Ketika salju turun di hati pecinta..

Sepertiga Malam. Bercengkrama dengan Tuhan. Menangis.

Suatu kelak mungkin engkau akan melupakan ku. Suatu kelak mungkin engkau akan tidak lagi membutuhkan ku. Suatu kelak mungkin engkau sudah tidak lagi mengatakan..’fatimah, engkau lah takdir cinta yang akan ku persunting jasad mu di Rumah Tuhan yang megah itu’. Mungkin.

Aku cukup dungu untuk mengenali semua teka teki jalan hidup dari Tuhan. Entah kini adalah masa dimana aku kembali memikirkan untuk tetap mengkhususkan mu menjadi “pengembar ku’… Namun begitu…….:

Aku merindukan mu, umar.

Duhai Lelaki yang jauh dari tempat tidur ku. Menikmati sakit. Menyederhanakan lelah menjadi tarikan nafas yang panjang.

Umar, kekasih ku…

Aku tidak bisa menahan kerinduan ku malam ini. Sangat. Aku bahkan seperti gila. Umar, aku merindukan mu.

Merindukan engkau yang perlahan bergeser. Merindukan engkau yang melupakan nama fatimah dari kamus pikiran mu.

Umar, aku masih benar mencatat mu sebagai impian terbesar ku. Entah engkau sudah lupa dengan nama itu. Aku wanita yang kau cintai dengan penuh, kata mu. Aku wanita yang kau percayakan seluruh hidupmu, katanya. Kini hilang dari sematan aktivitas mu.

“Tuhan, inikah giliran aku untuk mengejarnya, atau meninggalkannya?!”

Jika aku mengejarnya. Apa aku tidak akan sia-sia, Tuhan?!

Jika aku meninggalkannya, apakah aku akan bisa tanpa menangisi kehilangannya?!!

Umar, Aku ingin mengembalikan semua pada kewajaran dan kesekedaran. Meski sulit. Aku ingin engkau cukup kembali seperti dulu.

Aku merindukan umar terbaik, yang sederhana mencintai ku, yang menyentuh kuncup bunga cinta ku hingga mekar. Dan aku pun cemerlang menjadi bintang dilangit sejarah dunia.

Aku tidak membutuhkan semua perhiasan yang terbaik di dunia, aku hanya ingin engkau. Kembali seperti apa adanya diri mu, kekasih…

Menjadi seseorang yang dengan kebohongan, engkau memuji ku.. menampakan kelembutan mu!!

“Duhai, jiwa ku.. apakah aku harus memohon pada mu untuk berbohong?!! Berbohonglah untuk ku, puji aku sebagaimana dulu engkau mengagumi ku.. sebagaimana dulu begitu besar cita-cita cinta kita, yang terlepas dari semua ambisi dan kekurangan!!”

Camar ku, apakah takdir cinta yang kita agungkan itu telah berubah menjadi hal yang kita sesali bersama?!

Aku melihat istana yang megah itu telah tertutupi rimbun belukar yang tajam durinya. Aku tidak bisa mendekat sekedar untuk membersihkan halamannya dan menengok mu, masih kah ada disana?!

Kita menjelma menjadi seperti pasangan biasa. Yang melakukan ritual putaran hidup seyogyanya saja. Kita begitu menggebu-gebu penuh sanjung dan pujian di awal masa, dan kita pun kehilangan semua itu diakhirnya.

Tidak, kekasih ku.. jangan perlakukan hubuangan cinta ku seperti demikian. Demi Allah, yang aku ridho untuk menjadikan-Nya Tuhan bagi ku… aku tidak ingin menjadi bagian dari hal yang biasa. Kembalikan aku pada kadar yang terbaik untuk memenuhi mu dengan kebaikan.

Aku memang tidak semenyenangkan, tidak secantik dan seluar biasa ketika engkau pertama kali melihat ku. Namun sungguh, tidak ada yang berubah dari mata bathin ku melihat mu. Engkau tetap sempurna dan yang menyempurnakan seperti sela-sela jari yang terbuka untuk menyilahkan jari tangan lain masuk dan merapatkan genggaman menjadi ikatan yang kukuh.

Tentu, Umar.. kita masih mengingat, bahwa hubungan kita adalah sebuah ikatan yang kuat, yang Tuhan sebagai saksinya.

Aku merindukan semua ritual kita dulu. Ritual yang tidak diboncengi dengan kemarahan, ritual yang tidak di campuri dengan cela dari kita masing-masing.

Humus jiwaku,jangan pudarkan pesona kecendrungan ini dengan kebosanan mu.

Aku sebagai wanita mu, hanya meminta luangkan waktu sejenak untuk ku. Cumbu aku sebaik yang engkau bisa dengan puisi-puisi cinta.

 

Wanita yang menangis atas ‘salju’  kekasihnya,

Fatimah

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s