PEMBIAYAAN MUDHARABAH, ANTARA FIKIH DAN PRAKTEK PERBANKAN

PEMBIAYAAN MUDHARABAH, ANTARA FIKIH DAN PRAKTEK PERBANKAN

Oleh : Umar Faruq [1]

Abstract

Mudharabah is one ‘akad’ in mu’amalah where there was an agreement between owners of capital (Shohibul mall) with mudharib to cooperate in business where capital comes from shohibul mall. In Islamic banking, mudharabah used both in collecting funds and the financing. Basically Fiqh mu’amalah have set all things about mudaraba, but in practice there are differences with the Islamic banking. The differences are already through ijtihad Syari’ah Board that considers the conditions and situations that occur at this time and habits of society.

Keyword : Mudharabah financing

 

A. Pendahuluan

Perbankan baik itu perbankan konvensional ataupun syariah dalam operasionalnya meliputi 3 aspek pokok, yaitu penghimpunan dana (funding), pembiayaan (financing) dan jasa (service). Menurut Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, bank umum syariah dalam usaha untuk menghimpun dana  dapat melakukan usaha dalam bentuk simpanan berupa tabungan, giro atau bentuk lainnya baik berdasarkan akad wadi’ah, mudharabah atau akad lainnya yang tidak bertentangan. Sedangkan dari sisi pembiayaan, perbankan syariah dapat menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istishna, qardh, atau akad lain yang sesuai dengan syariah.  Sedangkan kegiatan jasa yang dapat dilakukan oleh bank umum syariah berdasarkan Undang-Undang tersebut diantaranya berupa akad hiwalah, kafalah, ijarah, dan lain-lain.

Mudharabah merupakan ciri khas dari ekonomi syariah, yang lebih mengedepankan hubungan kerja sama diantara dua atau lebih pihak. Konsep mudharabah bukan merupakan turunan dari konsep di ekonomi konvensional. Ini berbeda dengan produk pada perbankan syariah lainnya yang sebagian besar merupakan turunan dari produk bank konvesional ditambah dengan pendekatan akad atau konsep syariah.

 

Secara singkat, mudharabah dapat didefinisikan sebagai akad kerja sama antara pemilik modal (shohibul mal) dan pengelola (mudharib) untuk melakukan usaha dimana seluruh modal ditanggung oleh shohibul maal, dengan perjanjian adanya kesepakatan pembagian keuntungan dan resiko kerugian yang akan terjadi.[2] Dalam perbankan, akad mudharabah digunakan baik dalam penghimpunan dana (dimana bank berfungsi sebagai mudharib dan nasabah sebagai shohibul mal) maupun dalam penyaluran dana atau pembiayaan (dimana bank berfungsi sebagai shohibul mal dan nasabah sebagai mudharib).

Dalam pembiayaan mudharabah, bank melakukan kerja sama dengan nasabah, dimana bank memberikan kepercayaan berupa modal untuk melakukan investasi dalam suatu jenis usaha untuk dikelola oleh nasabah, dengan perjanjian keuntungan yang didapatkan akan dibagi antara bank dengan pengelola sesuai kesepakatan. Dalam pembiayaan mudharabah ini, bank ataupun nasabah (pengelola) mempunyai kontribusi dalam usaha. Bank berkontribusi dengan modal, sedangkan pengelola berkontribusi dengan skill yang dimiliki. Selain itu, kedua pihak juga harus menanggung resiko dari kemungkinan usahanya rugi. Bank beresiko berkurang atau tidak kembalinya modal, sedangkan nasabah beresiko hilangnya keuntungan yang akan didapat.

Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang berorientasi pada dua tujuan, yaitu bisnis dan memperkuat sektor riil.[3] Tujuan bisnis berarti Bank harus mencari keuntungan (profit) dalam pengertian ekonomis, dimana laba yang diperoleh harus lebih besar dari pada modal yang dikeluarkan, bukan sebagai suatu lembaga sosial seperti pemikiran islam klasik (Baitul Mal) Disamping itu dalam semua kegiatan yang dilakukannya harus meminimalisir resiko yang akan dihadapinya. Sebagai bentuk kehati-hatian bank, bank mengharuskan setiap nasabah yang mendapat pembiayaan dari bank untuk memberikan jaminan.

Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan perbandingan antara mudharabah menurut literatur fikih dengan praktek pada pembiayaan mudharabah perbankan syariah di Indonesia. Adapun metoda yang digunakan adalah mengkomparasikan antara literatur fikih dengan prakteknya diperbankan syariah.

 

 

B. Mudharabah menurut Literatur Fikih

Definisi Mudharabah

Dalam fikih mu’amalah Mudharabah dinamakan juga dengan Qiradh, yaitu bentuk kerja sama antara pemilik modal (shohibul mal/rabbul mal) dengan pengelola (mudharib) untuk melakukan usaha dimana keuntungan dari usaha tersebut dibagi diantara kedua pihak tersebut, dengan rukun dan syarat tertentu.

Mudharabah menurut bahasa diambil dari bahasa arab yaitu dharb, maksudnya  Adharbu fil ardhi yaitu bepergian untuk berurusan dagang, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Mujammil ayat 20:

“ Dan yang lainnya bepergian dimuka bumi mencari karunia dari Allah”. ( QS. 73: 20 )

Menurut pandangan ulama ahli fiqih (fuqaha) Mudharabah adalah akad antara kedua belah pihak untuk salah seorangnya mengeluarkan sejumlah uang kepada pihak lainnya untuk diperdagangkan dan laba dibagi sesuai dengan kesepakatan.[4]

Ulama madzhab Syafi’i Mudharabah adalah sebagai berikut :[5]

“ Mudharabah adalah akad ( transaksi ) antara dua orang atau lebih, diantara yang satu  menyerahkan harta atau modal kepada pihak kedua untuk dijalankan usaha, dan masing-masing mendapatkan keuntungan dengan syarat-syarat tertentu “.

Sedangkan ulama Malikiyyah berpendapat bahwa mudharabah adalah akad perwalian, dimana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran yang ditentukan (emas dan perak).[6]

Menurut M. Syafi’i Antonio, mudharabah adalah akad kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain (mudharib) menjadi pengelola, dimana keuntungan usaha dibagi dalam bentuk prosentase (nisbah) sesuai kesepakatan, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola, apabila kerugian itu diakibatkan oleh kelalaian si pengelola maka si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.[7]

Landasan Hukum

Al Quran tidak menjelaskan dasar mudharabah secara eksplisit, namun yang menjadi landasan syariah mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini nampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut ini:

1. Al-Qur’an

 

Para Ulama ahli fikih menetapkan bahwa Mudharabah merupakan bagian dari syariat islam dengan berlandaskan pada Al-Quran dan Hadits.

 

“… dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT….”

 

(Surat Al-Muzammil 20)

 

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT….” (Al-Jumuah 10)

“Tidak ada dosa (halangan) bagi kamu untuk mencari karunia Tuhanmu..” ( Al-Baqarah 198)

 

2. Al-Hadist

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abbas Bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi aturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat tersebut pada Rasulullah SAW dan beliau membolehkannya. (HR Thabrani )

Dari Shalih bin Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, Qiradh (mudharabah) , dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual . (HR. Ibnu Majah)

3. Ijma

Mudharabah merupakan kelakuan kaum Quraisy yang diakui oleh islam, dan para sahabat nabi pun melakukan pekerjaan ini. Ibnu Al Mundzir mengatakan bahwa telah sepakat (ijma) para ahli ilmu atas dibolehkannya mudharabah. Al-Shon’anijuga mengatakan bahwa tidak ada perselisihan diantara orang-orang muslim terhadap dibolehkannya Qiradh.[8]

Rukun dan Syarat Mudharabah

Sebagaimana akad lain dalam syariat Islam, agar mudharabah atau qirad mejadi sah, maka harus memenuhi rukun dan syarat mudharabah. Menurut mahzab Hanafi, apabila rukun sudah terpenuhi tetapi syarat tidak dipenuhi maka rukun menjadi tidak lengkap sehingga akad tersebut menjadi fasid (rusak).

