Teori Produksi Islami; Kekayaan menurut konsep Abdurrahman Ibnu Khaldun

Teori Produksi  Islami; Kekayaan menurut konsep Abdurrahman Ibnu Khaldun

 

Abstrak

Produksi adalah hasil penyatuan dari manusia dan alam. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksi  melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu. Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang perilaku produsen  dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan  efisiensi produksinya. Dimana Islam mengakui pemilikian pribadi  dalam batas-batas tertentu  termasuk pemilikan alat produksi, akan tetapi hak tersebut tidak mutlak.

Dalam urusan rumah tangga Negara konsep kekayaan yang di kemukakan oleh Ibnu Khaldun, menegaskan bahwa kekayaan suatu Negara tidak di tentukan oleh banyaknya uang di Negara tersebut. Kekayaan suatu Negara di tentukan oleh dua hal: Tingkat produksi domestic, Tingkat pembayaran yang positif dari negara tersebut. Kemampuan Negara untuk memproduksi barang bagi kebutuhan domestic sangat penting dan negera tersebut terlibat perdagangan internasional untuk meningkatkan keejahteraan rakyatnya.

Pendahuluan

Al-Qur’an menggunakan konsep produksi barang dalam artian
luas. Al Qur’an menekankan manfaat dari barang yang diproduksi. Memproduksi
suatu barang harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan manusia. Berarti barang
itu harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk memproduksi
barang mewah secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia,
karenanya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut
dianggap tidak produktif.

Produksi adalah sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dengan alam.[1] Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksi  melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu.[2] Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang perilaku produsen  dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan  efisiensi produksinya. Dimana Islam mengakui pemilikian pribadi  dalam batas-batas tertentu  termasuk[3] pemilikan alat produksi, akan tetapi hak tersebut tidak mutlak.

Meskipun terus tumbuh, perekonomian nasional tetap mesti diwaspadai. Indonesia, yang pernah mencatat kinerja terbaik dalam pertumbuhan ekonomi kawasan Asia setelah China dan India dalam dua tahun terakhir, kini tertinggal dari perekonomian tetangga[4]. Volume impor komoditas pangna utama non beras tahun 2010/2011 diperkirakan mengalami peningkatan signifikan. Ini sebagai dampak penurunan produksi, target produksi yang tidak tercapai, atau pun penguatan diversifikasi pangan berbasis gandum[5]. Selain impor kebutuhan pokok yang selalu dilakukan oleh Negara Indonesia setiap tahunnya, kondisi rakyat Indonesia sangatlah miskin.

Dan Indonesia termasuk Negara termiskin di dunia. Apa yang menjadi penyebab itu semua? Dan apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur kekayaan Negara, sehingga dari hal tersebut Indonesia termasuk Negara termiskin di dunia?

Jika dilihat dari segi sumber daya Alam Indonesia adalah Negara yang kaya dengan sumber daya alam. Dan kesuburan lahan pertaniannya pun terbilang diatas rata-rata kesuburan lahan pertanian beberapa Negara tetangga. Sehingga rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut:

  1. Bagaimana hubungan kemampuan tingkat produksi dengan kekayaan Negara?
  2. Bagaimana hubungan neraca pembayaran positif dengan kekayaan Negara?

Untuk mengetahui hal yang menjadi masalah pada makalah ini penulis melakukan penelitian dengan metode kepustakaan dan melihat phenomena yang terjadi di masyarakat. Model penelitinanya adaah postulasi, yakni penelitian yang membandingkan antara konsep teori yang sudah ada dengan kenyataan di lapangan, sehingga bisa di ketahui akar masalah, sekaligus solusi yang bisa di ambil ketika akar masalah yang ada telah ditemukan.

Pengertian Produksi Islam

Dr. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min anashir al-intaj dhamina itharu zamani muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).

Hal yang senada di ucapkan oleh Dr. Abdurahman Yusro Ahmad dalam bukunya Muqaddimah fi Ilm al-iqtishad al-Islamy. Abdurahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasiil produksi tersebut. Dalam pandangannya harus mengacu pada nilai utiity dan masih dalam bingkau nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri seseorang attaupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, Abdurahman merefleksikan pemikirannya dengan mengacu pada al-Quran Surat Al Baqarah: 219 yang menjelaskan tentang pertanyaa dari manfaat memakai (memproduksi) khamr.

Lain halnya dengan Taqiyuddin an-Nabhani dalam mengantarkan pemahaman tentang produksi; ia lebih suka memakai kata istishna untuk mengartikan ‘produksi’ dalam bahasa arab. An_Nabhani memahami produksi itu sebagai sesuatu uang mubah dan jelas berdasarkan as-sunnah. Sebab, Rosulillah Saw pernah membuat cincin. Diriwayatkan dari Anas yang mengatakan “Bani Saw telah membuat cincin” (HR Imam Bukhari). Dari Ibnu mas’ud: “ Bahwa Nabi Saw telah membuat cincin yang terbuat dari emas.” (HR Imam Bukhari). Beliau juga perjah membuat mimbar. Dari Saha; berkata “ Rosuillah Saw telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): Perintahkanlah anak mu si tukang kayu untuk membuatkan tempat duduk ku, sehingga aku bisa duduk diatasnya” (HR Imam Bukhari). Pada masa Rosuilillah, orang-orang biasa memproduksi barang da beliau pun mendiamkan aktifitas mereka. Sehingga diamnya beliau menunjukan adanya pengakuan (taqrir) beliau terhadap aktifitas berproduksi mereka. Status (taqrir) dan perbuatan Rosul itu sama dengan sabda beliau, artinya sama merupakan dalil syara’.

