Archives

Taman tanpa tanwil..

“Bawa pergi apa-apa yang bisa kau bawa, ambilah dari ku hal-hal yang telah kau renungkan, juga benar menurut mu” Mahatma Gandhi.

Aku bukan manusia sempurna yang bisa lepas dari kehinaan. Aku tau, selama perjalanan kita, engkau sering kecewa dan marah dengan semua sikap kekanak-kanakan ku. Aku tidak akan terus menerus meminta maaf, karena mungkin engkau pun bosan mendengarnya.

Sayang, kita belajar di masa yang sama. Dijaman yang sulit untuk sekedar dijalani dengan ilmu yang apa adanya.

Aku meluangkan waktu untuk merenungi hidup kita. Sudah dua tahun, atau sebenarnya hampir dua tahun, kita menikah. Bertengkar, berdamai, bukan hal yang luar biasa. Usia, itu yang orang tua kita bilang, ketika melihat wajah kita muram.

“Kalian masih sama-sama muda, usia kalian masih penuh emosi. Rumah tangga kalian pun baru seumur jagung. Jika ada masalah, jangan segera mengambil tindakan dengan emosi. Salah satu dari kalian harus mengalah. Menerima kenyataan bahwa satu diantara kalian pasti akan mengecewakan disuatu waktu tau bahkan melakukan kesalahan.. Bangunlah sakinah, mawadah dan warahmah itu dari sekarang.. meskipun tentu sulit..namun selama kalian berusaha, aku yakin kalian bisa!”

Keyakinan itu juga yang membuat ku bersedia memaafkan mu. Memeluk mu kembali ketika engkau dengan wajah sendu merayuku untuk menyudahi pertengkaran kita. Aku yakin, bahwa kita mampu mewujudkan sakinah, mawadah, warahmah dalam rumah tangga kita.

Kita memang hanya selisih beberapa bulan saja dalam usia. Anggaplah itu sama saja.. mungkin bukan hal yang aneh, jika tingkah laku kita pun masih serupa. Pemarah, pencemburu, egois.. ya, kadang menggelikan juga dengan itu.

Bahkan disaat marah pun kita terlihat seperti semuanya baik-baik saja. Engkau tidak pernah melepaskan pelukan mu, meskipun aku berusaha untuk menghindarinya karena sedang kesal. Aku akan terus menggerutu, menyebut mu sudah tidak sayang lagi pada ku. Dan engkau akan menjawabnya hanya dengan elusan dan kecupan di punggung ku yang melengkung tanda merajuk.

Saat bertengkar, saat aku benar-benar bisa merasakan bahwa cinta kita sangat berharga dan hangat. Kita menunda semua kesibukan kita untuk bertengkar. Saling menatap, berhadapan, bahkan meluangkan waktu sekedar makan bersama. Padahal sebiasanya, engkau selalu pulang larut, dan aku sudah cukup lelah mengurusi rumah dan menunggu. Mungkin bertengkar adalah jadwal dimana cinta kita bisa diungkapkan..

“Aku minta maaf sudah membiarkan mu beberapa waktu ini. Aku tidak tau bahwa engkau membutuhkan ku untuk membantu mu memperbaiki komputer, sayang.. sungguh.. aku minta maaf”

“Bukan hanya masalah komputer.. aku kesal karena engkau sudah benar-benar melupakan ku..”

Aku akan mengumpulkan tubuhku menjadi perempuan yang terlihat sepi dan menyedihkan. Lalu engkau mendekati ku dan merangkul ku, memindahkan tubuh ku ke pangkuan mu.

“Aku minta maaf.. Sungguh.. Aku mencintai mu.. jangan marahseperti ini.. ku mohon.. aku tidak bisa tenang dan memaafkan diri ku sendiri kalo engkau masih marah seperti ini.. maaf  aku?!” ..suara mu terdengar halus, kepalamu akan terkatuk di pundak ku..sangat dekat dan aku jelas mendengar nafas mu.