Sedangkan rukun dalam mudharabah berdasarkan Jumhur Ulama ada 3 yaitu; dua orang yang melakukan akad (al-aqidani),modal ( ma’qud alaih), dan shighat (ijab dan qabul). Ulama syafi’iyah lebih memerinci lagi menjadi enam rukun ;[9]

1.      Pemilik modal (shohibul mal )

2.      Pelaksana usaha (mudharib / pengusaha )

3.      Akad dari kedua belah pihak ( Ijab dan kabul )

4.      Objek mudharabah ( pokok atau modal)

5.      Usaha (pekerjaan pengelolaan modal)

6.      Nisbah keuntungan

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah berpendapat bahwa yang menjadi rukun akad mudharabah adalah Ijab dan Qabul saja, sedangkan sisa rukun-rukun yang disebutkan Jumhur Ulama itu, sebagai syarat akad mudharabah.

Adapun syarat-syarat mudharabah berhubungan dengan pelaku mudharabah (al-aqidani), modal dan akad. Bagi pemilik modal dan pengusaha harus cakap bertindak hukum dan cakap untuk menjadi wakil.

Syarat dalam hal modal adalah harus berbentuk uang, dan jelas jumlahnya. Juga disyaratkan harus ada, tunai, bukan dalam bentuk utang, dan haru diberikan kepada mudharib. Oleh karenanya jika modal itu berbentuk barang, menurut Ulama Fiqh tidak dibolehkan, karena sulit untuk menentukan keuntungannya.

Yang berhubungan dengan laba/keuntungan disyaratkan bahwa pembagian laba harus memiliki ukuran yang jelas dan laba harus berupa bagian yang umum (masyhur). [10]

Pembagian Mudharabah

Mudharabah dapat dibagi menjadi dua jenis jika dilihat dari transaksi atau akad yang dilakukan, yaitu Mudharabah Muthlaqah, dan Mudharabah Muqayyadah. Yang dimaksud dengan mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara shohibul mal dengan muharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi usaha, waktu, dan daerah bisnis ata disebut juga Unrestricted Investment Account. Sedangkan mudharabah muqayyadah adalah kebalikannya, yaitu yang ditentukan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha atau Restricted Investment Account . [11]

Keuntungan dan kerugian mudharabah

Dalam aktifitas usaha, keuntungan dan kerugian merupakan suatu realitas yang memungkinkan terjadi. Prinsip dari suatu usaha adalah mendapatkan keuntungan, namun dalam kealisasinya memungkinkan terjadinya kerugian. Dalam mudharabah apabila terjadi keuntungan, maka keuntungan tersebut dibagi antara pemilik modal dan mudharib berdasarkan nisbah yang sudah disepakati. Sementara kerugian yang terjadi pada dasarnya merupakan tanggung jawab keduanya. Mudharib menanggung kerugian atas keuntungan yang hilang, sementara kerugian finasial ditanggung oleh shohibul mal.

Jaminan dalam pembiayaan mudharabah

Hubungan antara shohibul mal dengan mudharib merupakan hubungan yang mengutamakan kepercayaan (trust). Karena disyaratkan mudharib adalah orang yang dipercaya, maka shohibul mal tidak boleh meminta jaminan. Shohibul mal tidak dapat menuntut jaminan apapun dari mudharib untuk mengembalikan modal dengan keuntungan. Menurut Ulama madzhab Malik dan Syafi’i, jika shohibul mal mempersyaratkan pemberian jaminan dari mudharib dan menyatakan hal ini dalam syarat kontrak, maka kontrak mudharabah mereka tidak sah.[12]

Jangka Waktu

Adanya jangka waktu dalam perjanjian mudharabah dipandang berbeda oleh ulama ahli madzhab. Madzhab Maliki dan Syafi’i memandang bahwa, kontrak mudharabah tidak boleh menentukan syarat adanya jangka waktu. Ini akan menyebabkan kontrak menjadi batal. Hal ini disebabkan bahwa adanya jangka waktu akan mengacaukan perencanaan yang dibuat oleh mudharib. Sedangkan madzhab Hanafi dan Hambali membolehkan adanya jangka waktu tersebut.

