang yang menjadi pendidiknya! Seorang yang membuatnya belajar.. seorang yang sering memberikannya keyakinan. Seorang yang membuatnya tertawa, terharu, sedih, senang, bahagia, kecewa.. seorang yang utuh dalam perannya. Meski antara wanita dan ‘tuan’ ini adalah dua orang yang saling bercermin dalam sifat2nya.

Untuk mu yang menjadikan ku ‘bintang’ di langit hatinya,

“Miladukassa’idah, Di.. semoga Usia ini menjadi ‘alarm’ bagi, mu.. dan keberkahan atas mu..” Amiin

Seperti biasa, pada ritual malam, kita akan menyamakan frekuensi do’a.. maka dengan niat yang tulus semoga kita termasuk yang mendapatkan nilta ma’ nilta dari Allah Ta’ala.

 

Mimpi ku adalah bisa selalu disamping orang yang ku cintai (Umar kesayangan_ku). Mendampinginya. Aku tak ingin menyulitkannya karena aku menyayanginya..karena dia berharga, aku ingin dia bahagia! Impiannya adalah impian ku. Dia berhasil mencapai impiannya..itulah impian ku yang sebenarnya.  Nonk (Fathimah yang setia untuk Umar kesayangannya).

 

^_^,

P.S : Happy Birth Day,Umar..

 

 

 

Fathimah mu adalah pencemburu..

Lalu Fathimah menulis surat

“Untuk Umar yang di hatinya hanya Allah semata.

Umar, tentu masa penantian ini sangat menggelisahkan mu, kita. Namun percayalah bahwa di balik semua ini banyak hikmah dan kesempatan bagi kita untuk belajar!

Kebaikan tidak semata datang dari benar-benar amal kebaikan, tapi juga bisa dari kesalahan. Seperti yang sering engkau katakan bahwa, dari salah satu kisah,..

“Menjadi orang yang tidak melakukan kesalahan itu baik. Namun tidak ada seorang keturunan Adam yang tidak pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baiknya keturunan Adam adalah yang melakukan kesalahan lalu belajar dan memperbaiki diri dari kesalahannya itu..”

Bahwa tidak ada yang salah dengan pernah berbuat salah, selama kita memperbaiki diri. Lalu engkau pun mewasiatkan pada ku,bahwa..
“Jangan sekali-kali engkau mengharapkan kebaikan dan perbaikan diri, selama engkau masih melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan kemaren”

Karena seorang hamba yang beruntung adalah hamba yang mampu berbuat lebih baik hari ini dari pada kemaren.

Umar, ini adalah pengantar surat dan pengingat ku atas semua wasiat-wasiat cinta yang kau tunjukan demi kebaikan ku.

Duhai yang menguatkan ‘Azam dengan do’a-do’a pada Tahajjud qudus..

Fathimah ini hanyalah wanita biasa yang mudah memiliki kecemburuan. Lalu kenapa, penolong agama ku ini selalu seperti ingin membuat ku cemburu!

Apa engkau suka waktu ku ini habis hanya dengan meratap dan ragu..kiranya engkau itu masih membenarkan pinangan mu atau sudah lupa?!

Engkau tau bahwa setiap kali aku menemukan mu dekat dengan seseorang aku terdiam. Janganlah lalu dianggap setuju dan baik-baik saja. Tidak, umar.. aku cemburu!!

Jika bukan perkataan mu..”Kita perjuangkan ‘Azam kita untuk segera melunasi kerinduan ini ya, Fathimah.. engkau selesaikan study mu..dan aku selesaikan tugas-tugas ku.. dan pada masa selesai semua itu, aku akan segera datang ke rumah mu untuk pernikahan kita..”

Mungkin aku sudah berpasrah diri. Aku ingin mundur, umar. Dalam lelah ku menyusun masa depan, dalam motivasi yang ku susun melalui nama mu.. aku ingin segera menyelesaikan kewajiban ku. Namun melihat mu yang seolah senang membuat ku cemburu. Ah.. aku tidak cukup baik untuk memahami bahwa ini adalah sebuah ujian.

“Bercerminlah pada mu..”
Aku sudah melakukannya. Lalu siapa yang harus ku jadikan cermin kemudian, Umar.. Engkau kah?! Yang selalu membalas setiap perbuatan ku dengan perbuatan yang sama, bahkan mungkin lebih. Aku mendapat angka satu untuk kesalahan itu, dan engkau menghukum ku dengan kegelisahan yang bertumpuk-tumpuk dengan pembalasan mu yang menyakitkan sesekali.

Apakah kita masih menjaga ‘azzam ini, umar?!
Apakah aku masih akan menjadi bidadari mu.. sementara engkau tidak mengijinkan ku untuk tenang dalam kekhusyuan menata niat ini.

Engkau yang matanya tertunduk kala “berjalan”..

Apakah kita masih satu jalan yang sama. Dimana menyirami keyakinan pada masa penantian ini dengan keikhalasan!! Atau kita sudah terobsesi untuk pembenaran versi kita.

Aku masih sangat menghargai mu dengan segenap kekurangan ku, Umar.. meski aku adalah seorang pencemburu!! Ku tinggalkan setiap orang-orang yang tidak engkau sukai. Aku melepas kebiasaan-kebiasaan yang engkau tidak sama sekali melihat manfaat itu dari ku. “Ku tundukan pandangan ku ketika berjalan, agar tidak sedikit pun ada sosok lain yang mencuri sudut hasrat ku selain mu..”
Boleh jika ku minta itu dari mu, Umar. Tanpa harus beralasan. Pandangan yang tertunduk karena malu pada ‘Azzam yang bulat kita sepakati, hanya ada kita tidak selainnya.

Ketika aku bertanya.. “pentingkah mereka untuk mu, Umar.. lalu sebutkan kan pada ku siapa mereka dan apa kepentingan mu terhadap mereka, atau mereka terhadap mu! Aku seorang perempuan yang tidak mengapa engkau tinggakan dalam penantian dengan alasan untuk menjaga diri.. aku akan menggugat jika engkau tidak seperti yang engkau ucapkan pada ku. Aku tidak akan rela menjalani masa penantian dalam penjagaan terhadap mu, sementara engkau tidak sedikit pun berusaha untuk menjaga masa penantian itu..”

Pada nikmat yang Tuhan bagikan untuk setiap jiwa.

