Cinta dalam ‘mahkota’ Tuhan

Subhaanallah. Maha Suci Allah.

Jika engkau ingin menikahi ku, maka nikahilah. Engkau boleh puas menyandingku dalam kamar pengantin mu. Menikmati ku sampai tahun-tahun yang kau kehendaki untuk aku ada bagi mu.

Tubuh ku. Ketaatan ku. Mutlak bisa engkau miliki. Namun jika engkau bertanya tentang cinta dan kesenangan ku, maka jangan bermuram jika engkau mendapati ku tidak pernah mencintai mu selayaknya yang engkau harapkan.

Ketika engkau menikahi ku, cinta dan kesenangan itu telah ku larikan di taman Tuhan. Dalam bunga khauf yang ku rawat untuk mekar, dimahkotanya ku simpan cinta dan kesenangan. Mungkin engkau akan bertanya, kenapa..bukankah ketaatan dibangun oleh cinta?!

Mungkin tidak bagi ku. Aku taat kepada mu bukan karena aku mencintai mu, tapi karena aku memiliki kewajiban taat atas mu. Engkau boleh kecewa pada ku. Engkau boleh membenci ku. Tapi jangan engkau pinta cinta dan kesenangan ku untuk menyentuh tangan mu. Dari sekian waktu kita menjalani hidup, awal pertama engkau menjemput harapan ku untuk sebuah perjalanan yang ku bayangkan akan mengarahkan ku pada kesempurnaan hidup seperti dalam ‘istana’…namun itu tidak sedikit pun aku dapatkan.

Ketika aku menginginkan mu untuk menjadi seorang yang ‘baik’ mencintai ku. Engkau tidak sedikit pun melihat rupa ku. Bukan aku dendam pada mu. Namun kini masa ku telah mengganti harapan dari kemesraan mu dalam jamuan pengantin menjadi dingin pias yang bergerak tanpa makna.

Perjalanan yang kau tempuh adalah sendiri. Wujud ku memang nyata ada bagi mu. Namun ruh ku tertinggal dimasa pengharapan seorang wanita kepada pengantin lelakinya untuk menyentuh ubun-ubun wanita itu dengan hembusan nafas do’a sebelum berkumpul dalam samudera rumah tangga yang dia tidak mungkin mengatakan “aku tidak bisa lagi menikahi mu..” karena wanita ini akan tetap mendampingin mu dengan baik.

Aku tidak akan berkhianat pada mu. Bahkan tidak terpikirkan lelaki manapun dalam benak ku. Aku hanya sudah sangat kecewa dengan mu. Kecewa karena engkau mencintai tubuh ku, bukan kesatuan ruh dan tubuhnya.

Jika engkau mencintai ruh dan tubuh ku, maka engkau akan tau apa yang ku inginkan dari mu. Tidak banyak memang. Aku hanya ingin engkau bersikap sebagaimana seorang suami yang mencintai istrinya dengan baik dan benar. Bukankah aku berhak mendapatkan keinginanku atas mu, sebagaimana engkau mendapatkan kenginan mu dari ku?!

Aku hanya ingin engkau menggenggam tangan ku ketika kita berjalan menyusuri detik-detik kebersamaan kita, memeluk tubuh ku ketika aku menginginkannya dan engkau tidak banyak mengeluh bahwa itu mengganggu mu, dan engkau mencium kening ku ketika aku menangis, atau engkau tidak pernah mencela ku ketika aku dalam keadaan terburuk sekali pun.

Aku tidak mengerti, siapa yang lebih egois dan siapa yang lebih tidak bisa mengerti.. aku atau engkau?!

Aku tidak pernah protes dengan semua yang ku lakukan untuk kebaikan mu. Dan semua sudah berlalu. Harapan ku telah ku kemas dalam butiran tasbih. Kini, kemesraan itu adalah milik ku dan Tuhan semata. Tanpa ada engkau, lelaki yang ku tinggalkan di ruang pengantin dengan tubuh ku.

Cinta ku berkumpul dalam mahkota Tuhan yang sangat sulit engkau akan mendapatkan sari manisnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s