Pembatalan Akad

Ulama fiqih menyatakan bahwa akad mudharabah dinyatakan batal apabila masing-masing pihak membatalkan akadnya, atau mudharib dilarang untuk bertindak hukum terhadap modal yang diberikan, atau pemilik modal menarik modalnya. Disamping itu akad batal apabila salah seorang yang berakad meninggal dunia. Jumhur ulama berpendapat bahwa akad mudharabah tidak boleh diwariskan. Akan tetapi, ulama Malikiyah berpendapat bahwa akad mudharabah bisa diteruskan kepada ahli waris. Akad batal apabila salah seorang yang berakad kehilangan kecakapan bertindak hukum, seperti gila, dll. Juga apabila modal habis di tangan shohibul mal sebelum dipindahtangankan kepada mudharib.[13]

Hikmah Mudharabah

Islam memerintahkan dan menganjurkan kepada umatnya untuk daling memberi keringanan kepada sesamanya. Dalam melakukan suatu usaha, terkadang sebagian orang memiliki harta, tetapi tidak berkemampuan untuk mengelolanya atau sebaliknya. Oleh karena itu, syariat islam membolehkan melakukan mudharabah supaya kedua belah pihak dapat mengambil manfaatnya. Dan Allah tidak menetapkan segala akad, melainkan demi terciptanya kemaslahatan dan terbendungnya kesulitan.

C. Pembiayaan Mudharabah dalam Praktek Perbankan Syariah

Mudharabah sudah tidak asing lagi dalam perbankan syariah. Ini  merupakan akad yang ada di bank syariah baik dalam penghimpunan dana dari nasabah ataupun penyaluran dana atau pembiayaan kepada masyarakat. Dalam hal pembiayaan, mudharabah hanya diberikan untuk pembiayaan atas usaha yang produktif.

Pengertian pembiayaan mudharabah menurut penjelasan UU No. 21 tahun 2008 adalah akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shohibul mal, atau Bank Syariah) yang menyediakan seluruh modal, dan pihak kedua (amil, mudharib, atau nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh Bank Syariah, kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.[14]

Sedangkan Bank Indonesia dalam Statistik Perbankan Syariah menyatakan bahwa akad mudharabah adalah Perjanjian pembiayaan/ penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.[15]

Definisi yang lain, dalam sebuah jurnal Freshfields Bruckhaus Deringer Internasional menyatakan bahwa mudharabah adalah[16] ;

The Mudaraba is a profit sharing contract, with one party providing 100 percent of the capital and the other party (the mudarib) providing its expertise to invest the capital, manage the investment project and if appropriate, provide labour.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.105 tentang akuntansi mudharabah, menyebutkan bahwa mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selakuk pengelola, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.[17]

Skema Mudharabah

 

 

 

Dalam kesepakatan akad mudharabah ditentukan modal yang akan digunakan dalam kerja sama usaha. jumlah dana pembiayaan harus dinyatana dengan jelas dalam bentuk cash, bukan piutang. Dalam prakteknya modal yang disepakati diberikan kepada mudharib melalui rekening nasabah, dan  nasabah sewaktu-waktu bisa mengambil dana tersebut.

Dalam pembiayaan di perbankan syariah, bank biasa menggunakan mudharabah jenis muqayyadah, artinya bank menentukan penggunaan dana tersebut dengan sangat ketat, menyediakan pembiayaan untuk jenis usaha tertentu, dan dalam jangka waktu tertentu. Namun bank tidak mencampuri dari sisi manajemen.

Manajemen

Bank tidak ikut serta dalam manajemen, tatapi bank menentukan syarat yang ketat dalam akad. Mudharib menjalankan mudharabah dan mengatur segala keperluan menyangkut pembelian, penyimpanan, pemasaran, dan penjualan barang. Mudharib bertanggung jawab atas segala kerugian atau biaya yang diakibatkan oleh suatu kesalahan atas spesifikasi karena bank tidak akan menanggung segala kerugian semacam ini.

Jangka Waktu

Jangka waktu yang digunakan dalam kontrak mudharabah umumnya ditetapkan dalam kontrak berdasarkan kesepakatan antara nasabah dengan bank, karena kontrak mudharabah juga umumnya digunakan untuk tujuan dagang jangka pendek.

Jaminan dalam mudharabah

Dalam praktek perbankan di Indonesia, dalam pembiayaan mudharabah bank meminta bukti kepemilikan jaminan kepada nasabah. Bedasarkan fatwa DSN-MUI, Walaupun pada prinsipnya dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.