Aku masih menggulung bibir ku. Mata ku masih tidak mau mengenali tatapan penuh muslihat itu. Aku benci kamu, benci jika kamu merayu ku seperti ini.. karena aku pasti akan kalah dan memaafkan mu lagi..

“Okay?!.. maaf kan aku?!”

Engkau akan mulai mencecar bagian tubuh ku yang terdekat, sekedar menggelitik atau menciuminya. Aku melihat mata mu yang berpupil besar, jernih.

“Jangan seperti itu lagi.. janji?”

Meski itu semua percuma, aku ingin saja mengatakannya. Toh, biasanya perjanjian itu tidak berlaku lama. Lagi, kita akan sibuk dengan kesibukan kita masing-masing dan mulai saling menyakiti. Dengan berpura-pura sibuk, dengan bertingkah dingin.. kita layaknya pasangan suami istri yang tua.

Aku tau, usia pernikahan kita belum banyak membantu penyatuan dua manusia denan prinsip yang berbeda, dengan aktivitas yang berbeda untuk lebih memahami dan memaafkan keadaan masing-masing tanpa pertengkaran.

Namun aku yakin, kita bisa memperbaiki hubungan ini dengan seiring waktu dan rasa saling membutuhkan diantara kita. Termasuk itu cara tepat engkau belajar menambah kosakata baru untuk merayu ku ketika marah.

Sayang, Aku mencintai mu.. sangat mencintai mu.. dan aku percaya bahwa kita mampu memberi kesempatan pada pernikahan kita untuk tumbuh menjadi pernikahan yang bahagia penuh keberkahan.

Bawa pergi semua cinta ku dan apa-apa yang bisa kau bawa, hantarkan itu ke langit Tuhan  di dalam taman tanpa tanwilNya, lalu rawatlah agar berkembang di dekat sungai rindu para bidadari.. Ambilah dari ku hal-hal yang setelah kau renungkan, juga benar menurut mu.. karena aku bukanlah pengembara yang fasih dengan ilmu pengetahuan, aku hanya orang yang mencintai ilmu dengan segenap jiwanya.

Kekasih ku, Terimalah aku dengan kebenaran yang mampu kau cerna, dan maafkanlah aku dengan luasnya samudera kesabaranmu. Kita ikat kuat kitab takdir ini dengan do’a tulus, agar kisah cintanya menjadi sempurna tanpa ada bagian yang hilang atau terberai.

I love You..

 

With love,

Fathimah.

I miss my_umar..

Untuk kekasih yang malam-malam ku tergadaikan pada mu..

Wahai Umar, kemanakah risalah hati ini kan ku alamatkan?! Barisan kata lara yang ingin ku bagi, terbang membuih di udara gamang ku. Pelabuhan jiwa mu, masihkah hendak menyambut jangkar harap ku untuk tertambat disana. Menetap sebagai kekasih Umar seperti dulu kita berjumpa. Sebuah takdir yang diikat dengan do’a.

Umar, Aku menanggung rindu ini berseorang saja.. engkau ripuh dengan dunia mu. Melelapkan buaian rindu mu pada kertas-kertas yang berbaris, pada pena yang bagai lautan tak jua mengering untuk mu. Cahaya malam ini kusam sekali. Engkau tak datang ketika aku berduka. Meski ku rebahkan lelah di pangkuan bumi kepasrahaan. Kekuatan itu sama sekali tak membaik. Aku tetap tersesat. Aku merasakan nafas sunyi dalam kegembiraaan. Perih. Pedih, menanggung derita yang aku ceritakan pada mu, tapi engkau sama sekali tak memahaminya. Sungguh aku lah wanita yang tak tegar tanpa mu. Terlalu lama aku mencoba. Terlalau banyak yang ku damba. Yang tersisa hanyalah penat.

Lalu dada malam pun terasa sempit untuk ku jadikan tempat menuang luka. Menatap kembali suhuf Tuhan yang mulai keriting ujungnya. Mungkin karena aku sangat mencintai kitab itu. Sudah berapa lama aku senang sekali membaca “Ruh” itu dari kertas yang bersampul biru langit cerah. Sebenarnya sekarang sudah tidak cerah lagi.

