IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM LARANGAN BUNGA PADA BANK SYARIAH ( Analisis Filsafat Ekonomi Terhadap Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Larangan Bunga )

IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM LARANGAN BUNGA

PADA BANK SYARIAH

( Analisis Filsafat Ekonomi Terhadap Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Larangan Bunga )

 

A.    Pendahuluan

Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal mempunyai objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada, baik yang tampak atau yang tidak tampak. Sebagian ahli filsafat membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam fikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun objek formal filsafat adalah sudut pandang yang meneyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.[1]

Karena itu, filsafat oleh sebagian ahli filsafat disebut sebagai induk ilmu. Sebab, dari filsfatlah, keilmuan modern dan kontemporer berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus buahnya, yaitu teknologi. Awalnya filsafat terbagi pada teoritis dan praktis. Filsafat teoritis mencakup metafisika, fisika, matematika, dan logika, sedangkan filsfat praktis mencakup ekonomi, politik, hukum, dan etika.[2]

Sebagian dari filsafat praktis adalah filsafat ekonomi, yang akan di bahas dalam makalah ini. Yang temanya tentang larangan bunga/riba pada bank syariah ( Islam ), dengan menganalisis ayat-ayat yang berhubungan dengan larangan bunga/riba.

Menurut Abdullah Zaky al-Kaaf, bahwa muamalah itu terbagi kepada dua bagian :[3]

1.      Muamalah Madiyah; perhubungan kebutuhan hidup yang dipertalikan oleh materi dan inilah dinamakan ekonomi ( iqtishad ).
2.      Muamalah Adabiyah; pergaulan hidup yang dipertalikan oleh kepentingan moral, rasa kemanusaiaan, dan ini dinamakan sosial.

Menurut para ahli ekonomi, ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oicos dan nomos yang berarti rumah, dan nomos yang berarti aturan. Jadi ekonomi ialah aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebutuhan hidup manusia dalam rumah tangga, baik rumah tangga rakyat dinamakan ekonomi mikro, maupun dalam rumah negara dinamakan ekonomi makro.

Dalam ekonomi makro yang membahas tentang ekonmi dalam satu negara, diantaranya membahas tentang perbankan baik syariah maupun konvensional. Maka makalah ini, penulis akan menganilisis ayat-ayat al-Qur’an dengan menggali dan meneliti dari berbgai tafsir dan kitab/buku yang ada hubungan dengan makalah ini. Sehingga penulis akan memgetahui dan mengerti, bagaimana proses pase-pase pelarangan bunga/riba.

 

B.     Latar Belakang Masalah

Perbankan syariah mulai berkembang di Indonesia seiring dengan dikeluarkannya Undang-Unadang tentang perbankan No. 10 tahun 1998 sebagai perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992. Dalam Undang-Undang No. 10 tersebut secara tegas membedakan antara bank dengan sistem konvensional dan bank dengan sistem syariah.[4]

Disisi lain, perkembangan perbakan syariah ini juga dilatarbelakangi oleh bukti ketahanannya dalam menghadaapi krisis ekonomi dan moneter yang banyak melanda negara pada tahun 1997. Goncangan pada ekonomi makro berdampak pada memburuknya kondisi moneter. Banyak bank yang tidak bisa bertahan menghadapi krisis tersebut, sehingga mereka masuk pada  program rekaptalisasi, bahkan beberapa bank dimerger dan bahkan ada yang di likuidasi. Tetapi, Bank Mu’amalah sebagai satu-satunya bank syariah pada waktu itu menjadi salah satu bank yang bertahan dan dalam kondisi sehat.

Perbedaan bank syariah dengan bank konvensional adalah sebagai  berikut :