Dari pengertian diatas produksi dimaksudkan untuk mewujudkan suatu barang dan jasa yang digunakan tidak hanya untuk kebutuhan fisik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan non fisik, dalam artian yang lain produksi dimaksudkan untuk menciptakan mashlahah bukan hanya menciptakan materi.

Produksi adalah menciptakan manfaat dan bukan menciptakan materi. Maksudnya adalah bahwa manusia mengolah materi itu untuk mencukupi berbagai kebutuhannya, sehingga materi itu mempunyai kemanfaatan. Apa yang bisa dilakukan manusia dalam “memproduksi” tidak sampai pada merubah substansi benda. Yang dapat dilakukan manusia berkisar pada misalnya mengambilnya dari tempat yang asli dan mengeluarkan atau mengeksploitasi (ekstraktif).

Memindahkannya dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkannya, atau menjaganya dengan cara menyimpan agar bisa dimanfaatkan di masa yang akan datang atau mengolahnya dengan memasukkan bahan-bahan tertentu, menutupi kebutuhan tertentu, atau mengubahnya dari satu bentuk menjadi bentuk yang lainnya dengan melakukan sterilisasi, pemintalan, pengukiran, atau penggilingan, dan sebagainya. Atau mencampurnya dengan cara tertentu agar menjadi sesuatu yang baru[6].

Tujuan Produksi

Dalam konsep ekonomi konvensional (kapitalis) produksi dimaksudkan untuk memperoleh laba sebesar besarnya, berbeda dengan tujuan produksi dalam ekonomi konvensional, tujuan produksi dalam islam yaitu memberikan Mashlahah yang maksimum bagi konsumen.

Walaupun dalam ekonomi islam tujuan utamannya adalah memaksimalkan mashlahah, memperoleh laba tidaklah dilarang selama berada dalam bingkai tujuan dan hukum islam. Dalam konsep mashlahah dirumuskan dengan keuntungan ditambah dengan berkah.

Keuntungan bagi seorang produsen biasannya adalah laba (profit), yang diperoleh setelah dikurangi oleh faktor-faktor produksi. Sedangkan berkah berwujud segala hal yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi rodusen sendiri dan manusia secara keseluruhan.

Keberkahan ini dapat dicapai jika produsen menerapkan prinsip dan nilai islam dalam kegiatan produksinnya. Dalam upaya mencari berkah dalam jangka pendek akan menurunkan keuntungan (karena adannya biaya berkah), tetapi dalam jangka panjang kemungkinan justru akan meningkatkan keuntungan, kerena meningkatnya permintaan.

Berkah merupakan komponen penting dalam mashlahah. Oleh karena itu, bagaimanapun dan seperti apapun pengklasifikasiannya, berkah harus dimasukkan dalam input produksi, sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output[7].

Berkah yang dimasukkan dalam input produksi meliputi bahan baku yang dipergunakan untuk proses produksi harus memiliki kebaikan dan manfaat baik dimasa sekarang maupun dimasa mendatang. Penggunaan bahan baku yang ilegal (tanpa izin) baik itu dari hasil illegal logging, maupun penggunaan bahan baku yang tanpa batas dalam penggunaannya dalam jangka waktu pendek mungkin akan memiliki nilai manfaat yang baik(pendistribusian baik), tetapi dalam

Jangka waktu panjang akan menimbulkan masalah. Sebagai contoh penggunaan bahan baku dari ilegal logging dalam jangka panjang akan menimbulkan berbagai bencana, dan akan memberikan nilai mudharat kepada para penerus/generasi selanjutnya.

Prinsip-prinsip Produksi

Pada prinsipnya kegiatan produksi terkait seluruhnya dengan syariat Islam, dimana seluruh kegiatan produksi harus sejalan dengan tujuan dari konsumsi itu sendiri. Konsumsi seorang muslim  dilakukan untuk mencari falah (kebahagiaan) demiian pula produksi dilakukan untuk menyediakan barang dan jasa guna falah tersebut. Di bawah ini ada beberapa implikasi mendasar  bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan, antara lain :

  1. 1. Seluruh kegiatan produksi  terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami[8]

Sejak dari kegiatan mengorganisisr faktor produksi, proses produksi hingga pemasaran dan  dan pelayanan kepada konsumen semuanya harus mengikuti moralitas Islam. Metwally (1992) mengatakan ”perbedaan dari perusahaan-perusahaan non Islami tak hanya pada tujuannya, tetapi juga pada kebijakan-kebijakan ekonomi dan strategi pasarnya”. Produksi barag dan jasa yang dapat merusak moralitas dan menjauhkan  manusia dari nilai-nilai relijius tidak akan diperbolehkan. Terdapat lima jenis kebutuhan yang dipandng  bermanfaat untuk mnecapai falah, yaitu : 1. kehidupan, 2. harta, 3. kebenaran, 4. ilmu pengetahuan dan 5. kelangsungan keturunan. Selain itu Islam juga mengajarkan adanya skala prioritas (dharuriyah, hajjiyah dan tahsiniyah) dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi serta melarang sikap berlebihan, larangan ini juga berlaku bagi segala mata rantai dalam produksinya.

  1. 2. Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan

Kegiatan produksi harus menjaga nilai-nilai keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam masyarakat dalam skala yang lebih luas. Selain itu, masyarakat juga nerhak  menikmati hasil produksi  secara memadai dan berkualitas. Jadi produksi bukan hanya menyangkut kepentingan para produsen (staock holders) saja  tapi juga masyarakat secara keseluruhan (stake holders). Pemerataan manfaat dan keuntungan produksi bagi  keseluruhan masyarakat dan dilakukan dengan cara yang paling baik merupakan tujuan utama kegiatan ekonomi.

