KONSEP MURABAHAH DAN ISTISNA DALAM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

KONSEP MURABAHAH DAN ISTISNA DALAM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

OLEH : NURSAMAN

Abstrak :

Islamic finance is emerging as a rapidly growing part of the financial sector in the Islamic world. Islamic finance is not restricted to Islamic countries, but is spreading wherever there is a sizable Muslim community.

Keyword :

Murabahah atau Istishna’ adalah solusi terbaik pembiayaan masa kini.

A.    Pendahuluan

Menurut beberapa perkiraan, lebih dari 100 lembaga keuangan di lebih dari 45 negara praktek beberapa bentuk keuangan Islam, dan industri telah berkembang pada tingkat lebih dari 15 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Tahun ini omset pasar tersebut diperkirakan menjadi $ 70 miliar, dibandingkan dengan hanya $ 5 miliar pada tahun 1985, dan diproyeksikan untuk memikul 100 miliar tandai $ dengan pergantian abad.

Pertumbuhan keuangan Islam pada awalnya bertepatan dengan surplus transaksi berjalan dari ekspor minyak negara-negara Islam. Namun pertumbuhan yang berkelanjutan dalam menghadapi mengikis pendapatan minyak mencerminkan pengaruh faktor lain, seperti keinginan untuk sistem sosial, politik dan ekonomi berdasarkan prinsip Islam dan identitas Islam yang kuat. Di samping itu, pengenalan makro ekonomi dan reformasi struktural yang luas – dalam sistem keuangan, liberalisasi gerakan modal, privatisasi, dan integrasi pasar keuangan global – telah membuka jalan bagi perluasan keuangan Islam.

Sejak awal 70-an, gerakan Islam tingkat nasional telah memasuki bidang ekonomi dengan diperkenalkannya system ekonomi Islam, sebagai alternative terhadap system kapitalis  dan sosialis. Wacana system ekonomi Islam diawali dengan konsep ekonomi dan bisnis nonribawi. Menurut Umar Chappra dalam bukunya, The Future of Economics bahwa ekonomi islam itu identik dengan system keuangan dan perbankan. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh dua factor. Pertama, petunjuk Tuhan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang paling menonjol. Kedua, peristiwa krisis minyak 1974 dan 1979, yang menimbulkan kekuatan financial, berupa petro dolar pada Negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Brunei di Asia Tenggara. Melihat gejala itu timbul pemikiran untuk memutar dana petro-dolar tersebut melalui lembaga keuangaan syariah (LKS).[1]

Diantara system keuangan yang ada dalam perbankan syariah adalah konsep pembiayaan muraabahah dan istissna yang akan dibahas dalam makalah/artikel ini

B.     Apa pembiayaan Murabahah dan Istisna?

Dalam bahasa Inggris disbut Trade with markup or cost-plus sale ialah perdagangan dengan markup atau-plus biaya penjualan. Murabahah secara sderhana adalah suatu penjualan barang seharga barang trsebut ditambah keuntungan yang disepakati.[2] Jadi singkatnya, murabahah adaalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pemebeli.

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin)    yang disepakati oleh penjual dan pembeli.[3] Murabahah adalah menjual barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan barang tersebut kepada pembeli.[4]  Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau secara tangguh.[5]  Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan berapa reqiued rate profit-nya. Menurut Sayyid Sabiq murabahah adalah akad jual beli yang ditambahkan keuntungan dan disebutkan pada saat akad.[6]

Dalam fatwa DSN-MUI, bahwa istisnna’ akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni) dan penjual (pembuat-shani’).[7]

Pada dasarnya, pembiayaan istishna’ merupakan transaksi jual beli cicilan pula seperti transakssi muajjal. Namun, berbeda dengan jual beli murabahah dimana barang diserahkan di muka sedangkan uangnya dibayar cicilan, sedangkan dalm jual-beli istishna’ barang diserahakan dibelakang, walaupun uangnya juga sama-sama dibayar dengan dicicil.