  1. Bank syariah adalah bank yang kegiatan usahanya dilakukan berdasarkan prisip syariah, sedangkan bank konvensional adalah bank yang kegiatan usahanya tidak berdasrkan syariah.[5]
  2. Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu-linatas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah, sedangkan bank konvensional sebaliknya.[6]
  3. Bank syariah dalam kegiatan usahanya dilakukan berdasarkan hukum Islam, yang di dalam melarang adanya unsur bunga/riba, sedangkan bank konvensional sebaliknya.
  4. Bank syariah dalam mendapatkan keuntungan dengan prinsip bagi hasil yang besar rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman untung rugi, sedangkan bank konvensional dalam mendapatkan keuntungan dengan prinsip bunga/riba yang penentuan bunganya dibuat diwaktu akad dengan asumsi harus untung. [7]
  5. Bank syariah dalam kegiatan usahanya, baik dalam menampung uang nasabah dan menyalurkan uangnya didadasari dengan prinsip investasi: kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidak pastian, yang perolehan returnnya tidak pasti dan tidak tetap, sedangkan bank konvensional dalam kegiatan usahanya didasari dengan prinsip membungakan uang: kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan returnnya relatif pasti dan tetap.

Bank syariah yang prinsip usahanya didasari dengan prinsip syariah, yang telah digariskan oleh hukum Islam yang terdapat dalam al-Qur’an, al-Hadits, ataupun dalam ijtihad para ulama. Dimana dalam kegiatan usahanya harus mengikuti aturan-aturan yang telah digariskan oleh hukum Islam.

Setiap transaksi dalam Islam harus didasarkan pada prinsip yang pertama ada kerelaan antara kedua belah pihak. Mereka harus mempunyai informasi yang sama (complete information) sehingga tidak ada pihak yang merasa dicurangi karena ada sesuatu yang unknown to one party.

Prinsip yang kedua tidak boleh dilanggar prinsip jangan menzalimi dan jangan dizalimi, dainataranya adalah : a. Gharar. b. Rekayasa pasar. c. rekayasa pasar dalam supply maupun demand. d. Bunga/riba. e. Maysir f. riswah.[8]

Yang membedakan paling prinsip antara bank syariah dengan bank konvensional adalah larangan bunga/riba dalam bank syariah yang telah digariskan dalam al-Qur’an surat Ar-Rum: 39, An-Nisa: 160-161, Ali-Imran: 130, dan Al-Baqarah: 275-280. Sedangkan dalam bank konvensional adanya bunga dalam tiap transaksi.

Atas dasar permasalahan diatas, penulis dalam implementasi filsafat ilmu dalam penelitiannya akan mengambil judul Larangan Bunga Pada Bank Syariah : Analisis Filsafat Ekonomi Terhadap Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Larangan Bunga/riba.

 

C.    Identifikasi Masalah

  1. Apa pengertian bunga/riba yang diharamkan dalam hukum Islam menurut ayat-ayat al-Qur’an?
  2. Bagaimana pase-pase pengharaman bunga/riba menurut ayat-ayat al-Qur’an?
  3. Apakah semua bank syariah dalam transaksinya terhindar dari unsur bunga/riba?

 

D.    Tujuan Penelitian

  1. Untuk menjawab pertanyaan masalah diatas dengan cara menganalisis ayat-ayat al-Qur’an yang mengharamkan bunga/riba.
  2. Untuk menjawab pertanyaan masalah diatas dengan cara meneliti pase-pase pengaharaman bunga/riba, sehingga kebenaran haramnya bunga/riba dapat di buktikan kebenarannya.
  3. Untuk menjelaskan tentang larangan bunga/riba kepada seluruh bank syariah yang ada, sehingga bank syariah tersebut bukan hanya sekedar nama tetapi benar-banar dalam menjalankan usahanya berdasarkan syariah.
  1. E.     Kerangka Pemikiran
    1.      Pengertian Bunga/riba

Penegrtian bunga/riba menurut Ali As-Shabuni secara bahasa adalah tambahan dari pokok. Sedangkan menurut istilah adalah tambahan yang diambil oleh kreditor dari debitor dengan sebab berjalannya waktu.[9]

Pengertian riba menurut Fuad Muhammad Fachrudin bahwa bunga/riba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan bank, karena jasanya meminjamkan uang untuk melancarkan perusahan orang yang meminjam. Berkat bantuan bank yang meminjamkan uang kepadanya, perusahaan bertambah maju dan keuntungan yang diperoleh juga bertambah banyak. Maka bunga/riba yang dipungut oleh bank itu haram hukumnya.[10]

Sebagai bahan penelitian, penulis sebutkan dan menganalisis tentang beberapa ayat yang berkaitan dengan larangan bunga/riba melalui pase-pase sebagai berikut :

  1. Surat ar-Rum ayat : 39 :

  Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya) .