Umar, Kenang aku dalam do’a mu, kekasih.. jika keterpisahan adalah yang terbaik bagi kita. Biarkan Fathimah ini setia, meski engkau tidak menyaksikannya. Aku bersaksi bahwa Tuhan memperhatikan ku. Siapa pun yang ingin menjauhkan mu dari ku. Dia akan akan menghadapi mayat ku. Dan siapa pun yang ingin meminang ku setelah mu, maka biarlah dia merasakan sakit seperti ku. Karena mata ini sudah buta semenjak engkau mengecupnya. Hanya ada diri mu dalam diri Fathimah.

Bagaimana berani seseorang berkata begini begitu tentang mu, sementara akulah yang paling mengenali mu. Dari jengkalan kulit sampai helaian rambut. Aku mengetahuinya. maka bagi mu, sebaik-baiknya kesetian itu adalah milik wanita ini. Ini adalah malam pada bulan kesekian dari mu. Aku terus menatap beberapa kali langit itu sabit, lalu bulat. Namun aku tidak kehabisan sabar untuk yakin, bahwa engkau pasti akan menemui ku kembali.

Duhai umar, Sebait kabar terakhir mu, sudah ku cukupkan sebagai keyakinan bahwa engkau setia. Menjadikan fathimah untuk alasan khalwat mu dengan Tuhan dipenuhi ketulusan untuk berharap. “Fathimah adalah untuk ku dan terbaik dari Mu bagi ku, Tuhan. Berkahilah kebersamaan dan cinta kami. Lindungi kami dari godaan Setan dan keburukannya. Amiin.”.

 

**Wanita yang dipenuhi rindu pada kekasihnya, Fathimah.

Happy Birth Day, Umar..

Hujan belum berhenti malam ini. Isya.

Teruntuk: Insan-san.

Bandung, 11 April 2011. *hitungan tanggal islam, bada maghrib itu sudah masuk tanggal baru.. 12 April 2011..

“Dia yang pertama, Dia yang terakhir , Dia yang lahir, Dia yang batin.. Allah Ta’ala yang dengan Rahman dan RahimnNya maka dunia ini dibuatNya seimbang”

Tidak ada seorang yang jatuh cinta, yang mencari penyatuan dalam kerinduannya, kecuali kekasihnya mencarinya. Cinta harus dialami, bukan dijelaskan, karena berada diluar deskripsi apa pun. Karena cinta, yang pahit menjadi manis; karena cinta, biji tembaga menjadi emas. Karena cinta noda menjadi hilang; karena cinta , rasa pahit menjadi obat. Karena cinta yang mati dibuat hidup; karena cinta, sang raja menjadi hamba. Cinta memiliki lima ratus sayap, dan setiap sayap mengembang dari atas langit hingga ke bawah bumi. Sehingga cinta itulah yang menghantarkan ku pada mu. Lalu cinta pula yang menghilangkan jarak dan ruang bagi ku untuk melunasi rindu.

Tabiat satu yang telah dipisahkan dalam dua kerangka raga, laki-laki dan perempuan, suatu ketika akan kembali melebur dalam moment terindah dari kehidupan.

^_^

Apa yang akan diceritakan oleh wanita ‘miskin’ ini tentang ‘tuan’ yang begitu dicintainya. Namun titah adalah kehendak ‘tuan’..maka dengan keterbatasan.. wanita ini pun menyebutkan bahwa.. lelaki ini adalah seseorang yang menjadi pendidiknya! Seorang yang membuatnya belajar.. seorang yang sering memberikannya keyakinan. Seorang yang membuatnya tertawa, terharu, sedih, senang, bahagia, kecewa.. seorang yang utuh dalam perannya. Meski antara wanita dan ‘tuan’ ini adalah dua orang yang saling bercermin dalam sifat2nya.

Untuk mu yang menjadikan ku ‘bintang’ di langit hatinya,

“Miladukassa’idah, Di.. semoga Usia ini menjadi ‘alarm’ bagi, mu.. dan keberkahan atas mu..” Amiin

Seperti biasa, pada ritual malam, kita akan menyamakan frekuensi do’a.. maka dengan niat yang tulus semoga kita termasuk yang mendapatkan nilta ma’ nilta dari Allah Ta’ala.