Umar, aku tidak pandai mengungkapkan isi hati ku, bukan?! Banyak kata-kata yang kadang samar untuk ku maksudkan, namun demikianlah aku.

Isi surat kali ini hanya ingin menegaskan bahwa aku masih pada jalan ku. Menjaga ‘azam dengan terus berbenah, insyaAllah. Namun tak ku pungkiri bahwa aku adalah seorang pencemburu. Entah engkau akan memperlakukan kecemburuan ku seperti apa.. semua adalah kehendak mu.

Bagi embun yang mulai kering dalam nafas tasbih.

Aku liputi dluha ku dengan hening. Di Bandung pada jarak yang sangat jauh dari mu. Kemenangan ‘azzam kita ada pada muara do’a..pada setiap kerinduan yang bergerak laiknya pendulum ditiang keterpisahan kita!

Umar, penantian ini masih perlu engkau!

Yang merahasiakan mu dari angin keraguan,
Fathimah.”

Maka surat ini pun di lipat. Disimpan. Dikirimkan pada do’a selepas dluha nanti.

Umar, aku merindukan mu..

Untuk yang ku cintai dengan air mata..
Umar..umar..umar..

Siapakah yang paling takut dengan dosanya?! siapakah yang paling baik penjagaannya?!

aku tidak tau, umar..

aku hanya tidak ingin menghiasi cinta ku dengan air mata seperti ini.. karena air mata ini pula yang mengurangi kadar cinta ku pada mu!!

cinta adalah sesuatu yang ku simpan di hati,karena itulah terasa berat hati dengan adanya cinta ini. namun kemudian aku tidak sanggup membawa beban berat itu seorang diri, maka aku pun menangis!!

dan dari tangisan inilah hati terasa ringan. aku lalu bertanya, kenapa hati ku terasa lebih ringan.. duhai.. rupanya cinta ku pun sudah berkurang dengan air mata ini!!

Umar.. jangan buat aku menangisi cinta mu..karena aku tidak ingin menguranginya.

Aku sungguh ingin mengembalikan mu pada apa yang engkau inginkan sekarang.

Ketika salju turun di hati pecinta..

Sepertiga Malam. Bercengkrama dengan Tuhan. Menangis.

Suatu kelak mungkin engkau akan melupakan ku. Suatu kelak mungkin engkau akan tidak lagi membutuhkan ku. Suatu kelak mungkin engkau sudah tidak lagi mengatakan..’fatimah, engkau lah takdir cinta yang akan ku persunting jasad mu di Rumah Tuhan yang megah itu’. Mungkin.

Aku cukup dungu untuk mengenali semua teka teki jalan hidup dari Tuhan. Entah kini adalah masa dimana aku kembali memikirkan untuk tetap mengkhususkan mu menjadi “pengembar ku’… Namun begitu…….:

Aku merindukan mu, umar.

Duhai Lelaki yang jauh dari tempat tidur ku. Menikmati sakit. Menyederhanakan lelah menjadi tarikan nafas yang panjang.

Umar, kekasih ku…

Aku tidak bisa menahan kerinduan ku malam ini. Sangat. Aku bahkan seperti gila. Umar, aku merindukan mu.

Merindukan engkau yang perlahan bergeser. Merindukan engkau yang melupakan nama fatimah dari kamus pikiran mu.

Umar, aku masih benar mencatat mu sebagai impian terbesar ku. Entah engkau sudah lupa dengan nama itu. Aku wanita yang kau cintai dengan penuh, kata mu. Aku wanita yang kau percayakan seluruh hidupmu, katanya. Kini hilang dari sematan aktivitas mu.

“Tuhan, inikah giliran aku untuk mengejarnya, atau meninggalkannya?!”

Jika aku mengejarnya. Apa aku tidak akan sia-sia, Tuhan?!

Jika aku meninggalkannya, apakah aku akan bisa tanpa menangisi kehilangannya?!!

Umar, Aku ingin mengembalikan semua pada kewajaran dan kesekedaran. Meski sulit. Aku ingin engkau cukup kembali seperti dulu.

Aku merindukan umar terbaik, yang sederhana mencintai ku, yang menyentuh kuncup bunga cinta ku hingga mekar. Dan aku pun cemerlang menjadi bintang dilangit sejarah dunia.

Aku tidak membutuhkan semua perhiasan yang terbaik di dunia, aku hanya ingin engkau. Kembali seperti apa adanya diri mu, kekasih…

Menjadi seseorang yang dengan kebohongan, engkau memuji ku.. menampakan kelembutan mu!!

“Duhai, jiwa ku.. apakah aku harus memohon pada mu untuk berbohong?!! Berbohonglah untuk ku, puji aku sebagaimana dulu engkau mengagumi ku.. sebagaimana dulu begitu besar cita-cita cinta kita, yang terlepas dari semua ambisi dan kekurangan!!”

Camar ku, apakah takdir cinta yang kita agungkan itu telah berubah menjadi hal yang kita sesali bersama?!

Aku melihat istana yang megah itu telah tertutupi rimbun belukar yang tajam durinya. Aku tidak bisa mendekat sekedar untuk membersihkan halamannya dan menengok mu, masih kah ada disana?!

Kita menjelma menjadi seperti pasangan biasa. Yang melakukan ritual putaran hidup seyogyanya saja. Kita begitu menggebu-gebu penuh sanjung dan pujian di awal masa, dan kita pun kehilangan semua itu diakhirnya.

Tidak, kekasih ku.. jangan perlakukan hubuangan cinta ku seperti demikian. Demi Allah, yang aku ridho untuk menjadikan-Nya Tuhan bagi ku… aku tidak ingin menjadi bagian dari hal yang biasa. Kembalikan aku pada kadar yang terbaik untuk memenuhi mu dengan kebaikan.

Aku memang tidak semenyenangkan, tidak secantik dan seluar biasa ketika engkau pertama kali melihat ku. Namun sungguh, tidak ada yang berubah dari mata bathin ku melihat mu. Engkau tetap sempurna dan yang menyempurnakan seperti sela-sela jari yang terbuka untuk menyilahkan jari tangan lain masuk dan merapatkan genggaman menjadi ikatan yang kukuh.

Tentu, Umar.. kita masih mengingat, bahwa hubungan kita adalah sebuah ikatan yang kuat, yang Tuhan sebagai saksinya.

Aku merindukan semua ritual kita dulu. Ritual yang tidak diboncengi dengan kemarahan, ritual yang tidak di campuri dengan cela dari kita masing-masing.