  1. 3. Permasalahan ekonomi  muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks.[9]

Masalah ekonomi muncul bukan karena adanya kelangkaan sumber daya ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan manusia saja, tetapi juga disebabkan oleh kemalasan dan pengabaian optimalisasi segala anugerah Allah, baik dalam bentuk sumber daya alam maupunmanusia. Sikap terserbut dalam Al-Qur’an sering disebut  sebagai kezaliman atau pengingkaran terhadap nikmat Allah[10]. Hal ini akan membawa implikasi  bahwa prinsip produksi  bukan sekedar efisiensi, tetapi secara luas adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemanfaatan sumber daya ekonomi dalam kerangka pengabdian manusia kepada Tuhannya.

Kegiatan produksi dalam perspektif Islam bersifat alturistik sehingga produsen tidak  hanya mengejar keuntungan  maksimum saja. Produsen harus mengejar tujuan yang lebih luas sebagaimana tujuan ajaran Islam yaitu falah didunia dan akhirat. Kegiatan produksi juga harus berpedoman kepada nilai-nilai keadilan dan kebajikan  bagi masyarakat. Prinsip pokok produsen yang Islami  yaitu : 1. memiliki komitmen yang penuh terhadap keadilan, 2. memiliki dorongan untuk melayani masyarakat sehingga segala keputusan perusahaan harus mempertimbangkan hal ini , 3. optimasi keuntungan diperkenankan  dengan batasan kedua prinsip di atas.

Ayat Al-Qur’an tentang Prinsip Produksi

Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Tanah dalam Surat As-Sajdah  :

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?

Ayat diatas menjelaskan tentang tanah yang  berfungsi sebagai penyerap air hujan dan akhirnya tumbuh tanaman-tanaman yang terdiri dari beragam jenis. Tanaman itu dapat dimanfaatkan manusia sebagai faktor produksi alam, dari tanaman tersebut juga dikonsumsi oleh hewan ternak  yang pada akhirnya juga hewan ternak tersebut diambil manfaatnya (diproduksi) dengan berbgai bentuk seperti diambil dagingnya, susunya dan lain sebagaiya yang ada pada hewan ternak tersebut.

Ayat ini juga memberikan kepada kita untuk berfikir dalam pemanfaatan sumber daya alam  dan proses terjadinya hujan. Jelas sekali menunjukkan adanya suatu siklus produksi dari proses turunnya hujan, tumbuh tanaman, menghasilkan dedunan dan buah-buahan yang segar setelah di disiram dengan air hujan dan pada akhirnya diakan oleh manusia dan hewan untuk konsumsi. Siklus rantai makanan yang berkesinambungan agaknya telah dijelskan secara baik dalam ayat ini. Tentunya puila harus disertai dengan prinsip efisiensi[11] dalam memanfaatkan seluruh batas kemungkinan produksinya.

Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Tenaga Kerja dalam Surat Huud : 61

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Kata kunci dari faktor  produksi tenaga kerja terdapat dalam kata wasta’marakum yang berarti pemakmur. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini diharapkan oleh Allah untuk menjadi pemakmur bumi dalam pemanfaatan tanah dan alam yang ada. Kata pemakmur mengindikasikan untuk selalu menajdikan alam ini makmur dan tidak menjadi penghabis (aakiliin) atau perusak alam (faasidiin). Manusia dengan akalnya yang sempurna telah diperintahkan oleh Allah untuk dpaat terus mengoleh alam ini bagi kesinambungan alam itu sendiri, dalam hal ini nampaklah segala macam kegiatan produksi amat bergantung kepada siapa yang memproduksi (subyek) yang diharapkan dpat menjadi pengolah alam ini menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Modal dalam Surat Al-Baqarah : 272

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

Modal sangat penting dalam kegiatan produksi baik yang bersifat tangible asset maupun intangible asset. Kata apa saja harta yang baik menunjukkan bahwa manusia diberi  modal yang cukup oleh Allah untuk dapat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhannya secara materi. Modal dapat pula memberikan makna segala sesuatu yang digunakan dan tidak habis, untuk diputarkan secara ekonomi dengan harapan dari modal tersebut menghasilkan hasil yang lebih, dari hasil yang lebih tersebut terus diputar sampai pada pencapaian keuntungan yang maksimal (profit) dari modal yang kita miliki yang pada akhirnya tercapailah suatu optimalisasi dari modal tersebut.

Hadits yang berkaitan dengan prinsip produksi.

HR Bukhari Muslim – “Tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan, kecuali jika makanan itu diperolehnya dari hasil jerih payahnya sendiri. Jika ada seseorang di antara kamu mencari kayu bakar, kemudian mengumpulkan kayu itu dan mengikatnya dengan tali lantas memikulnya di punggungnya, sesungguhnya itu lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain.”

HR Thabrani dan Dailami – “Sesunggguhnya Allah sangat suka melihat hamba-Nya yang berusaha mencari rezeki yang halal”

HR Thabrani – “Berusaha mencari rezeki halal adalah wajib bagi setiap muslim”

Hadit diatas menjelaskan tentang prinsip produksi dalam Islam yang berusaha mengolah bahan baku (dalam hal ini kayu bakar) untuk dapat digunakan untuk penyulut api (kompor pemanas makanan) dan dari kompor yang dipanaskan oleh kayu bakar ini menghasilkan suatu makanan yang dapat dikonsumsi. Nampaklah bahwa terjadi siklus produksi dari pemanfaatan input berupa kayu bakar yang melalui proses sedemikian rupa berupa pemanasan makanan yang pada akhirnya menghasilkan output berupa makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.