Dalam ayat diatas, tidak ada penegasan mengenai keharaman riba. Di dalam ayat ini hanya disebutkaan perbandingan riba dengan zakat, yang nilainya jauh berbeda. Riba (hadiah) membuat manusia suka ( senang) sedangkan zakat yang tujuannya mencapai ridla Allah.

  1. 2.      Surat An-Nisa : 160-161 :

“  Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan Karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih “.

Dalam ayat diatas pun belum tegas dinyatakan haramnya riba. Isinya hanya mengandung kecaman terhadap pemakan riba, karena dipandang memakan harta orang dengan cara yang bathil.

  1. Surat Ali-Imran : 130 :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan “.

Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.[11]

Dalam ayat diatas sudah ada ketegasan tentang larangan memakan riba, namun tetap terdapat perbedaan pendapat. Bila berlipat ganda, haram hukumnya dan bila tidak, dibolehkan. Sebagian ulama juga ada yang berpendirian, riba itu tetap haram, walaupun tidak berlipat ganda. Karena berlipat ganda dalam ayat tersebut, hanya menyatakan peristiwa yang terjadi pada masa jahiliyah dan jangan dipahami mafhum mukhalafahnya, yaitu sekiranya tidak berlipat ganda, berarti tidak haram.[12]

Surat Al-Baqarah : 275-280 :

“ 275.  Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

  1. 276.  Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah[177]. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa[178].
  2. 277.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  3. 278.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
  4. 279.  Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
  5. 280.  Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui “.

Menurut al-Maraghi dan as-Shabuni menyatakan, pengharaman riba diturunkan secara bertahap, sebagaimana keharaman khamar. Berturut-turut diturunkan ayat dalam surat Ar-Rum: 30, An-Nisa: 160-161, Ali-Imran: 130 dan Al-Baqarah: 275-280.[13]

Dalam ayat ini sudah ada penegasan haramnya riba/bunga. Dan bahkan apabila masih ada sisa kelebihan yang belum dipungut, tidak boleh lagi dipungut, dan hanya dibenarkan menagih modalnya saja, tidak boleh lebih. Hal ini berarti, mengambil kelebihan itu tetap tidak boleh.

Sebagian ulama kita berpendapat bahwa walaupun ayat yang disebutkan dalam surat al-Baqarah, yang terakhir diturunkan, tetapi  dalam menetapkan hukumnya tetap ada kaitannya dengan surat Ali-imran: 130 yaitu haram hukumnya, sekiranya berlipat ganda.

Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.[14]

Untuk menentukan status hukum bermuamalah yang baik, masih banyak terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan cendikiawan muslim tentang haramnya bunga/riba, diantaranya :

  1. Abu Zahrah, guru besar pada Fakultas Hukum Universitas Kairo, Abu A’la al-Madudi di Pakistan, Muhamad Abdullah al-‘Arabi dan Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa bunga bank itu riba nasi’ah dilarang oleh Islam oleh sebab itu umat Islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai sistem bunga kecuali dalam keadaan darurat.
  2. Mustafa Ahmad az-Zaqra’, guru besar hukum Islam dan hukum perdata Universitas Syariah Damaskus mengatakan, bahwa riba yang diharamkan seperti riba yang berlaku pada masyarakat jahiliyah, yang merupakan pemerasan terhadap orang lemah, yang bersifat konsumtif. Berbeda yang bersifat produktif, tidak termasuk haram. Dr. Muhammad Hatta berpendapat demikian.
  3. A. Hasan (Persis) berpendapat bahwa bunga bank yang berlaku di Indonesia, bukan riba yang diharamkan karena tidak berlipat ganda sebagaimana yang dimaksud oleh firman Allah surat Ali-Imran : 130.
  4. Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam muktamar di Sidoarjo 1968 memutuskan bahwa bunga bank yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya atau sebaliknya, termasuk syubhat, artinya belum jelas haramnya.[15]

 

2.      Pengertian Bank Syariah

Bank menurut Undang-Undang Pokok Perbankan tahun 1967 adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang.[16]