Humus jiwaku,jangan pudarkan pesona kecendrungan ini dengan kebosanan mu.

Aku sebagai wanita mu, hanya meminta luangkan waktu sejenak untuk ku. Cumbu aku sebaik yang engkau bisa dengan puisi-puisi cinta.

 

Wanita yang menangis atas ‘salju’  kekasihnya,

Fatimah

June and the Autism.. (A letter for Umar)

Umar..

Hai. Aku senang engkau menelphone, meskipun hanya untuk mengatakan “hai”. Tapi, aku tidak bisa benar-benar menunjukan rasa senang itu! karena menujukannya berarti perang. Kadang-kadang aku berharap kamu ada disini atau aku ada disana untuk saling membantu menahan ‘kegilaan’ yang membuat ku menyimpang dari diriku yang sebenarnya.

Aku merasa dekat dengan mu. aku merasa aman bersama mu. engkau adalah orang yang membuat ku merasa “memiliki”. Engkau adalah orang yang menjadikan ku merasa memiliki “kekhususan”. U make me so special! :D

Semakin aman dan bahagia perasaan ku, semakin besar keinginan ku untuk lari dan melarikan diri. Apakah engkau menyadari ini? apakah engkau cukup peduli, punya cukup kesabaran dan cukup pemahaman untuk mendukung perjuangan ku melawan dorongan yang bodoh ini? seandainya tidak, itu tidak apa-apa. Hanya saja, rasanya, sangat sulit bagi ku jika mengetahui jika engaku tidak mengerti!!.

Hari ini aku ‘melarikan diri’. aku hanya ingin meraih mimpi ku sendiri. bisakah engkau bertanya “apakah yang di inginkan JUNE?” setelah itu, aku bisa bebas.
aku bisa mengatakan kepada mu apa yang aku ingikan meskipun tindakan-tindakanku berlawanan!!
aku bisa mengatakan kepada mu bahwa aku ingin meraih mimpi ku, tetapi tindakan-tidakan ku tidak membiarkannnya; otak ku tidak membiarkanku mengandalikan tindakan-tindakan ku.

Jika Autisme menang seperti ini (atau jika engkau secara salah menganggap bahwa reaksi autisme ku itu sebagai reaksi sebenarnya..), aku merasa begitu terjebak di dalamnya sehingga aku ingin menyerah pada seluruh dunia!!.
aku takut engkau tidak bisa memisahkan diriku dari autisme ku. itu berarti aku sendirian… dan sendiri itu sedih, umar!!! :'( … aku merasakan kan..pernah merasakannya!!! engkau akan terpaksa membiarkan ku tenggelam ke dalam pelukan monster batin ini!!.

Engkau tahu, umar..
ini berat bagi ku…kadang-kadang,autisme itu merampok teman-teman ku. kadang-kadang, dia menyembunyikan teman ku. kadang-kadang, aku bergantung pada sebuah batu karang dan engkau memegang tangan ku, dan kamu pasti akan merasa berat untuk terus memegang ku.
Aku tidak tahu apakah kamu memiliki kekuatan untuk membantu ku berjuang selama yang ku butuhkan?!. Kuharap;Ya… karena saat engkau berjuang bersama ku menghadapi sakit ini, aku merasa sangat mampu untuk menghadapinya!! :'(
selain itu, aku pun sangat membutuhkan banyak perhatian dari mu. Engkau memilikinya. Aku yakin akan hal itu. Tapi kegilaan ini terkadang mengalahkan keyakinan ku. Aku takut, Umar.. bagaimana jika aku kalah.. dan terus berada di di balik kaca sendiri!! :'( karena kadang-kadang penyakit ini lebih besar dari kita kekuatannya. itu sebabnya, kadang-kadang aku yakiin bahwa kau harus menyerah dan tidak ada seorang pun yang bisa membantu ku, termasuk engkau, Umar!! :'(

jika aku terpaksa harus menyerah kepada seseorang, aku tidak menginginkanya. itu tidak membuat ku gembira. hanya saja, aku tidak perlu lagi perlu berjuang terlalu keras!! tetapi, hidup ku layak di perjuangkan! Aku sudah melihat kebahagiaan seperti itu bersama mu sehingga aku tahu itu layak untuk di perjuangakan… tetapi, perasaan lelah ini…kadang-kadang, membuat ku benar-benar lelah!! sulit sekali melawan dan mengalahkan, dan memperdaya kegilaan yang besar, kuat, dan tak kasat mata ini!! :'(

Aku tidak menyesal. aku tidak berdaya terhadao sesuatu yang terjadi. Engkau juga tidak menyesal. Engkau juga tidak berdaya.. (bahkan engkau masih meragukan kegilaan ku..). barangkali semuanya akan sulit buat kita, tapi kesulitan itu tidak akan pernah sama dengan kesulitan orang lain!

Aku tidak akan pernah lari dari mu, meninggalkan mu, atau menggantikan diri mu dengan orang lain, karena engkau berjuang untuk ku sejauh ini.. selalu menemani ku.. dan aku sangat cenderung pada mu!
Kehidupan ini bukan milik autisme, tetapi milik ku!!!!
autisme tidak berpihak pada “apa adanya”, begitu juga dunia, tetapi aku berpihak pada “apa adanya”, begitu juga engkau; dan aku akan berjuang untuk mendapatkan hak itu atau mati saat mencoba memperjuangkannya!!

Autisme adalah sesuatu yang tidak bisa ku lihat. Dia membuat ku berhenti menemukan dan menggunakan kata-kata ku saat aku menginginkannya. atau membuat ku menggunakan semua kata-kata dan hal-hal konyol yang tidak ingin ku katakan!!.