HR Bukhari – Nabi mengatakan, “Seseorang yang mempunyai sebidang tanah harus menggarap tanahnya sendiri, dan jangan membiarkannya. Jika tidak digarap, dia harus memberikannya kepada orang lain untuk mengerjakannya. Tetapi bila kedua-duanya tidak dia lakukan – tidak digarap, tidak pula diberikan kepada orang lain untuk mengerjakannya – maka hendaknya dipelihara/dijaga sendiri. Namun kami tidak menyukai hal ini.”

Hadits tersebut memberikan penjelasn tentang pemanfaatan faktor produksi berupa tanah yang merupakan faktor penting dalam produksi . Tanah yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah dan dimanfaatkan tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW karena tidak bermanfaat bagi sekelilingnya. Hendaklah tanah itu diagrap untuk dapat ditanami tumbuhan dan tanaman yang dapat dipetik hasilnya ketika panen dan untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, penggarapan bisa dilakukan oleh si empunya tanah atau diserahkan kepada orang lain.

Faktor Produksi

Dalam pandangan Baqir Sadr (1979), ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: Perbedaan ekonomi islam dengan ekonomi konvesional terletak pada filosofi ekonomi, bukan pada ilmu ekonominya. Filosofi ekonomi memberikan pemikiran dengan nilai-nilai islam dan batasan-batasan syariah, sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisis ekonomi yang dapat digunakan. Dengan kata lain, faktor produksi ekonomi islam dengan ekonomi konvesional tidak berbeda, yang secara umum dapat dinyatakan dalam :

a. Faktor produksi tenaga kerja

b. Faktor produksi bahan baku dan bahan penolong

c. Faktor produksi modal

Di antara ketiga factor produksi, factor produksi modal yang memerlukan perhatian khusus karena dalam ekonomi konvesional diberlakukan system bunga. Pengenaan bunga terhadap modal ternyata membawa dampak yang luas bagi tingkat efisiansi produksi. ‘Abdul-Mannan mengeluarkan modal dari faktor produksi perbedaan ini timbul karena salah satu da antara dua persoalan berikut ini: ketidakjelasan anttara faktor-faktor yang terakhir dan faktor-faktor antara, atau apakah kita menganggap modal sebagai buruh yang diakumulasikan, perbedaan ini semakin tajam karena kegagalan dalam memadukan larangan bunga(riba) dalam islam dengan peran besar yang dimainkan oleh modal dalam produksi.

Kegagalan ini disebabkan oleh adannya prakonseps kapitalis yang menyatakan bahwa bunga adalah harga modal yang ada dibalik pikiran sejumlah penulis. Negara merupakan faktor penting dalam produksi, yakni melalui pembelanjaannya yang akan mampu meningkatkan produksi dan melalui pajaknya akan dapat melemahkan produksi.

Pemerintah akan membangun pasar terbesar untuk barang dan jasa yang merupakan sumber utama bagi semua pembangunan. Penurunan belanja negara tidak hanya menyebabkan kegiatan usaha menjadi sepi dan menurunnya keuntungan, tetapi juga mengakibatkan penurunan dalam penerimaan pajak. Semakin besar belanja pemerintah, semakin baik perekonomian karena belanja yang tinggi memungkinkan pemerintah untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan bagi penduduk dan menjamin stabilitas hukum, peraturan, dan politik. Oleh karena itu, untuk mempercepat pembangunan kota, pemerintah harus berada dekat dengan masyarakat dan mensubsidi modal bagi mereka seperti layaknya air sungai yang membuat hijau dan mengaliri tanah di sekitarnya, sementara di kejauhan segalanya tetap kering.

Faktor terpenting untuk prospek usaha adalah meringankan seringan mungkin beban pajak bagi pengusaha untuk menggairahkan kegiatan bisnis dengan menjamin keuntungan yang lebih besar (setelah pajak). Pajak dan bea cukai yang ringan akan membuat rakyat memiliki dorongan untuk lebih aktif berusaha sehingga bisnis akan mengalami kemajuan. Pajak yang rendah akan membawa kepuasan yang lebih besar bagi rakyat dan berdampak kepada penerimaan pajak yang meningkat secara total dari keseluruhan penghitungan pajak.

Produksi Dengan Tekhnologi Konstan

Konsep produksi yang sesuai dengan nilai islam adalah konsep yang menganggap bahwa tekhnologi berproduksi adalah konstan, tekhnologi yang memanfaatkan sumberdaya manusia sedemikian rupa sehingga manusia mampu meningkatkan harkat kemanusiaannya. Permasalahan produksi bukanlah mencari tekhnologi berproduksi sedemikian rupa sehingga memberikan keuntungan maksimum, melainkan mencari jenis output apa, dari berbagai kebutuhan manusia, yang bisa di produksi dengan tekhnologi yang sudah ada sehinga memperoleh mashlahah maksimum.

Pola Produksi

Berdasarkan pertimbangan kemashlahatan (altruistic considerations) itulah, menurut Muhammad Abdul Mannan, pertimbangan perilaku produksi tidak semata-mata didasarkan pada permintaan pasar (given demand conditions). Kurva permintaan pasar tidak dapat memberikan data sebagai landasan bagi suatu perusahaan dalam mengambil keputusan tentang kuantitas produksi. Sebaliknya dalam sistem konvensional, perusalas arikan kebebasan untuk berproduksi, namun cenderung terkonsentrasi pada output yang menjadi permintaan pasar (effective demand), sehingga dapat menjadikan kebutuhan riil masyarakat terabaikan.

Dari sudut pandang fungsional, produksi atau proses pabrikasi (manufacturing) merupakan suatu aktivitas fungsional yang dilakukan oleh setiap perusahaan untuk menciptakan suatu barang atau jasa sehingga dapat mencapai nilai tambah (value added). Dari fungsinya demikian, produksi meliputi aktivitas produksi sebagai berikut; apa yang diproduksi, berapa kuantitas produksi, kapan produksi dilakukan, mengapa suatu produk diproduksi, bagaimana proses produksi dilakukan dan siapa yang memproduksi?