Dengan demikian, metode pembayaran pada jual-beli murabahah muajjal sama persisis dengan metode pembayaran jual-beli istishna’, yakni sama-sama dengan system angsuran (installment). Satu-satunya yang membedakaan antara keduanya adalah waktu penyerahaan barangnya.

C.    Syarat dan Rukun Murabahah dan Istishnaa’

  1. Syarat :
    1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah.
    2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.
    3. Kontrak harus bebas riba.
    4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.
    5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya: jika pembelian dilakukan secara utang. Jadi di sini terlihat adanya unsur keterbukaan.
    6. Rukun :
    7. Transaktor (pihak yang bertransaksi)
    8. Obyek murabahah
    9. Ijab dan kabul.

 Klasifikasi Murabahah

    1. Dalam pengadaan barang ada dua bentuk : pesanan (mengikat) dan tanpa pesanan (tidak mengikat)
    2. Dalam pembayaran barang ada dua bentuk : tunai dan tangguh
    3. Pembebanan biaya, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut. Menurut ulama mazhab Syafii membeolehkan membeabaankaan biaya yang secara umum timbul dalam suatu transaksi jual-beli kecuali biaya tenaga kerjanya sendiri karena komponen ini termasuk dalam keuntungaannya.[8] Ulama mazhab Hanafi membolehkan membebankan biaya-biaya yang secara umum timbul dalam ssuatu transaksi juaal-beli, namun mereka tidak membeolehkan biaya-biaya yang semestinya dikerjakan oleh si penjual.[9] Ulama mazhaab Hambalai bahwa semua biaya langsung maupun tidak laangsung dapat dibebankaan pada harga jual selama biaaya-biaya itu harus dibayarkaan kepada pihak ketiga dan akan mnambah nilai baaraang yang dijual.[10].

    E.     Multi Akad Murabahah

    1. Al-Bai’ Naqdan wal Murabahah Muajjal, bayar cicilan. Dalam praktek yang dilakukan oleh bank syariah saat ini adalah murabahah berdasarkan pesanan, sifatnya mengikat dengan pembayaran tangguh. Dalam perbankan, murabahah lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (bitsaman ajil). Dalam transaksi ini barang diserahkan segera setelah akad sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh.

Dalam fiqih klasik, penjual membeli barang langsung dari penjual pertama.

Dalam perbankan syariah, umumnya aplikasinya sebagai berikut :

–        Bank melakukan pemesanan barang kepada supplier, namun barang dikirim langsung kepada nasabah. Ini dilakukan karena bank tidak memiliki gudang penyimpanan barang.

–        Nasabah membeli sendiri langsung dari supplier selaku wakil bank. Dalam hal ini bank melakukan akad wakalah dengan nasabah.

1. Al-Bai’ Naqdan wal Murabahah Mu’ajjal, bayar Lump-Sum di Akhir.

 F.     Mekanisme Penentuan Marjin Murabahah dalam Bank Syariah

Secara teknis, yang dimaksud marjin keuntungan adalah peresentase tertentu yang diterapkan per tahun perhitungan marjin keuntungan secara harian, maka jumlah hari dalam setahun ditetapkan 360 hari, perhitungan marjin keuntungan secara bulanan, maka setahun ditetapkan 12 bulan.

1.      Referensi Marjin Keuntungan

Yang dimaksud dengan Referensi Marjin Keuntungan adalah marjin keuntungan yang ditetapkan dalam rapat ALCO Bank syariah. Penetapan marjin keuntungan pembiayaan berdasarkan rekomendasi, usul dan saran dari tim ALCO Bank Syariah, dengan mempergunakan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Direct Compotiter’s Market Rate (DCMR), ialah tingkat marjin keuntungan rata-rata perbankan syariah.
  2. Indirct Competitor’s Market Rate (ICMR), ialah tingkat suku bunga rata-rata perbankan konvensional.
  3. Expected Competitive Return for Investors (ECRI), target bagi hasil kompetitif yang diharapkan dapat diberikan kepada dana pihak ketiga.
  4. Acquiring Cost, biaya yang dikeluarkan oleh bank yang langsung terikat dengan upaya yang dikeluarkan oleh bank yang langsung terikat dengan upaya untuk memperoleh dana pihak ketiga
  5. Overhead Cost, biaya yang dikeluarkan oleh bank yang tidak langsung terikat dengan upaya untuk memperoleh dana pihak ketiga.