Autise membuat ku mendengar kata-kata orang lain, tapi tidak mampu memahami maknanya. atau autisme membiarkan ku mengatakan kata-kata ku sendiri, tanpa memahami apa yang ku katakan atau bahkan yang ku pikirkan!!

autisme membuatku terpisah dari pikiran-pikiran dan rasa ingin tahu ku sehingga aku percaya aku tidak memikirkan apa2 atau aku tidak tertarik pada apa2. atau autisme membuat pikiran ku hampir meledak dengan keinginan untuk menjangkau dan mengatakan apa yang ku pikirkan, atau menunjukan apa yang menarik minat ku… tetapi tidak ada yang keluar, bahkan tidak pada wajahku,pada mata ku, atau pada kata-kata ku!!

autisme membuat ku terpisah dari tubuhku sendiri sehingga aku tidak merasakan apa-apa. autisme juga bisa membuatku sangat sadar akan sesuatu yang kurasa sangat menyakitkan.

autisme kadang-kadang membuatku merasa bahwa aku sama sekali tidak memiliki diri dan aku merasa sangat terbenani dengan kehadiran orang lain sehingga aku tidak bisa menemukan diriku sendiri. autisme juga membuat ku sadar sepenuhnya akan diri ku sendiri sehingga seluruh dunia di seputar ku seakan-akan tidak seimbang dan membingungkan!!.

hal terpenting yang ku pelajari:
Autisme bukanlah diri ku. Autisme hanyalah sebuah masalah yang mencoba menghentikanku untuk bebas menjadi diri ku sendiri. Autisme berusaha merampok hidup ku, persahabatan ku, kepedulian ku, keinginan untuk bergagi minat-minat ku, kecerdasan ku, dan keterpengaruhan ku… dia berusaha mengubur ku hidup-hidup!!!

Aku bisa memerangi autisme…
aku akan mengandalikannya.. dan tidak akan dikendalikannya…

Umar, jangan berhenti disini. aku sedang bersemangat dalam pertempuran ini!!! bantu aku lebih kuat dalam perjuangan ini!! pedulikan aku lebih baik lagi, sehingga aku tidak pernah berpaling dari wajah mu… :)

Yang mencintai Umar,
June.. (yang masih berjuang d dunia kaca yang kadang2 masih menyekapnya!!)

Sebuah Ritual peribadatan cinta

“Kami di persatukan dengan satu nama yang menjadi hak Mutlak Allah Swt yang Maha Berkehendak, Yakni Takdir!! dan kami menyatukan segenap apa-apa yang ada dalam diri kami sebagai implementasi kecintaan kami pada Allah Swt semata! kami menghabiskan waktu dengan ritual peribadatan…yang mana setiap ritual itu adalah bukti ketaatan pada Dzat yang maha Kuasa, Allah Swt!…dan inilah sebagian kecil dari ritual peribadatan kami…” :)

—Mengalun lembut, sebuah harmoni yang tergubah dengan penuh perasaan..dan aku yakin ketika membuat harmoni tersebut pastilah sang penggubah sedang membayangkan bahwa disuatu masa akan ada dua orang yang sedang saling jatuh cinta menikmati gubahnnya tanpa memikirkan lelah sesaat. Hanya perasaan saling membutuhkan cinta itu yang mengalir di keduanya!!—

Tubuhnya penuh memelukku. Nafas kami seperti nada pelengkap yang membuat alunan harmoni itu semakin indah. Wajahnya tak mengenal jarak, beradu. Menutup dari kekurangan yang terkadang menghambarkan hubungan, aku merasakan bahwa dia seorang kekasih yang lembut. Tubuh kami mengayun, berirama. Sesekali gerakan kecil untuk menyeimbangkan kedekatan kami, memberi sensasi romantis dalam keteraturan langkah yang kami buat.

Aku mengintip wajahnya. Dia pun membuka mata, dan lembut matanya. Dia menggerakan bibir “ aku mencintai mu”.
Aku tersenyum. “aku juga mencintai mu”.
Dia menjamu bibir ku dengan baik!
Beberapa saat kami terhanyut. Kembali kekeadaan awal. Dia mengendurkan pelukannya, tangannya melingkar di pinggang. Nafasnya sedikit meninggi. Aku menikmati setiap hembusannya. Hangat!

Dia membimbing ku duduk di kursi dekat pintu kamar. Aku duduk. Dia bersimpuh di depan ku. Menatap ku, seperti orang asing yang menawan buatnya. Jemarinya membungkus jemariku dengan rapih. Tak ada suara, hanya saling memperhatikan. Dia mencium jemari ku. Beberapa kali. Aku tetap membiarkan dia melakukan semua itu. Terakhir mencium lutut ku yang dekat sekali dengan wajahnya. Aku mengangkat wajahnya. Mengarahkan kecupan ku pada keningnya. Dia terpejam.

“Sayang, aku harus pergi besok…” kata-katanya menggantung.
Aku mendekatkan kening ku ke kekeningnya. Kami terlibat dalam kedekatan yang sangat tidak berbatas.
“Lalu ?”
“Tiga minggu…” lanjutnya. Seperti enggan membahas hal itu.
“Lalu?”
“Aku…khawatir meninggakan mu disini sendiri!”. Dia mengakhiri ucapannya dengan mencuri bibirku sekilat.
“Maka jangan pergi” balas ku.
Dia menahan pipi ku. “Jika bisa, inginnnya seperti itu. Kita menghabiskan waktu berdua, dan tidak harus berpisah”
“Maka buat itu kenyataan”
“Bisa, jika suami mu ini sudah memiliki perusahaan sendiri”. Dia tersenyum. Aku mengelus wajahnya. Sepertinya dia sangat hapal dengan maksud ku itu. Dia tahu bahwa aku tidak mungkin mencegahnya pergi. Aku pun mengerti bahwa itu adalah salah satu ritual peribadatannya, selain dengan ku!

“Hei, segeralah mandi. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita”
Dia bangkit. Lagi. Dia mencium ubun-ubun ku.
Dia memasuki kamar mandi. Aku berjalan kearah meja makan, menyiapkan makanan yang menjadi kesukaannya. Sayur kacang merah, tahu goreng, dan tentu saja capcay! :)
Selesai mandi, dia mendatangi ku. …hmmmm… suami_ku tercinta! Aku sangat bahagia menikahi mu.

Dia menyentuh pinggang ku dengan nakal. Aku menepisnya manja.
“Duduklah, aku yang buat minum”
Dia membuat teh manis. Membelakangi ku. Tubuhnya masih tegap, sama seperti 1 bulan yang lalu ketika pertama kami aku bisa menyentuh tubuh itu. Aku mengelus punggungnya. Memeluknya. Badannya sedikit lebih kurus. Pekerjaannya sering membuat dia pulang malam. Meski sudah di ingatkan, dia kadang tidak punya waktu untuk menepati semua itu. 2 hari lain dalam seminggu yang kami habiskan untuk berpuasa di siang harinya, membuat dia tampak sedikit ringkih! Tapi kami sangat menyukai ritual peribadatan itu! Tangannya berhenti mengaduk gula yang masih terlihat kasar dalam gelas berisi air hangat bercampur teh. Mendekap tangan ku.