 

Mimpi ku adalah bisa selalu disamping orang yang ku cintai (Umar kesayangan_ku). Mendampinginya. Aku tak ingin menyulitkannya karena aku menyayanginya..karena dia berharga, aku ingin dia bahagia! Impiannya adalah impian ku. Dia berhasil mencapai impiannya..itulah impian ku yang sebenarnya.  Nonk (Fathimah yang setia untuk Umar kesayangannya).

 

^_^,

P.S : Happy Birth Day,Umar..

 

 

 

Fathimah mu adalah pencemburu..

Lalu Fathimah menulis surat

“Untuk Umar yang di hatinya hanya Allah semata.

Umar, tentu masa penantian ini sangat menggelisahkan mu, kita. Namun percayalah bahwa di balik semua ini banyak hikmah dan kesempatan bagi kita untuk belajar!

Kebaikan tidak semata datang dari benar-benar amal kebaikan, tapi juga bisa dari kesalahan. Seperti yang sering engkau katakan bahwa, dari salah satu kisah,..

“Menjadi orang yang tidak melakukan kesalahan itu baik. Namun tidak ada seorang keturunan Adam yang tidak pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baiknya keturunan Adam adalah yang melakukan kesalahan lalu belajar dan memperbaiki diri dari kesalahannya itu..”

Bahwa tidak ada yang salah dengan pernah berbuat salah, selama kita memperbaiki diri. Lalu engkau pun mewasiatkan pada ku,bahwa..
“Jangan sekali-kali engkau mengharapkan kebaikan dan perbaikan diri, selama engkau masih melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan kemaren”

Karena seorang hamba yang beruntung adalah hamba yang mampu berbuat lebih baik hari ini dari pada kemaren.

Umar, ini adalah pengantar surat dan pengingat ku atas semua wasiat-wasiat cinta yang kau tunjukan demi kebaikan ku.

Duhai yang menguatkan ‘Azam dengan do’a-do’a pada Tahajjud qudus..

Fathimah ini hanyalah wanita biasa yang mudah memiliki kecemburuan. Lalu kenapa, penolong agama ku ini selalu seperti ingin membuat ku cemburu!

Apa engkau suka waktu ku ini habis hanya dengan meratap dan ragu..kiranya engkau itu masih membenarkan pinangan mu atau sudah lupa?!

Engkau tau bahwa setiap kali aku menemukan mu dekat dengan seseorang aku terdiam. Janganlah lalu dianggap setuju dan baik-baik saja. Tidak, umar.. aku cemburu!!

Jika bukan perkataan mu..”Kita perjuangkan ‘Azam kita untuk segera melunasi kerinduan ini ya, Fathimah.. engkau selesaikan study mu..dan aku selesaikan tugas-tugas ku.. dan pada masa selesai semua itu, aku akan segera datang ke rumah mu untuk pernikahan kita..”

Mungkin aku sudah berpasrah diri. Aku ingin mundur, umar. Dalam lelah ku menyusun masa depan, dalam motivasi yang ku susun melalui nama mu.. aku ingin segera menyelesaikan kewajiban ku. Namun melihat mu yang seolah senang membuat ku cemburu. Ah.. aku tidak cukup baik untuk memahami bahwa ini adalah sebuah ujian.

“Bercerminlah pada mu..”
Aku sudah melakukannya. Lalu siapa yang harus ku jadikan cermin kemudian, Umar.. Engkau kah?! Yang selalu membalas setiap perbuatan ku dengan perbuatan yang sama, bahkan mungkin lebih. Aku mendapat angka satu untuk kesalahan itu, dan engkau menghukum ku dengan kegelisahan yang bertumpuk-tumpuk dengan pembalasan mu yang menyakitkan sesekali.

Apakah kita masih menjaga ‘azzam ini, umar?!
Apakah aku masih akan menjadi bidadari mu.. sementara engkau tidak mengijinkan ku untuk tenang dalam kekhusyuan menata niat ini.