Berikut akan dijelaskan sekilas mengenai ketujuh aktivitas produksi.

  1. Apa yang diproduksi

Terdapat dua pertimbangan yang mendasari pilihan jenis dan macam suatu produk yang akan diproduksi; ada kebutuhan yang harus dipenuhi masyarakat (primer, sekunder, tertier) dan ada manfaat positif bagi perusahan dan masyarakat (harus memenuhi kategori etis dan ekonomi)

  1. Berapa kuantitas yang diproduksi; bergantung kepada motif dan resiko

Jumlah produksi di pengaruhi dua faktor; intern dan ekstern; faktor intern meliputi sarana dan prasarana yang dimiliki perusahan, faktor modal, faktor SDM, faktor sumber daya lainnya. Adapun faktor ekstern meliputi adanya jumlah kebutuhan masyarakat, kebutuhan ekonomi, market share yang dimasuki dan dikuasai, pembatasan hukum dan regulasi.

  1. Kapan produksi dilakukan Penetapan waktu produksi, apakah akan mengatasi kebutuhan eksternal atau menunggu tingkat kesiapan perusahaan.
  2. Mengapa suatu produk diproduksi
  3. Dimana produksi itu dilakukan
    1. Kemudahan memperoleh suplier bahan dan alat-alat produksi
    2. Murahnya sumber-sumber ekonomi
    3. Akses pasar yang efektif dan efisien
    4. Biaya-biaya lainnya yang efisien
  4. Bagaimana proses produksi dilakukan: input- proses – out put – out come
  5. Siapa yang memproduksi; negara, kelompok masyarakat, individu
  1. Alasan ekonomi
  2. Alasan kemanusiaan
  3. Alasan politik

Dengan demikian masalah barang apa yang harus diproduksi (what), berapa jumlahnya (how much), bagaimana memproduksi (how), untuk siapa produksi tersebut (for whom), yang merupakan pertanyaan umum dalam teori produksi tentu saja merujuk pada motifasi-motifasi Islam dalam produksi.

Etika Produksi

Etika sebagai praktis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktikan atau justru tidak dipraktikan, walaupun seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Secara filosofi etika memiliki arti yang luas sebagai pengkajian moralitas. Terdapat tiga bidang dengan fungsi dan perwujudannya yaitu etika deskriptif (descriptive ethics), dalam konteks ini secara normatif menjelaskan pengalaman moral secara deskriptif berusaha untuk mengetahui motivasi, kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam tingkah laku manusia. Kedua, etika normatif (normative ethics), yang berusaha menjelaskan mengapa manusia bertindak seperti yang mereka lakukan, dan apakah prinsip-prinsip dari kehidupan manusia. Ketiga, metaetika (metaethics), yang berusaha untuk memberikan arti istilah dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk membenarkan pernyataan-pernyataan etika.

Metaetika mempertanyakan makna yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang dipakai untuk membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan. Apa yang mendasari para pengambil keputusan yang berperan untuk pengambilan keputusan yang tak pantas dalam bekerja? Para manajer menunjuk pada tingkah laku dari atasan-atasan mereka dan sifat alami kebijakan organisasi mengenai pelanggaran etika atau moral. Karenanya kita berasumsi bahwa suatu organisasi etis, merasa terikat dan dapat mendirikan beberapa struktur yang memeriksa prosedur untuk mendorong oragnisasi ke arah etika dan moral bisnis. Organisasi memiliki kode-kode sebagai alat etika perusahaan secara umum. Tetapi timbul pertanyaan: dapatkah suatu organisasi mendorong tingkah laku etis pada pihak manajerial-manajerial pembuat keputusan.

Jika kita berbicara tentang nilai dan akhlak dalam ekonomi dan mu’amalah Islam, maka tampak secara jelas di hadapan kita empat nilai utama,yaitu: Rabbaniyah (Ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan dan Pertengahan. Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan (keunikan) yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam. Makna dan nilai-nilai pokok yang empat ini memiliki cabang, buah, dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di bidang harta berupa produksi, konsumsi, sirkulasi, dan distribusi.

Raafik Isaa Beekun dalam bukunya yang berjudul Islamic Bussines Ethics menyebutkan paling tidak ada sejumlah parameter kunci system etika Islam yang dapat dirangkum sbb:

  • Berbagai tindakan ataupun keputusan disebut etis bergantung pada niat individu yang melakukannya. Allah Maha Kuasa an mengetahui apapun niat kita sepenuhnya secara sempurna.
  • Niat baik yang diikuti tindakan yang baik akan dihitung sebagai ibadah. Niat yang halal tidak dapat mengubah tindakan yang haram menjadi halal.
  • Islammemberikan kebebasan kepada individu untuk percaya dan bertindakberdasarkan apapun keinginannya, namun tidak dalam hal tanggungjawab keadilan.
  • PercayakepadaAllah SWT memberi individu kebebasan sepenuhnya dari hal apapun atau siapapun kecuali Allah.
  • Keputusan yang menguntungkan kelompok mamyoritas ataupun minoritas secara langsung bersifat etis dalam dirinya.etis bukanlahpermainan mengenai jumlah.
  • Islam mempergunakan pendekatan terbuka terhadap etika, bukan sebagai system yang tertutup, dan berorientasi diri sendiri.Egoisme tidak mendapat tempat dalam ajaran Islam.
  • Keputusan etis harus didasarkan pada pembacaan secara bersama-sama antara Al-Qur’an dan alam semesta.
  • Tidak seperti system etika yang diyakini banyak agama lain, Islam mendorong umat manusia untuk melaksanakan tazkiyah melalui partisipasi aktif dalam kehidupan ini. Dengan berprilaku secara etis di tengah godaan ujian dunia, kaum Muslim harus mampu membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT.