“Kenapa?” ucapnya sangat pelan.
“Aku akan merindukan hal ini dalam waktu tiga minggu kita tidak bertemu, umar!”
Tawa kecilnya mencicit terdengar bangga.
“Aku pun akan sangat..sangat..merindukan ini,fatimah!! Beribu-ribu kali dari rindu mu pada ku!”
Aku menempelkan kepala ku pada punggungnya. Aku menangis. Aku benci perpisahan ini.
“Mau ku bawakan apa nanti pas pulang?”
“Aku ingin engkau tidak menunda kepulangan mu kalo sudah selesai pekerjaan mu disana…aku tidak butuh apa pun…kalo engkau membelikan sesuatu untuk ku, sama saja aku dengan menunda beberapa jam pertemuan kita Karena engkau menggunakan jam-jam itu untuk membeli barang yang akan engkau bawa,umar”
“Baikalh, aku akan segera pulang!”. Dia mengelus tangan ku. Aku melepaskan pelukan. Menarikanya untuk makan. Seperti ini adalah pertemuan terakhir, aku memperhatikannya terus. Aku merekam semua gerak geriknya. Menyimpannya di memory. Dan membukanya kembali jika dia berangkat nanti.

“Aku akan menemani mu berangkat besok”. Dia mengalihkan pandangannya pada ku dan tersenyum.
“Tentu harus. Kalo tidak, bisa batal penerbangan ku!”
Aku terkekeh. terimakasih,umar!

Takdir. Itu yang dia gunakan sebagai alasan, ketika aku bertanya kenapa dia mencintai ku?!
Ya, Akulah Takdir mu! Dan engkau tak kan bisa menghindar dari perempuan manja ini,Ya_umar!! :D

Umar, setiap hari mu akan susah untuk bisa bernafas, karena begitu kuat cinta yang ku ikatkan di kehidupan mu. Engkau bahkan akan sangat enggan untuk beranjak, karena begitu besar cinta yang ku letakkan di hati mu!
Coba saja jika bisa, engkau tak kan mampu mengelak! Karena akulah takdir cinta mu*! :D

PS: I Love U…Umar, cepat pulang!! Aku merindukan mu.

*kaya judul lagu Rosa ya..–Takdir cinta—..hahahaha :D

Kado nasihat untuk Umar..

Wahai Suami_ku, inilah beda mu dengan Umar bin Abdul Aziz!

Aku menyikapi hadiah terindah yang kau kirimkan kemarin sore. Sebuah kalung cantik dengan liontin batu yang menawan, berwarna coklat bergaris menyalur!

Aku menikahi mu yang kaya, dan tampan!
Akan sama perlakuan ku, jika aku menikahi mu yang miskin dan biasa saja!
Bukan semua itu yang membuat ku menikahi mu, sungguh!
Suara mu yang lemah lembut ketika menguatkan ‘azzam ku untuk menikah dengan lantunan ayat-ayat Allah Swt…
Ketegaran mu dalam jalan dakwah. Mengeyangpingkan kepentingan pribadi untuk kepentingan ummat. Kesabaran mu ketika menelan pil pahit dari kehidupan, engkau tak pernah mengeluh…justru semakin membesarkan cinta mu kepada Allah Swt. Semua itu yang membuat ku menyanggupi hidup dengan mu dalam perjalanan ini, Umar!! Jika kenyataannya engkau kaya dan tampan, itu semata karena kasih sayang Allah Swt terhadap ku saja!

Ada sedikit cerita untuk umar_ku, dari Rumah tangga seorang khalifah yang menyebarkan keadilan di bumi Islam masa itu yakni Umar bin Abdul Aziz dengan istri tercintanya Fathimah binti ‘Abdul Malik.

Duhai suami _ku tercinta,
Tahukan engkau apa perbedaan Umar bin Abdul Aziz dengan sebagian para suami jaman kekinian?

Kekasih_ku,
Dan tahukah engkau apa perbedaan Fathimah binti Abdul Malik dengan sebagian para istri jaman kekinian?

Jika menilik persamaannya, maka demikian:
Mereka, umar dan para suami jaman kekinian, sama-sama laki-laki!
Mereka, Fathimah dan para istri jaman kekinian, sama-sama wanita!

Lalu engkau mungkin akan mencecar ku dengan pertanyaan selanjutnya, iya kan, umar?
Aku mengasumsikan pertanyaan mu mungkin tidak akan jauh dari seperti ini: Dan apa perbedaan dari keduanya (Umar bin Abdul Aziz dengan para suami jaman kekinian, dan Fathimah dengan para istri jaman kekinian)?!
Perbedannya adalah:
Umar adalah seorang suami yang ‘takut’ terhadap harta dan perempuan, sedangkan sebagian para lelaki jaman kekinian ‘menyukai’ harta dan perempuan!

“Dan orang-orang yang apabila berinfak, mereka tidak berlebih-lebihan dan tida pula pelit. Yaitu pertengahan diantara keduanya” (Al-Furqaan:67)

Perbedaannya,
Fathimah, cucu, anak, dan saudari dari para khalifah itu mau meninggalkan harta dan kemewahan untuk suami shalehnya, sedangkan wanita kekinian justru siap meninggalkan suami (shaleh)nya hanya untuk harta dan kemewahan!!

“Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia mengingat Rabbnya lalu ia mendirikan shalat”. (al-Alaa: 14-15)

Tau kah engkau wahai suami ku,
Dahulu, sewaktu seorang khalifah mangkat, maka anak2nya akan mewarisi apa yang ditinggalkan oleh ayahnya itu… lalu apa yang dilakukan oleh umar terhadap harta bagiannya?!!
Dia bilang” Dulu aku memiliki kesenangan melakukan perbuatan itu. Sedangkan dosa dan akibatnya di tanggung oleh penduduk ku. Ada pun jika saat ini aku memimpin maka aku tidak akan melakukannya,karena akulah yang akan menanggung dosanya”

Sungguh Umar bin Abdul aziz takut terhadap Allah Swt, sehingga dia menghindari harta, dan kesenangan yang membuatnya lalai.