Keuntungan dan Kerugian Muadharabah

Keuntungan dari hasil usaha disepakati untuk dibagi antara mudharib dan shohibul mal. Misalnya, Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai Shahibul Mal (pemodal) mendapat share keuntungan sebesar 65% dan nasabah sebagai mudharib mendapat keuntungan sebesra 35%.[18]

Apabila usaha tersebut menderita kerugian, pertama-tama harus dikaji terlebih dahulu penyebab dari kerugian tersebut. Apabila kerugian itu bukan kelalaian dari mudharib, maka bank menaggung kerugian tersebut sebata modalnya. Namun apabila kerugian disebabkan oleh kelalaian mudharib, maka mudharib harus menanggung segala kerugian tersebut.

 

D. Kesimpulan

Konsep mudharabah antara Fiqih muamalah dengan prakteknya pada perbankan syariah di Indonesia tidak seratus persen sesuai, ada beberapa perbesaan berdasarkan ijtihad yang dilakukan melalui Dewan Syariah Nasional (DSN). Diantaranya adalah jangka waktu dan jaminan.

Menurut mayoritas ulama, tidak dibolehkan adanya jangka waktu dalam mudharabah. Namun, dikarenakan pembiayaan yang diberikan oleh bank banyak untuk perdagangan jangka pendek, maka DSN membolehkan adanya jangka waktu tersebut.

Juga yang berhubungan dengan jaminan pembiayaan mudharabah, pada prinsipnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah), kecuali akibat dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan. Untuk menjaga adanya kelalaian tersebut, maka bank mensyaratkan jaminan yang harus disimpan oleh mudharib. Sehingga apabila terjadi kerugian akibat kesalahan dan kelalaian mudharib, maka apabila mudharib tidak mampu membayar kerugian tersebut, jaminan dapat dicairkan untuk mengganti kerugian tersebut.

Wallahu A’lam

DAFTAR PUSTAKA

Undang – Undang Perbankan Syariah

Muhammad Syafi’i Antonio. 2001. Bank Syariah dari Toeri ke Praktek. Gema Insani Press: Jakarta.

Sutan Remy Sjahdeini. 1999. Perbankan Islam. Pustaka Utama Grafiti: Jakarta.

Rachmat Syafe’i. 2001. Fidih Muamalah. Pustaka Setia: Bandung.

Hendi Suhendi. 2002. Fiqh Muamalah. Rajawali Press: Jakarta.

Nasroen Harun. 2007. Fiqh Muamalah. Gaya Media Pratama: Jakarta.

Ibnu Rusyd. 1995. Bidayatul Mujtahid. Pustaka Amani: Jakarta.

Sayyid Sabiq. 1998. Fiqh Al-Sunnah, juz 3. Dar Al-Fikr: Beirut.

Abu Syuja’ Ahmad. 1978. Al-Tahdzib fi adillah Matn Al-Ghoyah wa At-Taqrib. Al Hidayah: Surabaya.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Mahkamah Agung

Ikatan Akuntansi Indonesia. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan , 2007.


[1] Mahasiswa program Pascasarjana konsentrasi Ekonomi Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung,.

[2] Kamus Ekonomi syariah

[3] Burhanuddin Harahap, Kedudukan, Fungsi dan Problematika Jaminan dalam Pembiayaan Mudharabah pada Perbankan Syariah. Yustisis edisi 69. 2006.

[4] Al-Jarzani, Fiqih Madzahibu al-Arba’ah, ( Beirut, Dar al-Fikr, 1980 ), juz 3, hlm. 34.

[5] Ibid, h.44

[6] Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Rajawali Pers, hal 136.

[7] M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Gema Insani Press, hal 99.

[8] Abu Syuja’ Ahman, Al-Tadhzib Fi Adillah Matn Al-Ghoyah wa Al-Taqrib, (Surabaya, Hidayah,1987)

[9] Hendi Suhendi, hlm. 139.

[10] Rahmat Syafei, Fiqih Muamalah, Pustaka Setia,h.228.

[11] Syafi’i Antonio,  hal 97.

[12] Sutan Remi Sjahdeini, hal. 33

[13] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Gaya Media Pratama, hal. 180.

[14] Republik Indonesia, Undang-Undang RI No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, penjelasan pasal 19 ayat 1 huruf c.

[15] Statistik Perbankan Syariah, edisi Agustus 2010, Bank Indonesia, h.viii

[16] Freshfields Bruckhaus Deringer, Islamic Finance; basic principle and structure, London, January 2006, h.3

[17] , Ikatan Akuntansi Indonesia(IAI), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan, 2007, h.1

[18] Sutan Remy Sjahdeini, hal 54.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s