Fungsi Produksi

Berikut ini beberapa asumsi dasar yang melandasi analisa fungsi produksi dalam pandangan konvensional, yaitu:

  1. Kegiatan produksi tidak hanya dilakukan terbatas oleh perusahaan saja. Misalnya  memelihara taman depan rumah sehingga asri (mengkombinasikan mesin, tenaga kerja, tanah dan keahlian) juga termasuk kegiatan produksi (dilakukan oleh rumah tangga). Dengan demikian maka bahasan utama dalam ekonomi konvensional adalah kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan atau suatu organisasi dengan bentuk badan hukum tertentu yang bertujuan mencari keuntungan.
  2. Kondisi pasar yang eksis dalam industri adalah pasar persaingan sempurna. Sehingga dengan asumsi ini output setiap perusahaan merupakan bagian kecil dari keseluruhan output yang dibutuhkan oleh pasar.
  3. Setiap perusahaan bebas keluar-masuk dalam industri (free entry-exit). Implikasi dari asumsi ini adalah adanya tarikan yang  kuat pada industri yang memiliki tingkat keuntungan yang tinggi.

Biaya (Cost)

Secara umum biaya dikelompokkan menjadi dua bagian:

  1. Biaya implisit: biaya yang diakui tanpa mengeluarkan uang kas secara nyata, contohnya penyusutan dan opportunity cost.
  2. Biaya  eksplisit: biaya yang dengan jelas mengeluarkan uang kas, dalam jangka pendek terdiri dari:
  • Biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost)
  • Biaya total (total cost) terdiri dari total biaya tetap (total fixed cost) dan total biaya variabel (total variable cost)

(TC) = TFC + TVC

  • Biaya rata-rata (average cost) terdiri dari biaya tetap rata-rata (average fixed cost) dan biaya variabel rata-rata (average variable cost)

ATC/AC = AFC + AVC

ATC/TC=TC/Q=TFC/Q=TVC/Q

  • Biaya marginal, biaya tambahan dari  satu unit output yang dihasilkan yang direpresentasikan dari turunan pertama biaya total

Untuk memproduksi suatu barang (q) dapat diformulasikan q = f(K,L) yang menunjukkan jumlah maksimum barang yang dapat diproduksi dengan menggunakan berbagai alternatif kombinasi input modal (K) dan tenaga kerja (L).

Gambar 2 Fungsi Produksi Modal-Tenaga Kerja (Isoquant)

Kombinasi dua jenis faktor produksi yang memberikan tingkat hasil yang sama ditunjukkan dalam kurva isoquant seperti gambar 2 diatas. Sumbu vertikal adalah modal yang direpresentasikan dengan mesin (per jam) dengan sumbu horizontal tenaga kerja (per jam). Pada gambar 2 semakin jauh  isoquant dari titik origin semakin besar jumlah output yang dihasilkan dan semakin banyak jumlah input yang digunakan.

Dalam produksi jangka panjang seluruh faktor produksi seluruhnya bersifat variabel atau

dengan kata lain tidak terdapat lagi biaya tetap seperti halnya produksi dalam jangka pendek. Perusahaan dapat memilih kombinasi penggunaan input sesuai dengan skala produksi yang diharapkannya. Dalam hal penambahan faktor input produksi maka implikasi dari hal tersebut adalah perubahan dari output produksi sebagai variabel dependen produksi. Ada tiga fenomena yang biasanya muncul akibat penambahan faktor produksi yang berkaitan dengan ouput produksi, yaitu:

  1. Skala hasil yang tetap (constant return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang sama dengan penambahan input
  2. Skala hasil yang meningkat (increasing return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan penambahan input
  3. Skala hasil yang menurun (decreasing return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang lebih kecil dibandingkan dengan penambahan input

 

Pendapatan (Revenue)

Salah satu parameter keberhasilan dalam berproduksi adalah jumlah pendapatan (revenue) yang didapatkan dari kegiatan produksi. Pendapatan (revenue) dapat dinotasikan dengan:

TR = Pd x Q

Dalam kaitannya dengan penghitungan keuntungan maka diperlukan nilai marginal (tambahan satu unit) dari pendapatan yaitu marginal revenue (MR)

MR = TR’

MR = Δ TR / ΔQ

Berdasarkan asumsi pasar dalam keadaan sempurna maka kurva umum dari MR adalah garis horizontal yang nilainya sama dengan permintaan (D), pendapatan rata-rata (AR) dan harga (P).

Keuntungan (Profit)

Dengan berdasarkan ke tiga asumsi produksi konvensional maka tujuan utama perusahaan dalam industri dapat dinotasikan dengan:

Profit = Total Revenue – Total Production Cost

Dalam pandangan Islam profit bukanlah  satu-satunya dan tujuan utama dalam

berproduksi (telah dijelaskan diatas). Begitu pula fungsi profit menurut Islam yang muatannya berbeda dengan pandangan konvensional, antara lain mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. 1. Zakat Perniagaan

Tingkat  rate nya 2,5% yang diwajibkan bagi  penjualan yang telah memenuhi dua kriteria:

  1. Batas minimal (nisab) setara dengan 96 gram emas
  2. Masa kepemilikan (haul) lebih dari 1 tahun

Objek zakat perniagaan adalah profit (revenue minus cost). Beberapa pandangan para ulama mengenai komponen biaya dalam hal ini antara lain:

  • Biaya tetap diperhitungkan sehingga yang menjadi objek zakat adalah economic rent
  • Hanya biaya variabel saja yang diperhitungkan atau quasi rent.