Suami_ku tercinta…
Umar bin Abdul Aziz pun pernah di tawari oleh saudara-saudaranya banyak wanita untuk dia jadikan istri, seberapa banyak yang dia mau. Tapi sekali lagi Umar bin Abdul Aziz menunjukan kualitas dirinya! Mereka tidak tahu bahwa Umar bin Abdul Aziz tidak memiliki hasrat besar dengan perempuan. Beliau sangat takut menjadi seorang lelaki yang memiliki hasrat berlebihan kepada perempuan.

Lalu, permata hati_ku,
Apa yang banyak terjadi di sebagian para suami di jaman kekinian?!
Mereka sangat menyukai sesuatu yang berupa harta benda. Mereka bekerja siang malam, dan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya!! Tidak terpikirkan mengenai kenikmatan beribadah buat mereka. Mereka lupa hakikat hidup di dunia! Mereka melihat dunia sebagaimana orang-orang kafir melihatnya, dalam pikiran mereka dunia itulah syurga yang sebenarnya yang kenikmatan di dunia ini semestinya di nikmati dengan apa pun caranya!! Mereka memiliki hasrat yang berlebihan terhadap perempuan! Legitimasi terhadap sesuatu yang mereka tidak faham hukumnya pun terjadi…
Padahal mereka tidak membaca bahwa wanita adalah salah satu ujian yang Allah Swt berikan kepadanya!

Silahkan engkau tengok, sayang…
Berapa banyak lelaki yang mengumbar hawa nafsunya (memperbesar hawa nafsunya) terhadap perempuan yang kemudian menjadi orang yang hina..baik di mata Allah Swt maupun di mata masyarakat! Perempuan pun menjerumuskan mereka kepada kenistaan. Mulai dari maksiat sampai pada mendzalimi saudaranya sendiri, hanya demi seorang perempuan!

Sangat berbeda dengan Umar bin abdul Aziz…

Diluar semua itu.. taukah engkau kekasih ku, bahwa cinta Umar kepada Fathimah sangat tulus. Umar bin Abdul Aziz hanya mencintai fathimah dari pertama perjumpaan, dia sangat tertarik. Dia ingin fathimah bisa mengisi kekosongan dan supaya dirinya tidak kesepian.

Namun kecintaannya tidak membat Umar mengorbankan apapun untuk Fathimah, apalagi imannya!
Justru melalui cinta itulah, Umar mendidik Fathimah dengan cara yang sangat elegan! Umar mengajari Fathimah untuk Zuhud, menggunakan hartanya hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.

“Peganglah nasihat ku jika kamu mau atau Tinggalkanlah!!”

Suatu ketika Umar meminta Fathimah menanggalkan kalung liontinnya, dan menyimpannya di baitulmall, sehingga ketika ada orang muslim yang membutuhkannya maka ia bisa memberikannya untuk mereka.

Seakan-akan Umar merasakan bahwa Fathimah tidak rela sepenuh hati dengan apa yang di perbuat oleh Umar. Lalu Umar memberikan pilihan baginya untuk tetap tinggal bersamanya atau kembali ke keluarganya. Umar memberitahu istrinya bahwa para wanita sering disibukkan dengan perhiasan yang ada di lehernya. Akhirnya Fathimah pun merelakannya karena dia pun sangat mencintai Umar dan taat kepadanya karena Allah Swt. Dia menyadari bahwa jika dia pulang ke rumah keluarganya, maka dia akan melewatkan lelaki shaleh yang akan memberikan istana di Surga nantinya.

Umar tidak pernah mendengar bisikan apa pun dari Fathimah yang membuatnya lalai dan merusak kepemimpinannya. Beliau seorang suami dan pemimpin yang bijak, lagi lembut! Selain kepada istrinya, umar pun mengajarkan hal yang sama kepada anak2nya!

Suami_ku,
Umar adalah lelaki tegas yang siapa pun sangat menghormatinya. Lalu bagaimana dengan sebagian para suami sekarang??. Meraka sangat pandai memainkan tangan dan teriakan, yang padahal dengan itu semakin rusaklah wibawanya!

Semoga Allah menjaga mu dengan Ilmu-Nya yang Haq!

Kekasih_ku,
Sekarang kita akan membicarakan seorang perempuan beruntung yang hidupnya dipenuhi dengan ketaatan dan sikap Wara’ yang merupakan hasil didikan sang suami!
Ya, dia adalah Fathimah binti Abdul Malik.

Dia adalah teladan. Dia yang rela meninggalkan segala macam kesenangan demi menemani suami tercintanya dalam kezuhudan!
Dia tidak pernah silau dengan emas dan permata, meskipun dia seorang istri khalifah!
Sebiasanya perempuan, dia pun mencintai perhiasan.. namun rasa cinta lillah-nya kepada Umar, membuat dia melepaskan kecintaan lain selain kepada suaminya!
Sehingga dia berkata “ Demi Allah, sungguh aku ingin seandainya saja jarak antara diriku dengan kekuasaan sejauh jarak antara timur dan barat”

Dan dimanakah letak sebagian para istri jaman kekinian?
Mereka tidak peduli merendahkan dirinya sendiri hanya untuk memperoleh kesenangan berupa harta benda. Tidak jarang ada yang berselingkuh dengan lelaki lain dengan alasan bahwa suaminya di rumah tidak mampu memenuhi kebutuhan materinya! :(
Mereka memaksa para suaminya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Entah bagaimana pun caranya, mereka menuntut semua kebutuhan dengan instant! Maka jika hancur moral wanita di sebuah negeri, maka hancurlah negeri itu dengan segala macam kemunduran dan bencana! mereka melupakan kodrat mereka. Mereka dijejali dengan mimpi2 cinderela! Dan mereka pun berkhayal mendapatkan pangeran tampan dan kaya! Jika kenyataan mereka hanya mendapatkan yang diluar mimpinya, mereka pun meradang. Tidak mau bersyukur!

“Semoga Allah Swt merahmati orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya”—Umar bin ‘Abdul Aziz —

Lelaki kesetiaan_ku,
Aku sangat mencintai mu. Aku selalu medoakan kebaikan untuk cinta kita. Semoga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang barakah, yang di limpahi kerihdaan dari Allah Swt. Allahuma Amiin.

Buah mimpi_ku,
Jangan jadikan aku sama seperti sebagian para istri kekinian yang menyukai perhiasan. jangan ajari aku untuk menyukai itu!! —Umar bin Abdul Aziz tidak pernah memberikan perhiasan apa pun untuk istrinya, kecuali mengajaran akhlak yang menawan untuk istrinya! —
Aku menyukai hadiah dari mu. tapi aku mencintai mu,Umar!!
Dan jangan menjadi sebagian para suami kekinian yang menggelimangi istrinya dengan harta benda sebagai ungkapan cinta, sementara tidak pernah menggelimangi istrinya dengan keimanan dan ketawadhu-an kepada Allah Swt! kebahagian seperti apakah yang demikian?!apakah itu kebahagiaan?! (tidak untuk ku, umar!!..)