Engkau yang matanya tertunduk kala “berjalan”..

Apakah kita masih satu jalan yang sama. Dimana menyirami keyakinan pada masa penantian ini dengan keikhalasan!! Atau kita sudah terobsesi untuk pembenaran versi kita.

Aku masih sangat menghargai mu dengan segenap kekurangan ku, Umar.. meski aku adalah seorang pencemburu!! Ku tinggalkan setiap orang-orang yang tidak engkau sukai. Aku melepas kebiasaan-kebiasaan yang engkau tidak sama sekali melihat manfaat itu dari ku. “Ku tundukan pandangan ku ketika berjalan, agar tidak sedikit pun ada sosok lain yang mencuri sudut hasrat ku selain mu..”
Boleh jika ku minta itu dari mu, Umar. Tanpa harus beralasan. Pandangan yang tertunduk karena malu pada ‘Azzam yang bulat kita sepakati, hanya ada kita tidak selainnya.

Ketika aku bertanya.. “pentingkah mereka untuk mu, Umar.. lalu sebutkan kan pada ku siapa mereka dan apa kepentingan mu terhadap mereka, atau mereka terhadap mu! Aku seorang perempuan yang tidak mengapa engkau tinggakan dalam penantian dengan alasan untuk menjaga diri.. aku akan menggugat jika engkau tidak seperti yang engkau ucapkan pada ku. Aku tidak akan rela menjalani masa penantian dalam penjagaan terhadap mu, sementara engkau tidak sedikit pun berusaha untuk menjaga masa penantian itu..”

Pada nikmat yang Tuhan bagikan untuk setiap jiwa.

Umar, aku tidak pandai mengungkapkan isi hati ku, bukan?! Banyak kata-kata yang kadang samar untuk ku maksudkan, namun demikianlah aku.

Isi surat kali ini hanya ingin menegaskan bahwa aku masih pada jalan ku. Menjaga ‘azam dengan terus berbenah, insyaAllah. Namun tak ku pungkiri bahwa aku adalah seorang pencemburu. Entah engkau akan memperlakukan kecemburuan ku seperti apa.. semua adalah kehendak mu.

Bagi embun yang mulai kering dalam nafas tasbih.

Aku liputi dluha ku dengan hening. Di Bandung pada jarak yang sangat jauh dari mu. Kemenangan ‘azzam kita ada pada muara do’a..pada setiap kerinduan yang bergerak laiknya pendulum ditiang keterpisahan kita!

Umar, penantian ini masih perlu engkau!

Yang merahasiakan mu dari angin keraguan,
Fathimah.”

Maka surat ini pun di lipat. Disimpan. Dikirimkan pada do’a selepas dluha nanti.

Umar, aku merindukan mu..

Untuk yang ku cintai dengan air mata..
Umar..umar..umar..

Siapakah yang paling takut dengan dosanya?! siapakah yang paling baik penjagaannya?!

aku tidak tau, umar..

aku hanya tidak ingin menghiasi cinta ku dengan air mata seperti ini.. karena air mata ini pula yang mengurangi kadar cinta ku pada mu!!

cinta adalah sesuatu yang ku simpan di hati,karena itulah terasa berat hati dengan adanya cinta ini. namun kemudian aku tidak sanggup membawa beban berat itu seorang diri, maka aku pun menangis!!

dan dari tangisan inilah hati terasa ringan. aku lalu bertanya, kenapa hati ku terasa lebih ringan.. duhai.. rupanya cinta ku pun sudah berkurang dengan air mata ini!!

Umar.. jangan buat aku menangisi cinta mu..karena aku tidak ingin menguranginya.

Aku sungguh ingin mengembalikan mu pada apa yang engkau inginkan sekarang.

Ketika salju turun di hati pecinta..

Sepertiga Malam. Bercengkrama dengan Tuhan. Menangis.