Sedangkan fungsi bank itu sendiri adalah menerima simpanan, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah ekonomi umat Islam, pembiayaan yang dilakukan dengan akad sesuai syariah telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak zaman Nabi Saw.[17]

Bank pada zaman Dinasti Bani Umayah dan Dinasti Bani Abbasiyah sudah berjalan fungsi-fungsi perbankan, yaitu menerima deposit, menyalurkan dana, dan melakukan transfer dana telah lazim dilakukan, tentunya dengan akad sesuai dengan syariah. Fungsi-fungsi perbankan dilakukan oleh satu individu, dalam sejarah Islam telah dikenal sejak zaman Diansti Abbasiyah. Sedangka orang yang mempunyai keahlian khusus disebut naqid, sarraf, dan jihbiz.[18]

Istilah jihbiz itu sendiri dikenal sejak zaman Khalifah Muawiyyah (661-680 M) yang sebenarnya dipinjam dari bahasa persia, kahbad atau kihbud. Pada masa pemerintahan Sasanid, istilah ini dipergunakan untuk orang yang ditugaskan mengumpulkan pajak tanah. Kemajuan praktik perbankan pada zaman itu ditandai dengan beredarnya saq (cek) dengan luas sebagai media pembayaran.[19]

Sedangkan peraktik perbankan di Eropa, ketika bangsa Eropa mulai menjalankan praktik perbankan, persoalan mulai timbul karena transaksi yang dilakukan menggunakan instrumen bunga yang dalam pandangan fiqih adalah riba, dan oleh karenanya haram. Ketika bangsa Eropa melakukan penjajahan ke seluruh penjuru dunia, sehingga aktivitas perekenomian dunia didominasi oleh bangsa Eropa. Pada saat yang sama, peradaban Muslim mengalami kemerosotan dan negara-negara Muslim satu persatu jatuh ke dalam cengkereman penjajah bangsa Eropa. Akibatnya, institusi perekonomian umat Islam runtuh dan digantikan oleh institusi ekonomi bangsa Eropa, yang dalam praktik perbankannya dengan menggunakan instrumen bunga/riba.[20]

Perkembangan bank syariah modern, pertama dilakukan di Malaysia dengan mendirikan bank tanpa bunga pada pertengahan tahun 1940-an, tetapi tidak sukses. Ekspreimen lain di lakukan di Pakistan pada akhir tahun 1950-an, dimana suatu lembaga perkreditan tanpa bunga didirikan di pedesaan negara itu.[21]

Namun perkembangan berikutnya didirikan di Mesir pada tahun 1963, dengan nama Mit Ghamr Local Saving Bank. Selanjutnya ketika OKI terbentuk umat Islam mendidrikan Islamic Development Bank (IDB) pada bulan Oktober tahun 1975 yang beranggotakan 22 negara Islam yang berpusat di Jeddah-Arab Saudi yang telah memilki 43 negara anggota.[22]

Adapun perkembangan bank syariah di Indonesia, pertama kali didirikan pada tahun 1992 adalah Bank Muamalah Indonesia (BMI). Bila pada periode tahun 1992-1998 hanya ada satu bank syariah, maka pada tahun 2005, jumlah bank syariah di Indonesia telah bertambah menjadi 20 unit, yaitu 3 bank umum syariah dan 17 unit usaha syariah. Sementara itu, jumlah BPRS hingga akhir tahun 2004 bertambah menjadi 88 buah.[23]

 

  1. F.     Langkah-Langkah Penelitian
    1.      Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis, maksudnya dengan cara meneliti dan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an, al-Hadits, dan pendapat para ulama dan cendikiawan muslim, sehingga mendapat penjelasan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan pendapatnya.

2.      Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan penulis menggali dan meneliti data primer dan sekunder yang diperoleh dari kitab-kitab tafsir, buku-buku karangan para ulama, para ahli hukum, dan makalah-makalah yang ada hubungannya dengan penelitian ini serta menggunakan variabel untuk mendapatkan data dari bank syariah yang benar-benar dalam usahanya dengan menggunakan prinsip syariah.

3.      Jenis Data

Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dengan pendapat para ulama, sebagai acuan untuk menetapkan keharaman bunga/riba dari berbagai sumber data, baik data primer maupun data sekunder serta mencari data yang didapat dari bank syariah.