2. Penetapan Harga Jual 

Setelah memperoleh referensi marjin keuntungan, bank melakukan penetapan harga jual. Harga jual adalah penjumlahan harga jual/harga pokok/harga perlehan bank dan marjin keuntungan.

3.      Pengakuan Angsuran Harga Jual

Pengakuan angsuran dapat dihitung dengan menggunakan empat metode, yaitu :

  1. Metode marjin keuntungan menurun (sliding) ialah perhitungan marjin keuntungan yang semakin menurun sesuai dengan menurunnya harga pokok sebagai akibat adanya cicilan/angsuran harga pokok yang dibayar nasabah setiap bulan menurun.
  2. Marjin keuntungan rata-rata ialah marjin keuntungan menurun yang perhitungannya secara tetap dan jumlah angsuran dibayar nasabah tetap setiap bulan
  3. Marjin keuntungan flat ialah perhitungan marjin keuntungan terhadap nialai harga pokok pembiayaaan secara tetap dari satu periode ke periode lainnya, walaupun baki debetnya menurun sebagai akibat dari adanya angsuran harga pokok
  4. Marjin keuntungan annuitas ialah marjin keuntungan yang diperoleh dari perhitungan secara annuitas. Yakni suatu cara pengembalian pembiayaan dengan pembayaran angsuran harga pokok dan marjin keuntungan secara tetap. Perhitungan ini akan menghasilkan pola angsuran harga pokok yang semakin membesar dan marjin keuntungan yang semakin menurun.

4.      Persyaratan untuk perhitungan marjin keuntungan

Marjin keuntungan = f (plafond) hanya bisa dihitung apabila komponen-komponen yang dibawah ini :

  1. Jenis perhitungan marjin keuntungan
  2. Plafond pembiayaan sesuai jenis
  3. Jangka waktu pembayaran
  4. Tingkan marjin keuntungan pembiayaan
  5. Pola tagihan atau jatuh tempo tagihan (baik harga pokok maupun marjin keuntungan). Tanggal jatuh tempo tagihan merupakan tanggal yang tidak termasuk dalam perhitungan dari marjin keuntungan.
  6. G.    Contoh-Contoh Perhitungan Marjin Keuntungan
  7. Marjin keuntungan menurun
    1. Nasabah dengan plafond, PLFN = Rp. 100.000.000.00
    2. Jangka waktu pembiayaan 1 tahun
    3. Tingkat marjin keuntungan setahun, MRJ = 16%
  8. Maka  jadwal angsuran pembiayaan sebagai berikut :

-          Angsuran harga pokok per bulan, APPB = (PLFN/12) = 8,333,333,33

-          Pencairan 10-10-2010 sejumlah Rp. 100,000,000.00

No.

Tanggal

Pokok

Marjin Keuntungan

1.

10-11-2010

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

2.

10-12-2010

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

3

10-01-2011

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

12.

10-11-2011

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

Jadi untuk menghitung angsuran ke 2 maka :

APPB = Pokok = 8,333,333.33

((PLFN-(No-1) APBB) MRJ)/12 = Marjin euntungan =

((100,000,000-(2-1) 8,333,333.33)0,16/12 = Rp. 1,222,222.22

Angsuran (2)

Angsuran harga pokok =               Rp. 8,333,333.33

Angsuran marjin keuntungan=      Rp. 1,222,222.22

Rp. 9,555,555.55

Angsuran (5)

APPB = Pokok = 8,333,333.33

(100,000,000-((5-1) 8,333,333.33) 0,16)/12 = Rp. 888,888.88

Angsuran harga pokok =               Rp. 8,333,333.33

Angsuran marjin keuntungan=      Rp.    888,888.88

Rp. 9,222,222.22

  1. 2.      Marjin keuntungan rata-rata
  1. Nasabah dengan plafond, PLFN = Rp. 100.000.000.00
  2. Jangka waktu pembiayaan 1 tahun
  3. Tingkat marjin keuntungan setahun, MRJ = 16%

Maka  jadwal angsuran pembiayaan sebagai berikut :

-          Pencairan 10-10-2010 sejumlah Rp. 100,000,000.00

-          APPB = PLFN/12 (1 Tahun – 12 Bulan)

-          Marjin keuntungan = (JWK + 1) / (2 JWK) PLFN (MRJ/12)

No.