Suatu kelak mungkin engkau akan melupakan ku. Suatu kelak mungkin engkau akan tidak lagi membutuhkan ku. Suatu kelak mungkin engkau sudah tidak lagi mengatakan..’fatimah, engkau lah takdir cinta yang akan ku persunting jasad mu di Rumah Tuhan yang megah itu’. Mungkin.

Aku cukup dungu untuk mengenali semua teka teki jalan hidup dari Tuhan. Entah kini adalah masa dimana aku kembali memikirkan untuk tetap mengkhususkan mu menjadi “pengembar ku’… Namun begitu…….:

Aku merindukan mu, umar.

Duhai Lelaki yang jauh dari tempat tidur ku. Menikmati sakit. Menyederhanakan lelah menjadi tarikan nafas yang panjang.

Umar, kekasih ku…

Aku tidak bisa menahan kerinduan ku malam ini. Sangat. Aku bahkan seperti gila. Umar, aku merindukan mu.

Merindukan engkau yang perlahan bergeser. Merindukan engkau yang melupakan nama fatimah dari kamus pikiran mu.

Umar, aku masih benar mencatat mu sebagai impian terbesar ku. Entah engkau sudah lupa dengan nama itu. Aku wanita yang kau cintai dengan penuh, kata mu. Aku wanita yang kau percayakan seluruh hidupmu, katanya. Kini hilang dari sematan aktivitas mu.

“Tuhan, inikah giliran aku untuk mengejarnya, atau meninggalkannya?!”

Jika aku mengejarnya. Apa aku tidak akan sia-sia, Tuhan?!

Jika aku meninggalkannya, apakah aku akan bisa tanpa menangisi kehilangannya?!!

Umar, Aku ingin mengembalikan semua pada kewajaran dan kesekedaran. Meski sulit. Aku ingin engkau cukup kembali seperti dulu.

Aku merindukan umar terbaik, yang sederhana mencintai ku, yang menyentuh kuncup bunga cinta ku hingga mekar. Dan aku pun cemerlang menjadi bintang dilangit sejarah dunia.

Aku tidak membutuhkan semua perhiasan yang terbaik di dunia, aku hanya ingin engkau. Kembali seperti apa adanya diri mu, kekasih…

Menjadi seseorang yang dengan kebohongan, engkau memuji ku.. menampakan kelembutan mu!!

“Duhai, jiwa ku.. apakah aku harus memohon pada mu untuk berbohong?!! Berbohonglah untuk ku, puji aku sebagaimana dulu engkau mengagumi ku.. sebagaimana dulu begitu besar cita-cita cinta kita, yang terlepas dari semua ambisi dan kekurangan!!”

Camar ku, apakah takdir cinta yang kita agungkan itu telah berubah menjadi hal yang kita sesali bersama?!

Aku melihat istana yang megah itu telah tertutupi rimbun belukar yang tajam durinya. Aku tidak bisa mendekat sekedar untuk membersihkan halamannya dan menengok mu, masih kah ada disana?!

Kita menjelma menjadi seperti pasangan biasa. Yang melakukan ritual putaran hidup seyogyanya saja. Kita begitu menggebu-gebu penuh sanjung dan pujian di awal masa, dan kita pun kehilangan semua itu diakhirnya.

Tidak, kekasih ku.. jangan perlakukan hubuangan cinta ku seperti demikian. Demi Allah, yang aku ridho untuk menjadikan-Nya Tuhan bagi ku… aku tidak ingin menjadi bagian dari hal yang biasa. Kembalikan aku pada kadar yang terbaik untuk memenuhi mu dengan kebaikan.

Aku memang tidak semenyenangkan, tidak secantik dan seluar biasa ketika engkau pertama kali melihat ku. Namun sungguh, tidak ada yang berubah dari mata bathin ku melihat mu. Engkau tetap sempurna dan yang menyempurnakan seperti sela-sela jari yang terbuka untuk menyilahkan jari tangan lain masuk dan merapatkan genggaman menjadi ikatan yang kukuh.

Tentu, Umar.. kita masih mengingat, bahwa hubungan kita adalah sebuah ikatan yang kuat, yang Tuhan sebagai saksinya.