Berdasarkan pandangan yang manapun, zakat perniagaan tidak sama sekali memberikan pengaruh terhadap ATC, yang berarti tidak pula berpengaruh terhadap laba yang dihasilkan. Pada kurva MC zakat perniagaan juga tidak memberikan pengaruh sehingga kurva penawaran tidak akan berubah.

Di sisi lain pajak penjualan yang umumnya dibebankan dalam penjualan justru akan

berpengaruh terhadap:

  • Turunnya laba atau keuntungan
  • Turunnya tingkat laba maksimum
  • Berkurangnya jumlah barang yang diproduksi.
  1. 2. Biaya Eksternal

Dalam konvensional berdasarkan asumsi maksimalisasi keuntungan yang hendak dicapai mendorong produsen melimpahkan sebagian biaya yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak lain yang disebut biaya eksternal. Contoh dari biaya eksternal adalah biaya penyaringan limbah atau daur ulang buangan pabrik yang mengakibatkan biaya kesehatan tambahan  bagi masyarakat sekitar atau biaya hilangnya lingkungan yang bersih yang menjadi hak masyarakat. Tindakan tersebut dalam Islam adalah  zhalim dan tidak adil, pandangan adil dalam Islam diterjemahkan menjadi:

  1. Dilarang melakukan mafsadah
  2. Dilarang melakukan ghoror
  3. Dilarang melakukan maisir
  4. Dilarang melakukan transaksi riba

Dengan demikian menimbulkan biaya eksternalitas yang buruk bagi masyarakat sama halnya melanggar prinsip adil yang pertama dalam Islam. Sehubungan dengan prinsip tersebut maka biaya eksternalitas yang buruk dalam Islam adalah biaya internalitas yang merupakan tanggung jawab produsen sepenuhnya. Sehingga di dapatlah fungsi keuntungan dalam Islam sebagai berikut:

Profit  – Zakat= Total Revenue – Total Cost (Production Cost* + External Cost)

Kekayaan menurut konsep Abdurrahman Ibnu Khaldun

Jika merujuk kepada konsep kekayaan yang di kemukakan oleh Ibnu Khaldun[13], menegaskan bahwa kekayaan suatu Negara tidak di tentukan oleh banyaknya uang di Negara tersebut. Kekayaan suatu Negara di tentukan oleh dua hal[14]:

  1. Tingkat produksi domestik
  2. Tingkat pembayaran yang positif dari negara tersebut.

Jika menilik pada kondisi di Indonesia memang factor produksi menjadi salah satu masalah yang sampai saat ini belum bisa di atasi. Kendala-kendala yang muncul dalam produksi domestic seperti tidak berujung. Mulai dari ketidaksiapan sumber daya manusianya dalam memaksimalkan potensi alam yang ada, permodalan yang cukup sulit teralirkan secara merata ke masyarakat yang membutuhkan, juga ketidaksiapan bidang penyediaan teknologi, serta kurang nya peran sosialisasi pemerintah bidang produksi terkait untuk memberikan pengetahuan yang bisa meningkatkakan efisiensi produksi dan pemaksimalan hasil produksi.

Seperti yang dilansir oleh Kompas edisi selasa 14 september 2010, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menyatakan, bahwa tahun ini produksi komoditas pertanian terutama tanaman pangan mengalami masalah serius.  Dan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu  mengisyaratkan bahwa kenaikan Impor komoditas pangan di Indonesia akan semakin meningkat [15].  Hal ini cukup mencengangkan yang mana Indonesia merupakan Negara Agraris, tetapi masih mengimpor komoditas pangan ke Negara lain.

Tingkat produksi di Indonesia masih rendah. Padahal sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya[16].

Dalam teori ekonomi kemampuan untuk memproduksi sesuatu di gambarkan oleh grafik. Misalnya, orang memiliki pilihan untuk memproduksi dua jenis barang, X dan Y dengan sumber daya yang dimilikinya. Maka sumbu X untuk menggambarkan kemampuan memproduksi barang X. Dan sumbu Y menggambarkan kemampuan memproduksi barang Y. Kurva Possible Production Frontier (PPF) menggambarkan tingkat produksi maksimal yang mungkin dicapai sumber daya yang dimiliki. Semakin besar PPF berarti semakin tinggi tingkat produksinya, dan semkin tinggi tingkat produksi maka semakin tinggi tingkat kekayaan Negara tersebut.

Yang terjadi saat ini, seperti yang di ungkapkan oleh Badan Pusat statistik dalam angka ramalan II memperkirakan beberapa produksi komoditas pangan di Indonesia akan turun[17]. Sedangkan import dari komoditas tersebut semakin naik, dikarena kan kebutuhan masyarakat terhadap komunitas pangan ittu masih tetap meningkat sedangkan Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Hal in mengindikasikan kemampuan memproduksi suatu komoditas di Indonesia masih di bawah PPF yang telah di tentukan. Yang juga berarti bahwa tingkat kekayaan Negara Indonesia adalah rendah.

Indikator lain yang menunjukan tingkat kekayaan Negara menurut Ibn Khaldun adalah neraca pembayaran yang positif. Hal ini disebabkan pembayaran yang positif menggambarkan 2 hal:  (pertama) tingkat produksi Negara tersebut untuk suatu jenis komoditas lebih tinggi daripada tingkat permintaan domestic Negara tersebut, atau supply lebih besar disbanding demand, sehingga memungkinkan Negara tersebut melakukan eksport. Hal ini pernah terjadi pada tahun-tahun masa pemerintahan Orde Baru di Negara Indonesia, ketika mencapai swasembada beras, dan akhirnya bisa eksport beras ke Negara tetangga. (Kedua), tingkat efesiensi produksi Negara tersebut lebih tinggi dibandingkan Negara lain. Dengan tingkat efesiensi yang lebih tinggi maka komoditas suatu Negara mampu masuk ke Negara lain dengan harga yang lebih kompetitif.