4.      Analisis Data

Untuk menganalisis data kuantitatif, penulis menggunakan kitab-kaitab tafsir, kitab fiqih, buku-buku hasil karya para ahli yang ada hubungan dengan penelitian ini, dan makalah-makalah karya ilmiah hasil karya para ahli serta data dari bank syariah.

 

G.    Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara yang hendak diuji kebenarannya. Dalam kesimpulan sementara ini bahwa pengharaman bunga/riba dalam perbankan syariah masih berbeda pendapat, walaupun sumbernya sama yaitu ayat-ayat al-Qur’an diatas. Dengan adanya beberapa pendapat para ulama dan para cendikiawan muslim, tentang pengharaman bunga/riba dalam perbankan syariah, penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa pengharaman bunga/riba dalam bank syariah kebenarannya bersifat subjektif.

 

  1. H.    Kesimpulan
    1.  Filsafat ekonomi sebagai proses berfikir sistematis dan radikal dalam hal ekonomi, yang berfikir bagaimana seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya disebut ekonomi mikro atau suatu pemerintahan disuatu negara untuk memenuhi kebutuhan rakayatnya disebut ekonomi makro.
    2. Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional adalah dalam hal menjalankan usahanya, yang mana bank syariah dalam menjalankan usahanya terhindar dari unsur bunga/riba, sedangkan bank konvensional sebaliknya.
    3. Status pengharaman bunga/riba dalam bank syariah masih diperselisihkan oleh para ulama dan para cendikiawan muslim, yang intinya masih ada yang membolehkan jika dalam keaadaan darurat.
    4. Dalam kondisi darurat dapat dibenarkan dalam hukum Islam dengan catatan tidak ada pilihan atau jalaan keluar untuk menghindar dari unsur bunga, tetapi jika ada jalan keluar yaitu dengan adanya bank syariah, maka umat Islam harus menghindarkan diri unsur bunga/riba.
    5. Bahwa pengaharaman bunga/riba dalam ayat-ayat al-Qur’an tersebut menurut umat Islam merupakan kebenaran yang mutlak atau kebenaran objektif, walaupun bisa dikatakan kebenaran subjektif.
    6. Sebagai sifat kehati-hatian kita sebagai umat Islam menghindarkan diri dari unsur bunga/riba, walaupun ada sebagaian ulama yang membolehkannya jika tidak berlipat ganda.

 

Daftar Pustaka

Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islam,Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada, 2008, cet. II.

_________________, Bank Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007, edisi, 3.

_________________, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

Ali As-Shabuni, Tafsir Rawa’iul Bayan, Bairut: Dar al-Fikr, tt. Jld. 1.

Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Rajawali Grafindo Persada, 2008.

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003, cet. I.

Musthafa al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Bairut: Dar al-Fikr, tt, jld. IV.

 


[1]  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 1.

[2] Ibid, 2

[3]  Abdullah Zaky al-Kaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, Bandung: Lentera Pustaka, 2007, hlm. 7.

[4]  Undang-Undang Perbankan, Sinar Grafika, 2007, hal. 9.

[5]  Hukum Islam, Undang-Undang tentang Perbankan Syariah, No. 21, 2008

[6]  Sudarsono, H, Bank dan Lemabaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilusi, Yoyakarta: Ekonosia, 2004, hlm, 79.

[7]  M. Syafi’I Antonio, Bank Islam, Jakarta: PT. Gema Insani, 2006, hlm. 131-132.

[8]  Adiwarman A. Karim, 32.

[9]  Ali As-Shabuni, Rawa’iul Bayan, Bairut: Daar al-Fikr, juz 1, hlm. 383.

[10]  M. Ali Hasan, 182.

[11] Ali Ashabuni, 392.

[12] M. Ali Hasan, 187.

[13]  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Bairut: Dar al-Fikr, tt, jld. I, hlm. 318.

[14]  Ali As-Shabuni, 391-392.

[15]  M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 183-184.

[16]  Adiwarman A. Karim, 18.

[17]  Ibid.

[18]  Adiwarman A Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta: Gema Insani Press, 2000, hlm. 63.

[19]  Ibid, 21.

[20]  Ibid, 22.

[21]  Ibid, 23.

[22] Ibid,

[23] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s