Aku merindukan semua ritual kita dulu. Ritual yang tidak diboncengi dengan kemarahan, ritual yang tidak di campuri dengan cela dari kita masing-masing.

Humus jiwaku,jangan pudarkan pesona kecendrungan ini dengan kebosanan mu.

Aku sebagai wanita mu, hanya meminta luangkan waktu sejenak untuk ku. Cumbu aku sebaik yang engkau bisa dengan puisi-puisi cinta.

 

Wanita yang menangis atas ‘salju’  kekasihnya,

Fatimah

June and the Autism.. (A letter for Umar)

Umar..

Hai. Aku senang engkau menelphone, meskipun hanya untuk mengatakan “hai”. Tapi, aku tidak bisa benar-benar menunjukan rasa senang itu! karena menujukannya berarti perang. Kadang-kadang aku berharap kamu ada disini atau aku ada disana untuk saling membantu menahan ‘kegilaan’ yang membuat ku menyimpang dari diriku yang sebenarnya.

Aku merasa dekat dengan mu. aku merasa aman bersama mu. engkau adalah orang yang membuat ku merasa “memiliki”. Engkau adalah orang yang menjadikan ku merasa memiliki “kekhususan”. U make me so special! :D

Semakin aman dan bahagia perasaan ku, semakin besar keinginan ku untuk lari dan melarikan diri. Apakah engkau menyadari ini? apakah engkau cukup peduli, punya cukup kesabaran dan cukup pemahaman untuk mendukung perjuangan ku melawan dorongan yang bodoh ini? seandainya tidak, itu tidak apa-apa. Hanya saja, rasanya, sangat sulit bagi ku jika mengetahui jika engaku tidak mengerti!!.

Hari ini aku ‘melarikan diri’. aku hanya ingin meraih mimpi ku sendiri. bisakah engkau bertanya “apakah yang di inginkan JUNE?” setelah itu, aku bisa bebas.
aku bisa mengatakan kepada mu apa yang aku ingikan meskipun tindakan-tindakanku berlawanan!!
aku bisa mengatakan kepada mu bahwa aku ingin meraih mimpi ku, tetapi tindakan-tidakan ku tidak membiarkannnya; otak ku tidak membiarkanku mengandalikan tindakan-tindakan ku.

Jika Autisme menang seperti ini (atau jika engkau secara salah menganggap bahwa reaksi autisme ku itu sebagai reaksi sebenarnya..), aku merasa begitu terjebak di dalamnya sehingga aku ingin menyerah pada seluruh dunia!!.
aku takut engkau tidak bisa memisahkan diriku dari autisme ku. itu berarti aku sendirian… dan sendiri itu sedih, umar!!! :'( … aku merasakan kan..pernah merasakannya!!! engkau akan terpaksa membiarkan ku tenggelam ke dalam pelukan monster batin ini!!.

Engkau tahu, umar..
ini berat bagi ku…kadang-kadang,autisme itu merampok teman-teman ku. kadang-kadang, dia menyembunyikan teman ku. kadang-kadang, aku bergantung pada sebuah batu karang dan engkau memegang tangan ku, dan kamu pasti akan merasa berat untuk terus memegang ku.
Aku tidak tahu apakah kamu memiliki kekuatan untuk membantu ku berjuang selama yang ku butuhkan?!. Kuharap;Ya… karena saat engkau berjuang bersama ku menghadapi sakit ini, aku merasa sangat mampu untuk menghadapinya!! :'(
selain itu, aku pun sangat membutuhkan banyak perhatian dari mu. Engkau memilikinya. Aku yakin akan hal itu. Tapi kegilaan ini terkadang mengalahkan keyakinan ku. Aku takut, Umar.. bagaimana jika aku kalah.. dan terus berada di di balik kaca sendiri!! :'( karena kadang-kadang penyakit ini lebih besar dari kita kekuatannya. itu sebabnya, kadang-kadang aku yakiin bahwa kau harus menyerah dan tidak ada seorang pun yang bisa membantu ku, termasuk engkau, Umar!! :'(

jika aku terpaksa harus menyerah kepada seseorang, aku tidak menginginkanya. itu tidak membuat ku gembira. hanya saja, aku tidak perlu lagi perlu berjuang terlalu keras!! tetapi, hidup ku layak di perjuangkan! Aku sudah melihat kebahagiaan seperti itu bersama mu sehingga aku tahu itu layak untuk di perjuangakan… tetapi, perasaan lelah ini…kadang-kadang, membuat ku benar-benar lelah!! sulit sekali melawan dan mengalahkan, dan memperdaya kegilaan yang besar, kuat, dan tak kasat mata ini!! :'(