Tanggal

Pokok

Marjin Keuntungan

1.

10-11-2010

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

2.

10-12-2010

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

3

10-01-2011

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

12.

10-11-2011

APPB

(PLFN-(No-1) APPB) MRJ)/12

Maka rumusnya adalah :

Angsuran (i)                         = Harga pokok (i) + Marjin keuntungan (i),

Untuk I = 1 s/d JWK

Angsuran harga pokok (i)     = APPB = 100,000,000/12 = Rp. 8,333,333.33
Angsuran marjin

Keuntungan (i) =

((JWK + 1)/(2 JWK))

PLFN (MRJ/12)

((12 + 1) / (2 12)

100,000,000 (0,16/12)

= Rp. 720,000.00
TOTAL = Rp. 9,053,333.33
  1. 3.      Marjin keuntungan angsuran flat
    1. Nasabah dengan plafond, PLFN = Rp. 100.000.000.00
    2. Jangka waktu pembiayaan 1 tahun
    3. Tingkat marjin keuntungan setahun, MRJ = 16%
    4. k = Angsuran ke 1, 2, 3, …. dan seterusnya.

Maka jadwal angsuran pembiayaan adalah sebagai berikut :

-          Pencairan 01-10-2010 sejumlah Rp. 100,000,000.00

-          APPB (k) = Harga pokok (k) = PLFN/WJK

-          APMB (k) = Marjin keuntungan (k) = (PLFN/JWK) (MRJ/12)

Maka angsuran ke 5 :

Angsuran harga pokok (5)      = (100,000,00/12)                           = Rp. 8,333,333.33
Angsuran marjin

Keuntungan (5)                       = (100,000,000/12) (0,16/12)          = Rp.    444,444.44

     TOTAL                                       = Rp. 8,777,777.77
  1. 4.       Marjin keuntungan annuitas
  1.  Nasabah dengan plafond, PLFN = Rp. 100.000.000.00
  2. Jangka waktu pembiayaan 1 tahun
  3. Tingkat marjin keuntungan setahun, MRJ = 16%
  4. k = Angsuran ke 1, 2, 3, …. dan seterusnya.

Maka jadwal angsuran pembiayaan adalah sebagai berikut :

Pencairan 10-10-2010 sejumlah Rp. 100,000,000.00

No.

Tanggal

Pokok

Marjin Keuntungan

1.

10-11-2010

APPB (No)

AMPB (No)

2.

10-12-2010

APPB (2)

AMPB (No)

3

10-01-2011

APPB (3)

AMPB (3)

12.

10-11-2011

APPB (12)

AMPB (12)

Dimana angsuran (k) =

APPB (k) = Harga pokok (k) = ( 1 + (MRJ/12)) (k-1)          x PLFND x (MRJ/12)

(1 + (MRJ/12) ) (jwk)-1

 

AMPB (k) = Marjin keuntungan (k) =    (1 + (MRJ/12)) (JWK)    1 x Harga pokok (k)

(1 + (MRJ/12)) (k -1)

Contohnya kita ingin mengetahui angsuran ke – 3 :

Angsuran harga pokok (3) =

       ( 1 + 0,0133) (3-1)         x 100,000,000 x 0,013              = Rp. 7,948,478.09

       ( 1 + 0,013) (12)

Harga Pokok +

Marjin Keuntungan

 

 

 

Angsuran marjin keuntungan (3) =

       ( 1 + 0,0133) (3-1)         x  7,948,478.09                        = Rp. 1,122,447.72

       ( 1 + 0,013) (12)

TOTAL angsuran ke-3             = Rp. 9,070,925.81

H.    Kesimpulan dan Saran

Pembiayaan murabahah atau istishna’ merupakan dua konsep pembiayaan lembaga keuangan syariah (LKS) masa klasik dan masa kini, yang merupakan konsep pembiayaan yang banyak di jalankan di banyak bank syariah di Indonesia. Dengan peresentase 70% dari pembiayaan yang ada, dengan alasan sedikit resiko bahkan tanpa resiko bagi lembaga pembiayaan yang ada.