Dalam teori Ibn Khaldun bahwa Negara yang melakukan perdagangan internasional akan menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih baik di bandingkan dengan Negara yang tidak melakukannya. Dalam teori ekonomi, hal ini dikenal dengan istilah gain from trade. Tanpa adanya perdagangan, maka tingkat kesejahteraan tertinggi dicapai ketika kurva utilitas bersinggungan dengan PPF, yaitu pada titik autarky pau (titik memenuhi kemampuan sendiri). sedangkan adanya perdagangan mendorong kurva utulitas ketingkat yang lebih tinggi yang tidka mungkin di capai oleh PPF. Pada titik autarky, relative price digambarkan dengan harga (price line) Pau. Saat efesiensi produktifitas tinggi, maka produsen memiliki kemungkinan untuk memperoleh kelebihan produksi, dan kelebihan itu bisa di perdagangkan dengan harga yang berlaku. Maka dengan price line yang baru ini, produsen dapat menaikan utilitasnya.

Penutup

Kesimpulan

Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk mengahasilkan barang dan jasa kegiatan produksi  melibatkan banyak faktor produksi. Beberapa implikasi mendasar  bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan, antara lain : Seluruh kegiatan produksi  terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami, kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan, permasalahan ekonomi  muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks.

Daftar Pustaka

Adiwarman Karim. 2007. Ekonomi Mikro Islami, PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Arthur Thompson and John, Formby. 1993. Economics of the Firm: Theory and practice, Prentice Hall. New Jersey.

Metwally. 1995. Teori dan Model Ekonomi Islam, PT. Bangkit Daya Insana. Jakarta

Hendrie Anto. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Jalasutra. Yogyakarta

Agustianto.Etika Produksi Dalam Islam, http://agustianto.niriah.com/2008/10/04/etika-produksidalam-islam

Aziz Budi Setiawan. Instrumen Ekonomi Syariah Untuk Transformasi Masyarakat

Ali Hasan. Meneguh Kembali Konsep Produksi Dalam Ekonomi Islam

http://pmiikomfaksyahum.wordpress.com/2008/04/02/meneguhkan-kembali-konsep-produksidalam-ekonomi-islam

Bambang Rudito & Melia Famiola, 2007. Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Indonesia

Hermant Laura Pincus, 1998. Perspective in Business Ethics, Irvin McGraw Hill

Khaerul. Produksi dan Konsumsi Dala Al Qur’an, http://khaerul21.wordpress.com/2009/05/17/produksidan- konsumsi-dalam alquran.

Khatimah Husnul , Teori Produksi Islam, Kafe Syariah.net

M.A. Mannan, “The Behaviour of The Firm and Its Objective in an Islamic Framework”,

Readings in Microeconomics: An Islamic Perspektif, Longman Malaysia (1992)

Merza Gamal. http://www.opensubscriber.com/messages/ekonomi

syariah@yahoogroups.com/90.html

UII, dan BI. Ekonomi Islam, (P3EI).

Zainudin Muhammad. Konsep Produksi dalam ekonomi islam, http://muhamadzainudindzay.

blogspot.com/2009/05/konsep-produksi-dalam-ekonomi-islam.html


[1] Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 2007, hal.102

[2] A production function dewscribes the relationship between the quantity of output obtainable per period on time, lihat di Arthur Thompson and John, Formby, Economics of the Firm : Theory and practice, (New Jersey : Prentice Hall, 1993)

[3] Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam, (Jakarta : PT. Bangkit Daya Insana), 1995, hal. 4

[4] Kompas. Selasa 14 September 2010. Hal. 17

[5] Kompas. Selasa 14 September 2010. Hal. 18

[6] Husnul khatimah, Teori Produksi islam, Kafe Syariah.net

[8] Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta : Jalasutra), 2003, hal. 156

[9] Ibid., hal. 157-158

[10] Lihat Al-Qur’an Surat Ibrahim 32-34 :3

[11] Konsep efisiensi dapat dirasakan secara intuitif. Contoh keadaan  tidak efisien adalah masyarakat yang tidk memanfaatkan sepenuhnya batas kemungkinan produksinya. Misalnya orang membawa hasil produksinya ke pasar untuk ditukarkan dengan barang orang lain, setiap kali terjadi pertukaran maka nilai guna barang kedua pihak akan naik, bila semua kemungkinan pertukaran yang menguntungkan telah habis sehingga tidak ada lagi kenaikan nilai guna, maka dapat dikatakan bahwa keadaan telah mencapai efisien.

[13] Seorang ulama terkemuka kelahiran Tunisia (1332) dan wafat di Kairo (1406)

[14] Adiwarman. Ekonomi Mikro Islam.  Edisi 3. PT. Rajagrafindo persada. Jakarta. 2007. Hal. 122

[15] Kompas. Selasa 14 September 2010. Hal. 18

[16] Adiwarman. Ekonomi Mikro Islam.  Edisi 3. PT. Rajagrafindo persada. Jakarta. 2007. Hal. 122

[17] Kompas. Selasa 14 September 2010. Hal. 18

About these ads

2 thoughts on “Teori Produksi Islami; Kekayaan menurut konsep Abdurrahman Ibnu Khaldun

  1. Pingback: Teori Produksi Islami | Dedycber.com

  2. assalamualaikm wr.wb
    makasih atas materi biaya produksinya, sangat menarik karena dilengkapi dengan hadist-hadist nya … slm semangat
    ALLAHU AKBAR (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s