Aku tidak menyesal. aku tidak berdaya terhadao sesuatu yang terjadi. Engkau juga tidak menyesal. Engkau juga tidak berdaya.. (bahkan engkau masih meragukan kegilaan ku..). barangkali semuanya akan sulit buat kita, tapi kesulitan itu tidak akan pernah sama dengan kesulitan orang lain!

Aku tidak akan pernah lari dari mu, meninggalkan mu, atau menggantikan diri mu dengan orang lain, karena engkau berjuang untuk ku sejauh ini.. selalu menemani ku.. dan aku sangat cenderung pada mu!
Kehidupan ini bukan milik autisme, tetapi milik ku!!!!
autisme tidak berpihak pada “apa adanya”, begitu juga dunia, tetapi aku berpihak pada “apa adanya”, begitu juga engkau; dan aku akan berjuang untuk mendapatkan hak itu atau mati saat mencoba memperjuangkannya!!

Autisme adalah sesuatu yang tidak bisa ku lihat. Dia membuat ku berhenti menemukan dan menggunakan kata-kata ku saat aku menginginkannya. atau membuat ku menggunakan semua kata-kata dan hal-hal konyol yang tidak ingin ku katakan!!.

Autise membuat ku mendengar kata-kata orang lain, tapi tidak mampu memahami maknanya. atau autisme membiarkan ku mengatakan kata-kata ku sendiri, tanpa memahami apa yang ku katakan atau bahkan yang ku pikirkan!!

autisme membuatku terpisah dari pikiran-pikiran dan rasa ingin tahu ku sehingga aku percaya aku tidak memikirkan apa2 atau aku tidak tertarik pada apa2. atau autisme membuat pikiran ku hampir meledak dengan keinginan untuk menjangkau dan mengatakan apa yang ku pikirkan, atau menunjukan apa yang menarik minat ku… tetapi tidak ada yang keluar, bahkan tidak pada wajahku,pada mata ku, atau pada kata-kata ku!!

autisme membuat ku terpisah dari tubuhku sendiri sehingga aku tidak merasakan apa-apa. autisme juga bisa membuatku sangat sadar akan sesuatu yang kurasa sangat menyakitkan.

autisme kadang-kadang membuatku merasa bahwa aku sama sekali tidak memiliki diri dan aku merasa sangat terbenani dengan kehadiran orang lain sehingga aku tidak bisa menemukan diriku sendiri. autisme juga membuat ku sadar sepenuhnya akan diri ku sendiri sehingga seluruh dunia di seputar ku seakan-akan tidak seimbang dan membingungkan!!.

hal terpenting yang ku pelajari:
Autisme bukanlah diri ku. Autisme hanyalah sebuah masalah yang mencoba menghentikanku untuk bebas menjadi diri ku sendiri. Autisme berusaha merampok hidup ku, persahabatan ku, kepedulian ku, keinginan untuk bergagi minat-minat ku, kecerdasan ku, dan keterpengaruhan ku… dia berusaha mengubur ku hidup-hidup!!!

Aku bisa memerangi autisme…
aku akan mengandalikannya.. dan tidak akan dikendalikannya…

Umar, jangan berhenti disini. aku sedang bersemangat dalam pertempuran ini!!! bantu aku lebih kuat dalam perjuangan ini!! pedulikan aku lebih baik lagi, sehingga aku tidak pernah berpaling dari wajah mu… :)

Yang mencintai Umar,
June.. (yang masih berjuang d dunia kaca yang kadang2 masih menyekapnya!!)