Dengan demikian, adanya bank syariah yang banyak menggunakan system pembiayaan murabahah atau istishna’ belum bisa menggerakan ekonomi sector riil nasional. Karena dalam system pembiayaan murabahah atau istishna’ masih sekitar barang konsumtif yang bersifat temporer, sehingga belum dapat mempengaruhi perekonomian secara nasional.

Padahal dengan adanya bank tanpa bunga harus dapat menjadi solusi terbaik untuk menggerakan perekonomian nasional terutama ekonomi mikro. Karena itu, dengan bergemingnya ekonomi syariah dengan lembaga keuangan syariah yang ada, menjadi solusi dan motivasi bagi umat Islam Indonesia untuk bangkit dari ekonominya. Karena dalam ekonomi syariah mempunyai prinsip keadilan, kejujuran, transparan, dan tanpa ribawi atau bunga.

Dengan saran, marilah para perilaku ekonomi terutama para pelaku pasar dan perbankan untuk meningkatkan pelayanan yang terbaik dan teradil agar masyarakat muslim dan non-muslim tertarik dan tergerak untuk menggunakan system pembiayaan syariah. Terutama para pelaku perbankan syariah dalam menggunakan pembiayaan murabahah atau istishna’ jangan hanya pada barang konsumtif. Atau jangan hanya menjalankan pembiayaan murabahah atau istishna’ saja, tetapi masih ada yang lain seperti mudharabah, musyarakah, dan lain-lain terutama yang bisa menggerakkan sector riil secara nasioal.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Hasan, Bermacam Transaksi dalam Islam,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Bahuti, Kasyaful Qina’ ‘an Matin al-Aqna, Beirut: Dar al-Fikr, tt, jilid. III.

Bank Indonesia, Ikatan Akutansi Indonesia PSAK, www. BI. Com.

Himpunan Fatwa DSN untuk lembaga keuangan syariah, edisi pertama, 2001, Fatwa No. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli istishna.

Karim, A. Adiwarman, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, 2007.

—————————-, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Edisi Ketiga, 2006.

—————————-, Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Edisi Kedua, 2008.

Kasani, Bada’us Sana’ Fi Tartibisy-Syara’: Syarah Tuhfatul  Fuqaha lil Samarqandi, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah, Bandung: Al-Ma’arif, Jilid. XII, 1987.

-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ‘ala Ma’arif Ma’ani al-Minhaji, Semarang: Toha Putra, tt.

 

 

**posted by:  June *Nonkshe

Note: Ada beberapa bagian yang berantakan ketika di upload, jadi maaf ketika bacaan dan infonya kurang jelas.. *pak Nur, Gome tulisannya jadi agak acak2an.. ^_^


 


[1]  Adiwarman. A. Karim, Perbaankan Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007), hlm. XVIII

[2]  Ibid, halm. 113.

[3]  PSAK No. 59 :  pragraf 52.

[4]  PSAK No. 102 : pragraf 5

[5]  PSAK No. 102 : pragraf 8

[6]  Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung: Al-Ma’arif, 1987), Jilid. 12, hlm. 79.

[7]  Himpunan Fatwa DSN untuk lembaga keuangan syariah, edisi pertama, 2001, Fatwa No. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli istishna,.

[8]   Al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ‘ala Ma’arif Ma’ani al-Minhaji, hlm. 78.

[9]  Al-Kasani, Bada’us Sana’ Fi Tartibisy-Syara’: Syarah Tuhfatul  Fuqaha lil Samarqandi, hlm. 223.

[10]  Al-Bahuti, Kasyaful Qina’ ‘an Matin al-Aqna, III, HLM. 234.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s