Cukup belikan aku sebuah mushaf baru, dan kita jadikan alat penyemangat untuk menyelesaikan hafalan kita!! :)

Purnama_ku,
Semenjak engkau meminangku, engkau telah jelas melihat ku. Aku bukanlah wanita sempurna yang bisa mendampingi mu dengan baik tanpa campur tangan mu untuk merubah dan mengajari ku! Didiklah aku dengan cinta mu, sebagaimana Rasulillah mendidik orang2 di sekitarnya dengan cinta.. atau seperti Umar bin Abdul Aziz yang mendidik istri dan keluarganya dengan kelembutan!

Perempuan yang mencintai mu dengan sederhana, Fathimah.

Sumber pustaka:
Mushaf kesayangan yang berwarna biru cerah :)
Abdul Aziz Sayyid al-Ahli. 2009. Umar bin Abdul Aziz. Samara Publishing. Jakarta.

Gulali cinta, Umar..

Alhamdulillah, aku menginjakan kaki di rumah yang selalu ku rindukan. Yang sebenarnya bukan rumahnya yang benar-benar ku rindukan, tapi”engkau”, seseorang yang berada di dalam rumah itu.

Berwarna putih, ukuran yang tidak bisa di bilang besar, juga tidak dikatakan kecil. Cukup untuk menjadi istana ku yang indah. Taman di depan rumah sedikit berantakan, mungkin beberapa malam hujan disini. Dan dia tidak sempat membenarkannya.

Aku turun dari mobil, menatap sekeliling. Rindu.

Dia, membuka pintu dan menggandeng pinggang ku. Berjalan mendahului ku. Menyalakan lampu. Menyimpan dua tas besar yang semuanya baju kotor yang ku bawa setelah seminggu di Jogja. Aku berdiri di belakang jendela melihat kearah luar yang sedikit remang, sengaja lampu taman rumah ku tidak terlalu terang, biar terkesan teduh.

Dia menyentuh pundak ku yang masih berdiri. Melepaskan jaket ku lembut, dan menyimpannya di kursi, tempat biasa kami menghabiskan waktu liburan dengan perbincangan yang penuh rencana dan konsep masa depan untuk jalan dakwah pernikahan kami. Dia memeluk ku.
“Kangen ya?!!” suaranya menggelitik geli di dekat telinga ku. Aku hanya tersenyum.
Dia membimbing ku untuk duduk. Kami bersebelahan. Dia mengangkat kaki ku dan menyimpannya di pangkuan dia. Membuka sandal tali yang belum sempat ku buka. Menelanjangi kaki ku, membiarkan gelang kaki putih hadiah ulang tahun darinya terlihat kemilau manis. Dia memijat kecil betis ku. Laiknya seorang ahli pijat refleksi dia gemulai memainkan jemarinya menusuk-nusuk telapak kakiku dengan jemarinya. Aku sesekali tertawa, ketika jarinya mendapatkan titik geli. Dia seperti senang dengan tawa ku. Sengaja dia berulang kali memijat bagian tersebut. Dan sebagai sentuhan akhir dia menciumi setiap jemari kaki ku.
Inilah yang tak ku dapat di Jogja, ketika jauh dari seorang suami seperti mu, Umar.
“Aku sudah menyiapkan air hangat, sebelum menjemputmu tadi, mudah-mudahan masih hangat..”

Aku menatapnya. Dia tersenyum. Dia mengangkat tubuh ku yang sedikit gempal di bandingkan dia. Aku terkikik lucu saat dia bilang “waaahh, jogja sepertinya surga makanan nich, sampai fatimah_ku semakin berat saja”

Dengan manja aku senang saja ketika digendongnya sampai kamar mandi. Semua sudah siap. Kamar mandi yang bersih dan harum. Aku menutup pintu dan menyerahkan tubuh ku pada air yang terasa segar dengan panas yang cukup, otot dan urat-urat ku seperti lemas menikmati sentuhan air yang mesra.
“Fatimah, boleh aku membantu mu menggosok punggung mu disana?!” suaranya terkesan nakal di balik pintu. Aku hanya tertawa.
“Baru seminggu aku tinggal, engkau sudah sebegitu genitnya, Umar”. Aku mendengar suara tawanya yang renyah.
“ Aku tunggu di tempat makan ya?!”.
Aku tidak membalas ucapannya. Hanya memejamkan mata, Subhanallah nikmatnya aku menikah.

Hampir 15 menit aku tenggelam di kesenangan kamar mandi, mengganti baju. Berdandan dengan “cantik” untuk mempersiapkan ritual “pertemuan kembali” dengan Umar tercinta. Menuju tempat makan, dia sudah merentangkan tangan meminta pujian untuk semua yang dia siap kan, walaupun lebih tepatnya meminta sebuah ciuman. Aku melingkarkan tangan di pinggangnya, menyodorkan wajah dan mencium kecil di pipinya. Dia bangga, benar!. Dia menggeserkan kursi, layaknya sedang menjamu seorang Lady. Aku membungkukan badan, tanda berterimakasih.
“Thank u, Sir”
“U’re welcome, my dear”. Kami geli sendiri.

Ritual makan pun kami mulai. Semenjak menikah, aku sangat menyukai kegiatan menyediakan semua makanan di piring Umar. Dia tidak pernah protes apa pun yang aku masukan ke piringnya. Toh selalu habis. Dan ritual makan adalah waktu yang kami curi untuk berbincang,tanpa berdebat! Aku menceritakan semua yang terjadi selama seminggu di jogja. Kunjungan-kunjungan luar biasa yang ku buat dengan saudara baru ku di Jogja. Ide-ide besar yang kemudian muncul setelah berbincang dengan mereka. Dia seksama memperhatikan. Matanya saling bergantian antara menyiapkan makanan di sendoknya dengan memperhatikan ku. Sesekali dia mengangguk dan mengatakan “mmmm..” tanda dia mengerti. Pada satu cerita mengenai apa yang terjadi pada saudari ku yang harus melepas pekerjaannya karena ingin mempertahankan keimanannya dan jilbab yang dia kenakan, aku menangis dan menunda makanan di sendok ku, beberapa saat aku terisak. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan ku. Aku tersenyum getir. Sentuhannya aku fahami benar, karena seperti itulah Umar, dia selalu menjadi yang menegarkan ku saat aku rapuh.
“Lanjutkan makannnya, kita bahas ini setelah makan, ya?! Semua akan baik-baik saja, fatimah”. Bibirnya yang ‘penuh’ membentuk cekungan bijak.
Aku mengangguk. Dan kami pun menyelesaikan akhir ritual makan malam dengan diam.

Dilanjut dengan ritual ruang tengah, tempat kami berdiskusi, dan berbagi ilmu.
“Bagaimana dengan saudari mu itu?!” dia menunjukan sikap pedulinya dengan baik. Aku menggeleng kecil.
“Aku harus bagaimana untuk hal ini, Umar?…keberadaan kita sebagai seorang muslim yang tinggal di Negara yang banyak penduduknya beragama islam, tapi untuk menjadi muslimah saja susah. Masalah jilbab seperti hal yang menakutkan. Tidak kurang perusahaan yang mensyaratkan karyawatinya untuk menanggalkan jilbab mereka jika ingin bekerja di perusahaan mereka. Bahkan juga tidak sedikit perusahaan2 yang sengaja menempatkan waktu2 meeting koordinasi dan sebagainya di waktu2 shalat, itu tidak adil, Umar!! “ aku tersekat, getir. Umar menggenggam tangan ku.
“Tapi ini semakin sulit saat sebagian orang2 yang beragama islam yang pola pikirnya sangat senang menjadi pekerja, bukan menjadi pengusaha. Padahal jika mereka mau menjadi pengusaha, biar pun itu hanya usaha kecil2an, mereka bisa menentukan waktu beribadat mereka dengan sendirinya”
“Belum lagi kualitas kebanyakan orang2 yang beragama islam itu pun masih sangat rendah. Coba jika meraka berkualitas, para perusahaan yang “nyeleneh” itu pun tidak akan menentukan syarat kerja yang demikian. Sebaliknya perusahaan yang akan mencari2 mereka”.
Umar hanya diam. Aku telak menatapnya. Jujur aku ingin mendapat pembelaan dari dia. Tapi dia hanya diam. Aku seperti kosong.

“Umar, apa aku salah jika berkata dan berpikir demikian?”
“Tidak, fatimah. Bukan begitu.. perjuangan mu akan sangat panjang, sayang…” suaranya hilang sesaat.
“Tapi aku akan ada untuk mu!!”

Aku menarik nafas panjang. Baru kali ini umar tidak mendebat ku. Apa aku sudah sedikit menyentil sisi kelelakiannya?! Apa karena dia juga seorang karyawan dari sebuah perusahaan?!! Ohhh.. Tidak… bukan itu yang aku maksud! Aku sama sekali tidak mempermasalahkan untuk bekerja, hanya saja aku lebih menginginkan bahwa sebagai seorang muslim, kita lebih mandiri, tidak tergantung pada orang lain, atau perusahaan mana pun. Pada makhluk mana pun.

Katakanlah: ” Dia lah Allah Yang Maha Esa, yang bergantung padaNya
segala sesuatu, yang tak beranak dan tak diperanakkan, yang tak ada
sesuatu setara denganNya “. (Q.S AL IKHLASH: 1-4)

Aku membawa wajahnya mendekat.
“Apa aku menyinggung mu, Umar?!”
“Tidak… kenapa?!” Ucapnya, agak heran dengan pertanyaan ku.
“Tidak… maaf jika ada yang salah dari perkataan ku”.
Dia tersenyum manis, memijit hidung ku. Aku masih memperhatikan perubahan riak wajahnya. Dia memang seperti biasa. Bercahaya dan teduh. Pesonanya membuat ku selalu nyaman ketika menaruh kepala ku di dadanya, baik saat aku merasa lelah, sedih, atau hanya untuk manja saja padanya. Tangannya sangat halus, berbulu tipis, kukunya di potong pendek, bersih dan terawat. Tentu, aku kan istrinya!! Ia selalu mempermainkan rambut-rambut pendek yang jatuh di kening ku. Itu kesukaannya. Dan aku adalah penikmatnya. Biasanya aku bahkan sampai tertidur.
“Jangan khawatir,, aku tidak merasakan itu, sayang. Aku mendukung mu. Dan aku kan sedang mempersiapkan menjadi seorang pengusaha yang sukses, dengan bantuan istri ku yang shaleheh!!”. Dia tiba-tiba memeluk ku. Ahhhh…. Tenang rasanya!!

“Dan diantara tanda-tanda (Kebesaran)-Nya ialah dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenis mu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantara mu rasa kasih dan saying. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (Q.S ar-Rum:21)

Do’a ku untuk seorang kekasih yang “sempurna” sudah terwujud. Aku bersyukur.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَ لُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اْللأَ حَدُ ألصَّمَدُ اَّّلذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ya_Allah.. ridhailah ritual kami.. rahmatilah kami keturunan yang baik dan taat kepada Mu.. dan jadikanlah kami orang tua yang “benar”! Amiin Allahuma Amiin.

Air mata ku beristighfar, memohon ampunan untuk semua khilaf, serta syukur yang kadang ku lewatkan.

Aku adalah perempuan yang beruntung, memiliki Umar. Dan aku juga beruntung menjadi seorang muslimah yang bisa mengenakan pakaian sesuai keyakinan ku!! Untuk mu, saudara ku terkasih, sabar, saudara_ku.. ini adalah janji seorang muslimah terhadap perubahan, bahwa aku, kami..siap membuat tandingan untuk semua yang telah menyudutkan mu..sehingga engkau, kita akan menjadi seorang muslimah yang terhormat tanpa harus menanggalkan atribut kebanggan mu, kita!! Insyaallah, Kita adalah wanita terhormat,…di pandangan diri kita, dipandangan saudara seiman, dan semoga di pandangan Allah saat kita berada dalam kebenaran!! Amiin.

Dengan catatan ini ku sampaikan Rasa terimakasih ku untuk makhluk yang menyembunyikan aib ku dari mata para pencari kekurangan orang, Umar tersayang!! :) terimakasih, cinta *.. :D

#Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”.(HR.Muslim No 2699)#

* kaya lagu Afghan ya?!! :D